kicknews.today – Gelaran hari kedua The Final Round Pertamina Mandalika Racing Series 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit tidak hanya menjadi panggung persaingan para pembalap nasional untuk memperebutkan prestasi. Ajang ini sekaligus memperlihatkan perkembangan ekosistem motorsport Indonesia yang terus dibangun melalui kolaborasi antara penyelenggara, pengelola sirkuit, pemerintah, dan pihak swasta.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, Pertamina Mandalika Racing Series (MRS) menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah peserta, penambahan kelas perlombaan, hingga kualitas penyelenggaraan yang semakin profesional. Kejuaraan ini juga diproyeksikan menjadi salah satu jalur pembinaan bagi pembalap muda Indonesia sebelum melangkah ke kompetisi internasional.
CEO PRIDE Motorsport, Eddy Saputra mengungkapkan, penyelenggaraan MRS berawal dari komitmennya untuk menghadirkan wadah kompetisi balap motor nasional. Saat itu, salah satu tuntutan bagi federasi olahraga otomotif adalah menyelenggarakan kejuaraan nasional sebagai bagian dari pembinaan atlet.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Eddy kemudian menggagas penyelenggaraan kejuaraan balap motor di Sirkuit Mandalika melalui kolaborasi dengan Mandalika Grand Prix Association (MGPA).
Namun, perjalanan awal MRS tidak berjalan mudah. Pada tahun pertama, biaya penyelenggaraan satu seri balapan mencapai sekitar Rp1,2 miliar, sementara dukungan sponsor masih sangat terbatas. Bahkan, kegiatan tersebut sempat berjalan sekitar satu setengah tahun tanpa sponsor yang memadai.
Meski harus menghadapi risiko kerugian finansial, Eddy mengaku tetap mempertahankan penyelenggaraan kejuaraan tersebut karena kecintaannya terhadap dunia balap motor serta keinginan melahirkan pembalap-pembalap Indonesia yang mampu bersaing di level dunia.
“Memang passion saya di balap motor. Saya jalankan ini demi menciptakan pembalap-pembalap muda Indonesia. Kendalanya selalu masalah biaya karena semuanya serba mahal. Tetapi saya tetap berkomitmen untuk menjalankannya demi menghasilkan pembalap Indonesia yang bisa bersaing di dunia internasional,” ungkapnya, Sabtu (7/11/2026).
Dia menjelaskan, perkembangan MRS mulai terlihat ketika penyelenggaraan memasuki tahun kedua dan mendapat dukungan lebih luas. Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kejuaraan tersebut adalah penerapan sistem siaran televisi yang membuat kompetisi semakin dikenal publik dan menarik minat sponsor.
Seiring berjalannya waktu, jumlah kelas perlombaan dan peserta juga terus bertambah. Hal tersebut menjadi indikator bahwa MRS mulai berkembang sebagai salah satu kejuaraan nasional balap motor yang memiliki peran penting dalam pembinaan talenta otomotif Indonesia.
Sementara, Direktur Operasional MGPA, Donny Mahardjono menegaskan bahwa, keberhasilan penyelenggaraan MRS tidak terlepas dari kolaborasi antara PRIDE Motorsport dan MGPA. Dalam kerja sama tersebut, MGPA memberikan dukungan melalui penyediaan infrastruktur sirkuit, fasilitas elektronik balap berstandar internasional, hingga sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang penyelenggaraan balap.
Bahkan, personel yang bertugas dalam MRS merupakan sumber daya manusia yang juga terlibat dalam penyelenggaraan ajang internasional seperti MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Mandalika.
Dengan demikian, meskipun berstatus kejuaraan nasional, kualitas dukungan teknis dan penyelenggaraannya telah mengacu pada standar internasional.
“Seluruh komponen pendukungnya sudah berada di level internasional. Harapan kami, dari kejuaraan nasional inilah nantinya lahir pembalap-pembalap yang bisa melangkah ke kejuaraan internasional,” jelasnya.
Menurut Donny, MRS tidak sekadar menjadi tempat berkompetisi, tetapi juga ruang pembinaan bagi pembalap, tim, serta seluruh pelaku motorsport. Melalui kompetisi tersebut, para peserta diharapkan mendapatkan pengalaman dan pemahaman mengenai standar profesionalisme balap yang dibutuhkan untuk bersaing di jenjang lebih tinggi.
Sejumlah pembalap Indonesia yang kini mulai menembus kompetisi internasional, seperti Veda Ega Pratama, Ramadhipa, dan Aldi Satya Mahendra, menjadi gambaran pentingnya kesinambungan pembinaan talenta nasional.
Dukungan terhadap pengembangan motorsport nasional juga datang dari PT Pertamina (Persero). Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menyampaikan bahwa, keterlibatan Pertamina dalam MRS merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun ekosistem motorsport Indonesia, sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat pecinta otomotif untuk berkembang.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di dunia otomotif, mengingat jumlah pengguna sepeda motor yang mencapai lebih dari 100 juta unit. Potensi tersebut perlu didukung dengan fasilitas, kompetisi, serta pembinaan yang berkelanjutan agar mampu melahirkan atlet berprestasi.
Pertamina juga tidak ingin kehadirannya dalam dunia motorsport hanya sebatas dukungan promosi atau penguatan merek. Lebih dari itu, perusahaan ingin memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui pengembangan olahraga otomotif nasional.
“Pertamina hadir bukan hanya sekadar ingin dilihat sebagai sponsor, tetapi ingin membuktikan bahwa Pertamina menjadi sahabat sejati masyarakat pecinta dunia otomotif,” ujarnya.
Selain mendukung penyelenggaraan kompetisi, Pertamina turut memperkenalkan kualitas produknya melalui penggunaan Pertamax Turbo pada kendaraan operasional, mulai dari motor balap hingga safety car. Penggunaan produk tersebut menjadi bagian dari pembuktian kualitas bahan bakar produksi dalam negeri yang mampu mendukung kebutuhan kompetisi balap berstandar tinggi.
Di sisi lain, penyelenggaraan MRS juga dinilai memberikan kontribusi terhadap pengembangan pariwisata di kawasan Mandalika dan Lombok secara umum.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata RI, Hafiz Agung Rifai mengatakan, ajang tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi berbagai pihak mampu menghadirkan kegiatan olahraga yang memberikan dampak lebih luas terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Menurutnya, kehadiran pembalap, tim, keluarga, komunitas otomotif, hingga penonton turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Dampaknya dapat dirasakan oleh sektor perhotelan, restoran, UMKM, serta berbagai usaha pendukung pariwisata di sekitar kawasan Mandalika.
Dia menilai, keberadaan MRS juga penting untuk menjaga keberlanjutan aktivitas di Sirkuit Mandalika. Sebab, pengembangan kawasan tersebut tidak bisa hanya bergantung pada penyelenggaraan ajang internasional seperti MotoGP.
“Pertamina Mandalika Racing Series ini bisa mengisi kekosongan event di Sirkuit Mandalika. Kita tidak bisa hanya mengandalkan MotoGP saja. Dengan adanya variasi kegiatan, tentu akan semakin meningkatkan daya tarik Mandalika sebagai destinasi wisata,” katanya.
Hafiz menambahkan, Mandalika sebagai salah satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas nasional membutuhkan kegiatan yang berkelanjutan untuk menjaga daya tarik wisata sekaligus mendorong perputaran ekonomi daerah.
“Kami di Kementerian berharap kolaborasi penyelenggaraan MRS dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Selain memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism, ajang ini juga diharapkan semakin memperkenalkan Indonesia sebagai negara yang memiliki kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia untuk menjadi tuan rumah berbagai kompetisi internasional,” tutupnya. (gii/*)



