kicknews.today- Seorang TKI ilegal bernama Furkan, warga Desa Parangina Kecamatan Sape, Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ditemukan tewas tergantung di Malaysia. Jasad pria 28 tahun itu ditemukan tergantung oleh di sebuah rumah yang ditempati bersama ibunya Siti Sarah di Ladang Kenyalang Laut, Sarawak.
Peristiwa naas itu terjadi pada 25 Juni lalu. Kasus itu pun menggegerkan warga setempat.

“Iya benar, ada warga Desa Parangina Kecamatan Sape ditemukan tewas tergantung di Malaysia,” jelas Kabag Prokopim Setda Kabupaten Bima, Suryadin, Sabtu (2/7).
Atas kejadian tersebut, orang tua dan keluarga korban kemudian melaporkan ke pihak kepolisian setempat. Namun, mereka menolak untuk diotopsi untuk mengetahui penyebab kematian korban.
Pihak keluarga hanya menginginkan mayat almarhum bisa dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Parangina Kecamatan Sape. Permintaan itu pun dikabulkan, setelah dilakukan koordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Malaysia.
Dari informasi yang dihimpun, jenazah almarhum dibawa pulang ke Indonesia pada tanggal 30 Juni 2022 melalui jalur darat dari Betong ke perbatasan Tebedu-Entikong. Kemudian pada Jumat 1 Juli 2022, perjalanan dilanjutkan dari Entikong ke Pontianak dengan menggunakan mobil ambulance.
“Selanjutnya hari ini, dari Pontianak ke Surabaya menggunakan Lion Airlines JT837 pukul 07.40-09.20 Wita. Kemudian, diterbangkan menggunakan Lion Airlines JT642 rute Surabaya – Lombok,” jelas Kabag.
Jasad almarhum diperkirakan tiba di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam), Lombok pada pukul 15.00 Wita. Kemudian, dilanjutkan ke Bima menggunakan jalur darat.
Sekdes Parangina H Arsyad yang dikonfirmasi membenarkan warganya bernama Furkan ditemukan tewas tergantung di Malaysia. Saat ini jasad almarhum dalam proses perjalanan dari Malaysia ke Indonesia.
“Sesuai informasi yang saya terima mayat korban akan tiba di Desa Parangina sekitar pagi besok (Minggu),” jelasnya.
Makam korban sudah dua hari yang lalu digali oleh keluarga dan masyarakat. Ketika jasad tiba, jasad Furkan langsung dimakamkan.
Arsyad mengatakan, Furkan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sedangkan sang ayah sudah lama bercerai dengan ibunya.
Tidak lama ditinggal ayahnya, ekonomi keluarga mereka morat-marit sehingga mengharuskan Siti Sarah seorang diri mencari nafkah sebagai pekerja kelapa sawit di Negeri Jiran itu.
“Beberapa tahun setelah itu, baru disusul lagi oleh Furkan. Kurang lebih dua tahun dia bantu orang tuanya di Malaysia, lalu dikabarkan meninggal dunia,” pungkas Arsyad. (jr)


