kicknews.today – Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat, Baiq Isvie Rupaeda, mengaku malu setelah kasus dugaan kekerasan seksual di salah satu pondok pesantren di Lombok Tengah menjadi sorotan media internasional. Ia mendesak pemerintah provinsi menyusun aturan untuk memperkuat perlindungan anak dan santri.
“Saat ini kita malu terhadap dunia internasional, lebih dulu BBC mengangkat kasus kekerasan di pondok pesantren,” ucap Isvie, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Pemerintah perlu memperkuat sistem pencegahan dan pengawasan agar pesantren menjadi tempat yang aman bagi anak-anak.
“Kami mohon kiranya Pemerintah Provinsi NTB membuat satu aturan untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak santri kita. Ini penting,” tegasnya.
Isvie mendorong Gubernur NTB segera menyusun regulasi yang mengatur mekanisme perlindungan santri. Aturan itu diharapkan menjadi pegangan bagi pengelola pesantren dalam mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan.
Baca juga: Sekitar 10 jam diperiksa kasus dugaan pelecehan santriwati Bunkate, Abah dicecar 52 pertanyaan
Ia juga menyinggung aspek perizinan sebagai bagian dari pengawasan. Menurutnya, pesantren yang tidak menjalankan ketentuan perlindungan anak perlu menghadapi konsekuensi administratif sesuai kewenangan dan aturan hukum yang berlaku.
“Kiranya pondok itu tidak bisa menjalankan aturan yang dibuat gubernur, tentunya perizinannya harus diproses,” tegas Isvie.
Ia menilai perlindungan santri harus menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Anak-anak yang dititipkan untuk menimba ilmu perlu mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan pembentukan karakter mereka.
Karena itu, setiap dugaan kekerasan, khususnya kekerasan seksual, harus ditangani secara serius dan profesional. Perlindungan terhadap korban perlu dikedepankan dengan tetap menghormati proses hukum yang berjalan.
“Kita sepakat bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan membentuk karakter. Mari bersama-sama kita menjaga anak-anak kita dan memastikan setiap lembaga pendidikan menjadi ruang yang aman dan bermartabat,” pungkasnya. (wii/red.)






