Oleh: Andi Fardian, M.A
Sebelum bicara soal perubahan, kita harus jujur dulu melihat penyakitnya. Masalah terbesar di Bima dan Dompu adalah bukan semata-mata soal anggaran, infrastruktur, atau program pembangunan. Masalah yang lebih mendasar adalah pola pikir yang usang.

Pola pikir usang itu terlihat dari banyak hal. Pertama, kebiasaan membohongi diri sendiri secara kolektif. Banyak orang tidak mau mengakui kenyataan bahwa daerahnya tertinggal. Ketika ada kritik, responsnya bukan memperbaiki keadaan, tetapi membela harga diri daerah. Kritik dianggap serangan, bukan masukan. Akibatnya, kita lebih sibuk mempertahankan kebanggaan semu daripada memperbaiki keadaan.
Kedua, mentalitas memuji kekuasaan. Di Bima-Dompu, selalu ada lingkaran orang yang tugasnya memoles citra pemerintah. Mereka mengatakan daerah maju, pembangunan berhasil, masyarakat sejahtera. Padahal kenyataan di lapangan sering jauh berbeda. Yang mengatakan Bima-Dompu maju biasanya hanya pemerintahnya, bupatinya, tim suksesnya, dan orang-orang yang hidup dan menjilat di sekitar kekuasaan.
Ketiga, budaya debat tanpa solusi. Banyak energi masyarakat habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sebenarnya tidak produktif: konflik kecil, urusan gengsi, atau persaingan sempit antarkelompok. Waktu dan energi yang seharusnya dipakai untuk membangun gagasan justru habis untuk mempertahankan ego.
Keempat, pendidikan yang tidak melahirkan perubahan. Banyak orang sekolah tinggi, bahkan kuliah di luar daerah, tetapi ketika pulang tidak membawa perubahan apa pun. Ijazah hanya menjadi simbol status sosial, bukan alat untuk menggerakkan kemajuan.
Kelima, feodalisme. Baik feodalisme terhadap kekuasaan maupun terhadap sistem kasta sosial. Dalam banyak situasi, kritik terhadap pemerintah dianggap tidak sopan, seolah-olah penguasa tidak boleh dikritik. Di sisi lain, masih ada cara pandang yang menilai seseorang berdasarkan asal-usul keluarga, status sosial, atau garis keturunan, bukan berdasarkan kapasitas dan integritasnya. Pola pikir seperti ini membuat masyarakat sulit maju karena merit, gagasan, dan kemampuan sering kalah oleh loyalitas dan status.
Karena itu saya selalu mengatakan kepada mahasiswa Bima-Dompu yang kuliah di Yogyakarta: kalau kalian pulang nanti, jangan hanya bawa ijazah. Bawa juga pulang pola pikir yang maju.
Yogyakarta bukan sekadar kota pendidikan. Ia adalah ruang intelektual. Di sana orang terbiasa berdiskusi, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, berpikir kritis terhadap kekuasaan, dan mencari solusi atas masalah sosial. Lingkungan seperti itu membentuk cara berpikir yang lebih terbuka dan rasional.
Pola pikir seperti itulah yang seharusnya dibawa pulang ke Bima-Dompu.
Kita harus jujur: sampai hari ini Bima-Dompu tergolong daerah yang tidak berkembang. Pembangunannya berjalan lambat, bahkan sering terasa berjalan di tempat. Tidak ada gunanya kita terus mengatakan “daerah kita sudah maju” hanya demi menjaga harga diri kolektif. Berkembang dari mananya?
Kalau yang kalian bawa pulang dari Yogyakarta hanya cerita bahwa kalian pernah kuliah di sana, lalu petantang-petenteng dengan status itu, maka pendidikan kalian tidak ada gunanya bagi daerah.
Ilmu tidak bernilai jika hanya dipakai untuk menaikkan gengsi pribadi. Intelektualitas tidak berarti apa-apa jika hanya digunakan agar orang lain menganggap kita pintar.
Ilmu dan intelektualitas baru punya makna ketika memberi manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, mahasiswa Bima-Dompu yang belajar di luar daerah memikul tanggung jawab moral. Kalian punya kesempatan melihat cara berpikir yang lebih maju, cara berdiskusi yang lebih sehat, dan cara memandang masalah secara lebih rasional.
Bawalah itu pulang.
Bima-Dompu kekurangan orang yang berani membawa pola pikir baru dan menggunakannya untuk memperbaiki keadaan.
Kalau generasi mudanya hanya mewarisi pola pikir lama—defensif terhadap kritik, mudah tersinggung, dan sibuk menjaga gengsi—maka daerah ini akan terus berjalan di tempat.
Sudah waktunya kita jujur kepada diri sendiri:
kemajuan daerah tidak ditentukan oleh seberapa keras kita memuji daerah kita, tetapi oleh seberapa berani kita mengubah cara berpikir kita. (-)


