BMKG: Puncak musim hujan NTB mundur ke Maret 2027

ilustrasi hujan
ilustrasi hujan

kicknews.today – Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) diprediksi baru terjadi pada Maret 2027. Selain bergeser lebih lambat dibandingkan kondisi normal, musim hujan kali ini diperkirakan berlangsung lebih singkat.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Tri Putri Ganesh, mengatakan sebanyak 21 dari 27 Zona Musim (ZOM) di NTB diprediksi mencapai puncak musim hujan pada Maret. Sementara dua zona lainnya mencapai puncak pada Januari dan empat zona pada Februari 2027.

“Jadi, dominan puncak musim berada pada Maret 2027,” kata Ganesh di Mataram, Rabu (7/10/2026).

Pembagian zona musim tidak selalu mengikuti batas kabupaten dan kota. Satu zona dapat meliputi bagian dari beberapa kabupaten, sementara satu kabupaten bisa memiliki lebih dari satu zona dengan pola musim berbeda.

Dibandingkan kondisi normal, sebanyak 11 zona diprediksi mengalami kemunduran puncak musim hujan selama satu bulan. Sepuluh zona lainnya mundur lebih dari satu bulan.

Hanya dua zona yang diperkirakan mencapai puncak musim hujan satu bulan lebih awal, sedangkan empat zona memiliki waktu puncak yang sama dengan kondisi normal.

Baca juga: 93 persen wilayah di NTB diprediksi baru masuk musim hujan Desember 2026

Pergeseran puncak hujan tersebut mengikuti prakiraan awal musim yang juga datang terlambat. Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, menyampaikan bahwa 25 dari 27 zona musim diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Sebanyak 10 zona diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Desember, kemudian 15 zona menyusul pada akhir bulan. Dua zona lainnya diprediksi lebih dahulu memasuki musim hujan pada akhir November.

Dengan demikian, Maret merupakan perkiraan waktu puncak hujan di sebagian besar zona, sementara awal musimnya berlangsung beberapa bulan sebelumnya.

Durasi musim hujan juga menjadi perhatian. BMKG memperkirakan 21 zona di NTB mengalami musim hujan selama 10–12 dasarian atau sekitar tiga hingga empat bulan. Enam zona lainnya diprediksi mengalami musim hujan sekitar empat hingga lima bulan.

Meski waktunya lebih pendek, masyarakat tetap perlu mengantisipasi hujan yang berpotensi menimbulkan genangan, banjir, dan tanah longsor. Dalam penjelasan prakiraan musim NTB sebelumnya, BMKG menyebut sifat hujan secara umum berada pada kategori normal hingga atas normal atau lebih basah.

Bagi petani, perubahan pola musim tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu tanam dan memilih varietas. BMKG juga mendorong pembenahan drainase lahan untuk mengurangi risiko tanaman terdampak genangan ketika hujan meningkat.

Baca juga: Musim hujan NTB diprediksi cuma 3–4 bulan, BMKG ingatkan hujan lebih padat dan risiko banjir

Secara nasional, BMKG menjelaskan bahwa fenomena El Niño dan perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memengaruhi keterlambatan musim hujan 2026/2027. Kondisi tersebut dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam prakiraan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, BMKG memperkirakan El Niño bertahan hingga awal 2027. Sebagian besar wilayah Indonesia juga diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dibandingkan kondisi normal.

Menghadapi peralihan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap mewaspadai kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan selama periode kering. Pada saat bersamaan, kesiapan menghadapi musim hujan perlu diperkuat melalui pengelolaan drainase dan kesiapan evakuasi di daerah rawan banjir maupun longsor. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI