H. Lalu Mariyun, Hakim Legendaris yang Adili Soeharto Wafat

2 min


316 shares
Alm.H Lalu Mariun

kicknews.today – Innalillahiwainnailaihiraajiun. Dunia peradilan, khususnya masyarakat NTB berduka.  H. Lalu Mariyun, SH.,MH wafat Jumat (24/7) petang. Almarhum adalah hakim legendaris, pernah mengadili mantan Presiden RI, HM Soeharto. Saat sidang Agustus tahun 2000 itu, Lalu Mariyun menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, mengadili in absentia penguasa orde baru dengan saksi mantan Presiden BJ. Habibi.

Kabar meninggalnya Almarhum beredar cepat. Seluruh birokrasi di Pemprov NTB berduka, termasuk  ucapan belasungkawa pertama disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H. Ahsanul Khalik. “Turur berduka cita atas wafatnya H. Lalu Mariyun, mantan Ketua Pengadilan Tinggi NTB,” tulisnya.

Tokoh yang sempat diamanatkan menjadi  Ketua Bale Mediasi Lombok periode 2020-2024 ini meninggal pada Jumat Pukul 18.30 Wita di RSUD Provinsi NTB. Pensiun sebagai hakim senior, Mariyun meninggal pada usia 75 tahun.

Dikutip dari laman tokoh.id,  berikut profile Almarhum.

Ketika pertama kali terjun ke dunia kehakiman pada 1967, Lalu Mariyun, S.H. tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi salah seorang hakim yang mengadili Mantan Presiden Soeharto.

Pada massa itu, Soeharto adalah “pahlawan” yang dielu-elukan, setelah berhasil menumbangkan golongan komunis. Apalagi kemudian, HM Soeharto menjadi orang terkuat pada masa Orde Baru.

Tetapi reformasi yang digerakkan oleh mahasiswa menghadirkan perubahan. Mantan Presiden Soeharto dituntut untuk segera diadili. Lalu dicari berbagai kesalahan yang dilakukan “Bapak Pembangunan” semasa orde baru itu untuk dihadapkan ke pengadilan.

Mariyun, ditunjuk sebagai Ketua Majelis Hakim Pengadilan untuk mengadili mantan presiden itu. Bagi Mariyun, jelas saja ini perkara paling besar dan monumental yang dihadapkan kepadanya. Meski begitu, kepada Republika, ia mengaku tidak grogi.

“Saya justru harus berpikir objektif dalam mengadili kasus yang mendapat soroton tajam masyarakat,” katanya.

Ia pun mengaku sudah siap dengan risiko apa pun berkaitan dengan pengadilan kasus tersebut. “Insya Allah, putusan yang akan saya hasilkan, keluar dari hati nurani saya yang paling dalam,” katanya ketika itu.

Mariyun lahir di Desa Kopang, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 15 Juni 1945. Sejak kecil, ia memang sudah bercita-cita menjadi hakim, mengikuti jejak kakeknya. Untuk mengejar cita-cita itu, lulus SMP ia pun merantau ke Malang, Jawa Timur dan masuk Sekolah Hakim dan Djaksa (SHD).

Lulus dari sana, ia mendaftar jadi hakim dan bertugas di Pengadilan Negeri Selong, Lombok Tengah, sebagai hakim muda. Tidak puas dengan ilmu yang sudah diperolehnya, pada 1969 ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Setelah menggondol gelar sarjana hukum pada 1974, ia kembali ditugaskan menjadi hakim di Pengadilan Negeri Selong. Dari sana, ayah tiga anak ini dipindahkan menjadi hakim di Pengadilan Negeri Bayuwangi, Jawa Timur. Selanjutnya, ia dikembalikan lagi ke Mataram menjadi hakim di PN di sana.

Beberapa lama di sana, Mariyun menjadi Wakil Ketua Pengadilan Negeri Praya, Lombok Tengah. Lalu, ia ditugaskan lagi ke PN Mataram, terakhir suami Ratna Rumingsih — dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram — menjadi ketua pengadilan negeri itu. Lewat SK Menteri Hukum dan Perundang-undangan No. M.1036. KP.0404 tahun 2000 tertanggal 16 Mei 2000 ia ditugaskan menjadi Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (red)

 

 

 

 


Like it? Share with your friends!

316 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
0
Sedih
Takut Takut
0
Takut

Komentar

Komentar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend