Dilengkapi IGD hingga ICU, Rumah Sakit Rabita di Sape Bima mulai buka pelayanan 

Rumah Sakit Rabita di Kecamatan Sape Kabupaten Bima.
kicknews.today – Kabar gembira bagi masyarakat Kabupaten Bima, khususnya wilayah Bima Timur. Rumah Sakit Rabita atau Raja Bima Medika Utama (Rabita Hospital), rumah sakit swasta pertama di Kabupaten Bima, siap membuka pelayanan perdana pada Kamis (24/9/2026).
Rumah sakit yang berdiri di Jalan Lintas Pelabuhan Sape, Desa Oi Maci, Kecamatan Sape itu menempati bangunan dua lantai, tepat di depan Puskesmas Plus Sape.
Kehadiran RS Rabita diharapkan menjadi salah satu pilihan baru bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, nyaman dan didukung fasilitas medis yang lebih lengkap.
Pembangunan rumah sakit tersebut dimulai sejak awal 2025. Sejumlah fasilitas telah disiapkan, mulai dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang rawat inap, ICU, ruang isolasi, laboratorium, radiologi, poliklinik hingga farmasi.
Tidak hanya mengandalkan fasilitas, RS Rabita juga menyiapkan tenaga medis profesional. Pada tahap awal, rumah sakit ini didukung lima dokter umum serta tenaga spesialis yang mencakup penyakit dalam, anak, kandungan, bedah, anestesi, radiologi, saraf, paru, jantung, mata hingga bedah mulut.
Direktur RS Rabita, dr. Insan Rizkillah, mengatakan sebanyak sekitar 60 tenaga medis dan nonmedis, mulai dari dokter hingga perawat, telah disiapkan untuk mendukung pelayanan pada awal operasional.
“RS Rabita siap memberikan pelayanan kesehatan yang ramah dan nyaman bagi masyarakat di Bima,” kata Insan.
Menurutnya, RS Rabita akan memberikan pelayanan selama 24 jam dengan dukungan sarana dan prasarana yang telah dipersiapkan. Tenaga medis didatangkan dari sejumlah daerah, mulai dari Kota Bima, Dompu, Sumbawa hingga Mataram.
“Di tiga bulan pertama kami siapkan empat dokter. Setelah itu, 11 dokter spesialis didatangkan,” jelasnya.
Insan menambahkan, RS Rabita sejak jauh hari telah melakukan berbagai persiapan sebelum membuka layanan. Para tenaga medis maupun nonmedis diberikan pelatihan, mulai dari hospitality, service excellent, pelayanan pasien, keterampilan dasar keperawatan hingga kebidanan.
Ke depan, RS Rabita ditargetkan berkembang menjadi rumah sakit swasta tipe C dan menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi masyarakat, selain RSUD Bima.
“RS Rabita bukan sekadar tempat berobat. Bagaimana masyarakat bisa mendapatkan layanan yang ramah dan nyaman menjadi tujuan utama kami,” tegasnya.
Komisaris PT Rabita, Dr. Hermawan Saputra, SKM, MARS, CICS, mengatakan gagasan membangun rumah sakit tersebut sebenarnya telah muncul sejak lama. Namun, baru pada 2025 pembangunan dapat direalisasikan.
Menurut Hermawan, lokasi RS Rabita sangat strategis karena berada di kawasan Bima Timur yang menjadi jalur penghubung antara wilayah NTB dan NTT.
“Ide membangun RS Rabita di Bima sebenarnya sudah lama, namun baru sekarang terealisasi. Keberadaan RS Rabita ini juga sangat strategis karena berada di wilayah penghubung dua provinsi, yakni NTB dan NTT,” ujarnya, Rabu (23/9/2026).
Hermawan mengatakan pembangunan rumah sakit tersebut salah satunya didorong oleh kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih cepat dan komprehensif.
Wilayah Sape dan Lambu, kata dia, merupakan kawasan dengan jumlah penduduk yang cukup besar. Selain itu, masyarakat dari Kecamatan Wawo, Lambitu, Wera hingga Ambalawi juga menjadi bagian dari cakupan pelayanan yang diharapkan dapat dijangkau RS Rabita.
“Sape dan Lambu salah satu wilayah padat penduduk di Bima. Masyarakat di sini sangat membutuhkan layanan kesehatan cepat, berkualitas dan ramah tamah,” tuturnya.
Ia juga menilai Bima Timur memiliki potensi sumber daya manusia kesehatan yang cukup besar. Banyak tenaga dokter, apoteker, perawat dan bidan berasal dari wilayah tersebut.
“SDM di Bima Timur sebenarnya sangat bagus. Lulusan dokternya banyak, apoteker, apalagi perawat dan bidan. Keberadaan mereka tidak cukup kalau hanya sekadar ditampung di Puskesmas maupun rumah sakit. Itulah yang mendorong RS Rabita hadir di Bima,” jelas Hermawan.
Nama Rabita juga memiliki makna tersendiri. Hermawan menjelaskan, Rabita merupakan singkatan dari Raja Bima Medika Utama.
Kata “Raja”, kata dia, diambil dari nama sang ayah, Rahmah Hijajih. Sementara Rabita juga memiliki makna yang berkaitan dengan doa dan persaudaraan.
“Rabita juga dikenal dengan nama doa. Dalam tradisi Islam, doa Rabitha itu untuk mempererat tali persaudaraan dan kasih sayang. Jadi, Rabita bukan sekadar rumah sakit, tapi juga wadah memperkuat ukhuwah islamiyah,” ujarnya.
Kehadiran RS Rabita mendapat apresiasi dari Bupati Bima Ady Mahyudi dan Wakil Bupati Bima dr. Irfan. Keduanya sebelumnya meninjau langsung progres pembangunan rumah sakit tersebut setelah kegiatan Selasa Menyapa di Kecamatan Sape.
Bupati Bima mengapresiasi keluarga besar Rabita yang mampu menghadirkan fasilitas kesehatan baru bagi masyarakat, khususnya di wilayah Bima bagian timur.
Dengan dibukanya RS Rabita, masyarakat Bima Timur kini memiliki tambahan akses pelayanan kesehatan dengan fasilitas yang lebih lengkap, sekaligus membuka peluang pengembangan layanan kesehatan dan sumber daya manusia di wilayah tersebut. (jr)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Juwair

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI