Kebakaran hutan Gunung Rinjani meluas

Ilustrasi kebakaran lahan dan hutan. (foto kicknews.today/instagram)

kicknews.today – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) kian meluas.

 

Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 sekitar pukul 18:50 Wita dengan lokasi awal kejadian berada pada koordinat 116°25’30.194″ BT dan 8°21’49.368″ tersebut terus ditangani melalui kegiatan pemadaman langsung, pemantauan, patroli, pengamanan jalur pendakian, pemantauan udara menggunakan drone, serta penambahan kekuatan personel dari berbagai unsur.

 

Berdasarkan perhitungan dan pemantauan sementara hingga Jumat (25/9/2026) mencatat luas areal lahan yang terdampak kebakaran mencapai kurang lebih 723,7 hektare, jumlah ini kian meluas, dibandingkan dengan data yang diterima pada hari Kamis dengan luas lahan yang terdampak sekitar 589,23 hektare.

 

 

“Hingga jumat ini sudah 723,7 hektare yang terdampak, Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan,” terang Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiarsito melalui keterangan resminya, Jumat (25/9/2026)

 

Menurut dia, luas tersebut masih bersifat sementara. Balai TNGR akan memperbaruinya berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pemetaan udara, dan verifikasi terhadap batas areal yang terdampak. selain itu, sebagian titik di Bukit Setampol sisi timur telah berhasil dipadamkan dan dilakukan mop-up, namun pada lokasi lainnya api masih terpantau dan berkembang ke arah Puncak Sangkareang dan sekitarnya.

 

“Jenis kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran permukaan, dengan bahan bakar berupa hutan pinus, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, serta vegetasi bawah lainnya,” terang Astekita.

 

Ia menjelaskan saat ini upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Angin yang bertiup sangat kencang menyebabkan api dapat bergerak dan meluas dengan cepat. Vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput dan material organik lainnya juga berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar. Selain itu, lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang jauh, terjal dan sulit dijangkau, sehingga mobilisasi personel, peralatan dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar. Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan waktu pergerakan, akses menuju titik api dan metode pemadaman yang dilakukan.

 

“Pemantauan udara menggunakan drone terus dimanfaatkan untuk membantu mengetahui perkembangan areal terbakar, kondisi vegetasi, arah penyebaran kebakaran serta penentuan lokasi yang perlu mendapatkan prioritas penanganan,” ucap Astekita.

 

Untuk mendukung penanganan kebakaran sekaligus mengantisipasi risiko terhadap pengunjung, Balai TNGR menutup sementara jalur pendakian Torean sejak 23 September 2026.

 

Astekita mengatakan penutupan dilakukan untuk mengutamakan keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pemadaman, pemantauan, dan pengendalian kebakaran.

 

“Penutupan tersebut dilakukan untuk mengutamakan keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi tim di lapangan untuk melakukan pemadaman, pemantauan, dan pengendalian kebakaran secara optimal,” katanya.

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengimbau masyarakat dan pengunjung agar tidak mendekati lokasi kebakaran, tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran baru, serta mengikuti seluruh informasi dan pengumuman resmi yang disampaikan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. (wii)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

BqWina

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI