kicknews.today – Musim hujan di Nusa Tenggara Barat (NTB) periode 2026–2027 diprakirakan datang terlambat dan berlangsung lebih singkat, dominan sekitar tiga hingga empat bulan. Meski durasinya pendek, BMKG mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai banjir, genangan, dan tanah longsor.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, menjelaskan bahwa musim hujan yang biasanya berlangsung enam hingga tujuh bulan diprediksi menyusut menjadi sekitar 10–12 dasarian.

“Sedangkan musim hujan kali ini di NTB lebih pendek dengan durasi dominan sekitar 10-12 dasarian atau kurang lebih tiga sampai empat bulan,” kata Nuga dalam konferensi pers di Lombok Barat, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, jumlah air hujan yang biasanya terbagi dalam enam bulan diperkirakan turun dalam waktu lebih singkat. Kondisi inilah yang membuat pengelolaan air dan kapasitas drainase perlu mendapat perhatian.
Keterlambatan musim hujan juga menjadi perhatian BMKG secara nasional. Dalam siaran pers 22 September 2026, BMKG menjelaskan pengaruh El Nino sangat kuat dan perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) dapat memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Awal musim hujan diprediksi berbeda antarwilayah. Sebagian besar NTB termasuk wilayah yang diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Karena itu, persiapan menghadapi hujan perlu berjalan bersamaan dengan penghematan air selama kemarau. BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperbaiki pengelolaan drainase, menjaga cadangan air, serta menyiapkan langkah evakuasi menghadapi potensi banjir dan longsor.
Untuk sektor pertanian, penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas berumur lebih pendek menjadi bagian dari rekomendasi BMKG. Pengendalian organisme pengganggu tanaman juga perlu diperhatikan agar perubahan musim tidak semakin membebani petani.
Di NTB, Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Kerja Sama Penanggulangan Bencana BPBD NTB, Awan Darmawan, mengingatkan potensi banjir dan longsor di Lombok Timur, Lombok Barat, Sumbawa, serta Bima.
Ia mendorong penampungan air hujan melalui sumur resapan. Pemerintah desa juga didorong menyiapkan mitigasi berupa perbaikan saluran pembuangan, pembuatan bronjong, dan pengerukan sungai.
Informasi prakiraan tersebut telah disampaikan dalam pertemuan di Stasiun Klimatologi NTB pada 30 September 2026. BPBD NTB menyebut kegiatan itu melibatkan perangkat daerah dan instansi terkait untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak musim hujan.
Prakiraan musim menjadi acuan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, termasuk menyesuaikan kegiatan yang bergantung pada kondisi iklim.
BMKG juga mengimbau masyarakat mengikuti informasi melalui kanal resminya serta berkonsultasi dengan kantor BMKG terdekat untuk memperoleh gambaran kondisi wilayah yang lebih rinci. (red.)






