Jelang MotoGP 2026, Museum Sade disiapkan sambut wisatawan

Musuem Sade di Desa Rambitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah (foto kicknews.today/ist)

kicknews.today – Menyambut gelaran MotoGP Mandalika 2026 yang berlangsung 9-11 Oktober, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan penataan Museum Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Penataan tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan Sade setelah dilanda kebakaran pada 22 Agustus 2026. Museum Sade ditargetkan dibuka bersamaan dengan gelaran MotoGP Mandalika akhir pekan ini.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan, penataan Museum Sade dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong geliat perekonomian masyarakat sekitar.

Museum tersebut juga diharapkan menjadi salah satu destinasi yang memperkuat citra Mandalika, bukan hanya sebagai kawasan sport tourism, tetapi juga culture tourism.

“Jadi Museum Sade ini dapat kita selesaikan tepat waktu sesuai dengan arahan Gubernur dan Ketua Satgas Pemulihan Sade, Bapak Lalu Moh. Faozal,” ujar Nuralam.

Menurutnya, Museum Sade nantinya menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, kebudayaan dan kehidupan masyarakat Sade dengan publik yang lebih luas.

Terlebih, kawasan Sade diperkirakan kembali menjadi salah satu tujuan wisatawan yang datang ke Lombok untuk menyaksikan MotoGP Mandalika.

“Kita berharap masyarakat yang datang ke pergelaran MotoGP juga bisa menyaksikan sejarah Sade melalui museum sekaligus bernostalgia,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengapresiasi penataan Museum Sade yang dapat dirampungkan sebelum penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.

Menurutnya, kehadiran museum tersebut menjadi momentum untuk mengembangkan pariwisata NTB berbasis sejarah dan kekayaan budaya.

Museum Sade mengusung tema besar “Jejak Kehidupan dan Identitas Sade” yang terbagi dalam lima subtema, yakni Jejak Sade; Ruang Hidup dan Budaya Sade; Sade Mendunia; Ketika Api Mengubah Sade; serta Sade Bangkit dan Menyongsong Kejayaan.

Kelima subtema tersebut dirancang untuk mengajak pengunjung memahami Sade secara utuh. Mulai dari jejak leluhur, kehidupan masyarakat, perjalanan Sade dikenal hingga mancanegara, peristiwa kebakaran, hingga semangat masyarakat untuk bangkit.

Kurator Tata Pamer Museum Sade, Bunyamin, mengatakan konsep tersebut tidak sekadar memperkenalkan sejarah Sade, tetapi juga menggambarkan identitas masyarakat yang tetap hidup meskipun sebagian warisan fisiknya hilang akibat kebakaran.

“Kita ingin memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya di luar Sade, tentang bagaimana kehidupan dan jejak identitasnya. Kita ketahui bersama bahwa Sade beberapa bulan lalu terbakar. Walaupun warisan benda budayanya hilang, identitasnya tetap hidup di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Bunyamin, identitas Sade tidak hanya melekat pada benda budaya maupun bangunan adat. Nilai-nilai budaya, semangat gotong royong hingga keterampilan masyarakat seperti menenun merupakan bagian dari identitas Sade yang tetap bertahan.

“Jadi informasi yang kita sampaikan bukan hanya setelah terbakar, tetapi juga bagaimana Sade sebelum terbakar. Jadi masyarakat bisa melihat perjalanan Sade secara utuh,” tuturnya.

Bagi masyarakat Sade, lanjut Bunyamin, museum juga memiliki fungsi yang lebih luas dari sekadar ruang penyimpanan dan pameran benda budaya.

Museum diharapkan menjadi ruang untuk menyimpan memori bersama masyarakat Sade tentang kehidupan sebelum kebakaran.

“Ini tentu menjadi kenangan bagi mereka dan juga menjadi semacam obat, karena mereka punya kenangan pada masa lalu sampai sebelum terbakar. Ada sedikit kebanggaan karena mereka mempunyai museum dan koleksi-koleksi tersebut semuanya milik masyarakat Sade,” pungkasnya. (wii)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Bq wina

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI