Dituduh jual bantuan combine harvester, Ketua Poktan Nangka Tiga Dompu: Itu fitnah

Bantuan mesin pemotong padi untuk Poktan Nangka Tiga Desa Matua Kabupaten Dompu.

kicknews.today – Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa combine harvester atau mesin panen padi untuk Kelompok Tani Nangka Tiga di Desa Matua, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), menuai polemik.

Ketua Kelompok Tani Nangka Tiga, M Ali, dituding telah menjual mesin bantuan dari Kementerian Pertanian tersebut kepada pihak lain. Namun, tuduhan itu dibantah keras oleh M Ali yang menyebutnya sebagai fitnah tanpa dasar.

“Tidak ada yang jual bantuan itu. Itu fitnah yang tidak mendasar,” tegas M Ali saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).

M Ali menyayangkan tuduhan tersebut, terlebih setelah dimuat di sejumlah media online. Ia mengaku tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan klarifikasi atau hak jawab guna menjaga keberimbangan pemberitaan, mengingat isu tersebut menyangkut nama baiknya.

Ia pun meminta agar setiap tuduhan disertai bukti yang jelas. Menurutnya, jika memang ditemukan pelanggaran, persoalan tersebut sebaiknya dilaporkan kepada aparat penegak hukum (APH).

“Kalaupun saya melanggar, silakan laporkan ke APH. Gak baik menuduh tanpa bukti,” ujarnya.

M Ali menjelaskan, mesin panen bantuan tersebut sebelumnya disimpan di salah satu kebun di Dusun Selaparang, Desa Matua. Keputusan itu diambil karena lokasi tersebut dinilai lebih aman, sementara kelompok tani tidak memiliki pekarangan yang memadai untuk menyimpan alat berukuran besar itu.

Ia menegaskan, penyimpanan di luar wilayah kelompok bukan berarti mesin tersebut hendak dijual atau dialihkan kepada pihak lain.

“Saya simpan di kebun, karena lebih aman. Kalau disimpan di rumah gak ada tempat. Pihak lain yang disebut membeli alat itu sudah membantah tuduhan itu,” jelasnya.

Polemik tersebut kemudian mendapat perhatian Pemerintah Desa Matua. Persoalan itu kembali dibahas dalam pertemuan antara ketua kelompok tani, kepala desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Kepala Dusun Samili di kantor desa beberapa hari lalu.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa mesin panen bantuan itu dipindahkan dan disimpan di wilayah Dusun Samili, agar keberadaan alat lebih mudah diketahui oleh masyarakat dan anggota kelompok tani penerima.

“Sekarang alat tersebut sudah saya bawa simpan di Dusun Samili. Karena pekarangan gak ada memadai, kami simpan di pinggir jalan raya,” kata M Ali.

Kepala Desa Matua, Firdaus, membenarkan bahwa Kelompok Tani Nangka Tiga menerima bantuan mesin panen padi tersebut. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara persis awal mula polemik hingga muncul isu bahwa alat bantuan itu telah dijual kepada pihak lain.

Untuk mencegah persoalan berkembang lebih jauh, Firdaus mengarahkan agar mesin tersebut disimpan di wilayah kelompok tani penerima bantuan.

“Biar masalahnya gak berlarut-larut, saya arahkan agar mesin itu disimpan di wilayah kelompok penerima. Tidak disimpan di tempat lain,” katanya.

Kepala Dusun Samili, Junaidin, juga menyatakan bahwa persoalan tersebut telah dibahas dan diselesaikan melalui pertemuan di kantor desa yang melibatkan pemerintah desa, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa.

Ia turut membantah isu penjualan mesin bantuan tersebut.

“Isu yang beredar mesin dijual ke pihak lain itu tidak benar,” tegasnya.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Desa Matua, Aiptu Wawan Darmawan juga memberikan klarifikasi terkait pemberitaan di salah satu media yang menyebut polemik antara ketua kelompok tani dan anggotanya belum menemukan titik terang.

Ia membantah pernah menyampaikan pernyataan seperti yang diberitakan. Menurutnya, tugas Bhabinkamtibmas dalam persoalan tersebut adalah menjaga keamanan dan memastikan situasi di tengah masyarakat tetap kondusif.

“Saya tidak pernah berbicara seperti itu seperti yang diberitakan. Itu juga bukan ranah saya. Tugas saya hanya mengamankan. Memastikan kondisi di masyarakat aman dan kondusif,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI