kicknews.today – Aktivitas Gunung Api Sangeang Api di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih berada pada Level II atau Waspada. Meski asap kawah tidak teramati selama periode pemantauan, aktivitas kegempaan gunung tersebut masih cukup tinggi.
Berdasarkan laporan evaluasi Badan Geologi periode 16–30 September 2026 yang diterbitkan pada 6 Oktober 2026, sejumlah jenis gempa masih terekam di gunung api tersebut. Masyarakat dan wisatawan pun diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah dikeluarkan.
Dalam laporan tersebut, tercatat 32 kali gempa hembusan, dua kali gempa vulkanik dangkal, 38 kali gempa vulkanik dalam, 20 kali gempa tektonik lokal, serta 127 kali gempa tektonik jauh.
Total terdapat 219 kejadian gempa yang terekam selama periode pemantauan tersebut. Meski jumlahnya menurun dibandingkan periode sebelumnya, aktivitas gempa vulkanik dan tektonik dinilai masih cukup tinggi.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria menjelaskan secara visual, Gunung Sangeang Api terpantau jelas hingga tertutup kabut. Asap dari kawah utama tidak teramati. Kondisi cuaca selama periode tersebut bervariasi, mulai cerah hingga hujan, dengan suhu udara berkisar 22–36 derajat Celsius.
Berdasarkan analisis data visual dan instrumental serta potensi ancaman bahayanya, Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Sangeang Api tetap pada Level II atau Waspada.
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Sangeang Api serta pengunjung dan wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah. Sementara itu, pada sektor timur hingga tenggara, masyarakat diminta menjauhi kawasan dalam radius 6,5 kilometer.
“Warga juga diminta mewaspadai potensi aliran piroklastik atau awan panas. Aktivitas tidak diperbolehkan di daerah antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta di Lembah Sori Boro dan Sori Oi,” jelasnya.
Larangan serupa berlaku pada seluruh lembah sungai yang berhulu dari pusat aktivitas atau puncak Gunung Sangeang Api. Kawasan tersebut berpotensi dilalui aliran lahar, terutama saat hujan.
Badan Geologi menjelaskan, berdasarkan sejarah erupsinya, Gunung Sangeang Api memiliki potensi letusan eksplosif dengan ancaman berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta gas beracun di kawasan puncak.
Potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai adalah gas vulkanik beracun, seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), dan sulfur dioksida (SO2).
Masyarakat diimbau tidak mudah terpancing informasi yang tidak benar mengenai aktivitas gunung api tersebut. Warga juga diminta mengikuti arahan instansi berwenang dan memantau perkembangan aktivitas melalui kanal resmi Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta Magma Indonesia.
Status aktivitas Gunung Sangeang Api akan dievaluasi secara berkala atau apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. (jr)






