kicknews.today – Ratusan nelayan pesisir di Kabupaten Bima dan Dompu, tidak bisa melaut akibat kelangkaan solar. Hal ini merupakan dampak dari pembatasan pembelian BBM jenis solar oleh pemerintah. Nelayan berharap agar pemerintah mempermudah pembelian BBM jenis solar agar mereka bisa melaut lagi.
Afdan, seorang nelayan warga Desa Sangiang Kecamatan Wera mengeluhkan kelangkan solar pasca kenaikan harga BBM. Ia terpaksa menambatkan perahunya bersama para nelayan lain dengan harapan pasokan solar kembali normal.

“Di desa ini, ada sekitar 400 nelayan yang aktivitasnya terganggu sejak dua minggu terakhir. Ini merupakan dampak pembelian solar yang dibatasi pemerintah. Kalaupun ada itu harganya mahal dan dibeli dari pengecer,” ucap Afdan.
Jeritan Afdan dan nelayan lainnya merupakan sebuah realita yang harus menjadi perhatian bersama. Pria yang menggantungkan hidupnya dengan melaut ini hanya berharap perhatian pemerintah. Menurutnya, sejak solar langka, kini mereka hanya melaut dua kali seminggu.
“Kami berharap agar pemerintah tidak membatasi pembelian BBM jenis solar untuk nelayan. Paling penting membangun (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Wera,” harapnya.
Menanggapi hal itu, Anggota Komisi V DPRD Prov. NTB dari Fraksi PAN Sukrin, HT. M Pd mendorong Pemprov NTB dan stakeholder terkait untuk memperhatikan keberadaan nelayan di NTB pasca kenaikan BBM. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi pendapatan mereka dalam memenuhi ekonomi keluarga.
“Saya mendapatkan laporan dari konstituen di wilayah Bima-Dompu, nelayan menjerit kesulitan mendapatkan solar. Mengantisipasi hal ini saya mendorong agar Pemprov NTB dan stakeholder mencarikan solusi soal ini,” kata Sukrin, Kamis (15/9).
Sukrin mengaku sudah bertemu dengan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Bima, mereka mengeluh harga solar tinggi sehingga membuat hanya sebagian kapal saja bisa beroperasi. Akibatnya jumlah hasil tangkapan ikan menurun dan harga ikan naik.
Pemprov NTB menurutnya, mungkin perlu memikirkan untuk memperbanyak SPBN khusus nelayan dan kawasan pesisir sebagai sebuah upaya menjawab aspirasi nelayan. Dengan demikian, nelayan tidak perlu berebut bahan bakar minyak dengan pengguna kendaraan lain.
“Saya rasa adanya SPBN itu solusi terbaik agar aktivitas nelayan jadi lebih efektif dan efisien,” pungkasnya. (jr)


