in

Sebelum Pancasila, Orang Sasak ternyata punya Panca Awit Pinajaran

Prosesi Maulid Adat Bayan, Suku Sasak (Lombok) - Foto: Ahmad Yani

kicknews.today – Tanggal merah satu Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Sebagai iedeologi bangsa, Pancasila juga menjadi kebanggaan sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara seluruh rakyat Indonesia yang dikenal dengan nilai-nilai luhur Pancasla. Dalam suku bangsa Sasak, Lombok, sebelum terbentuknya negara Indonesia, suku asli Sasak ternyata memiliki ideologi yang mengandung nilai-nilai moral dalam menjalani kehidpan bernegara atau berbangsa, dikenal dengan “Panca Awit Pinajaran” yang diketahui telah ada sejak abad 13 sampai 16 Masehi.

Nama Pancasila terdiri dari dua kata dari Sanskerta: “pañca” berarti lima dan”śīla” berarti prinsip atau asas. Sama halnya dengan Panca Awit Pinajaran, adalah lima dasar yang memberikan pembelajaran dan tuntunan bagaimana orang sasak berbudaya dan beradat-istiadat dalam menjalankan hidup dan kehidupannya sebagai mahluk yang bertuhan, bertradisi, dan beragama. Didalamnya terkandung nilai-nilai luhur kearifan lokal yang diwarisi secara turun temurun.

Dikutip dari Dalam perjalanan sejarah peradaban sasak, Panca Awit Pinajaran Sasak pada akhir abad ke 13 sampai dengan abad ke 16, namun keberadaan peradaban sasak mulai suram sejak masuknya penjajah di Pulau Lombok. Banyak orang sasak yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda di mana nilai-nilai Panca Awit Pinjaran mulai jarang diterapkan.

Mengutip, Lalu Anggawa Nuraksi menulis catatannya mengenai Panca Awit Pinajaran sebagai berikut:

A.   TUHAN

1.     Tuhan bagi orang sasak, adalah satu-satunya zat yang maha kuasa atas diri dan alam semesta ini. Kepada-Nya orang sasak berserah diri. Keyakinan adanya Tuhan bagi orang sasak merupakan hal yang sangat mendasar.

2.     Kepatuhan orang sasak kepada Tuhan, tercermin dalam berbagai aspek kehidupannya, baik itu dalam budayanya maupun adat- istiadatnya.

3.     Pengenalan dan penghayatan akan adanya Tuhan pada orang sasak tidak semata-mata karena masuknya agama, Orang Sasak sudah mengenal dan menghayati adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai aqidahnya jauh sebelum agama masuk ke Lombok dengan menyebutnya dengan sebutan ” Neneq Kaji Saq Kuase”.

4.    Dalam sejarahnya orang sasak dikenal sebagai salah satu komunitas yang memiliki peradaban monotisme tua di dunia.

5.       Penghayatan yang dalam akan norma-norma ketuhanan ini telah menjadi salah satu unsur atau anasir karakter orang sasak dalam hidup dan kehidupannya berbudaya dan beradat-istiadat.

B.      TRADISI

1.      Tradisi pada orang sasak difahami sebagai petunjuk Tuhan yang diberikan kepada manusia secara langsung sebelum seseorang itu terkena si’ar agama.

2.       Orang Sasak dikenal sebagai komunitas yang patuh pada taradisi.

3.      Tradisi sasak mengajarkan keseimbangan, keserasian dan keselarasan hidup dalam tiga aspek, yaitu aspek hubungannya dengan tuhan, hubungannya dengan sesama manusia dan hubungannya dengan alam sekitarnya.

4.       Setelah agama datang di Lombok, tradisi dijadikan sebagai ritual  menumbuh suburkan si’ar agama.

5.       Tradisi saat ini pada orang sasak telah menjadi salah satu unsur pembentukan jatidirinya dalam kehidupannya  berbudaya dan beradat-istiadat.

C.       AGAMA

1.        Dalam pinajaran sasak, agama difahami sebagai  petunjuk Tuhan yang diberikan kepada manusia, melalui perantara,  memiliki kitab suci dan ada umat penganutnya. Agama berfungsi sebagai penyempurna tradisi, tradisi menunbuh suburkan si’ar agama yang terus menerus bergulir sepanjang massa menuju kepada kesempurnaan hidup penganutnya.

2.         Game Sasak adalah  cara orang sasak mengamalkan atau menjalankan ibadah agamanya dengan tidak meninggalkan jatidiri kesasakannya.

3.        Orang sasak mengenal agama setelah masuknya Islam. Orang sasak menurut sejarahnya tidak pernah menganut agama selain Islam.

4.       Norma-norma agama telah menjadi salah satu unsur jatidiri orang Sasak, mewarnai hidup dan kehidupannya dalam bertradisi, berbudaya dan beradat-istiadat.

D.         BUDAYA

1.        Budaya menurut pianajaran sasak adalah cipta, rasa dan karsa orang sasak dalam rangka mengamalkan, mengaflikasikan, membumikan perintah Tuhan yang diterima melalui tradisi dan agama.

2.       Budaya sasak dilandasi oleh nilai-nilai spiritual dan religius.  Bukan budaya sasak jika tidak sesuai, tidak sejalan dengan  tradisi dan agama.

3.   Budaya merupakan kontetekstual, aplikasi, pengamalan  dari agama dan budaya dikembangkan untuk melestarikan agama.

4.       Budaya telah menjadi salah satu unsur atau anasir karakter orang sasak dalam beradat-istiadat.

E.   ADAT – ISTIADAT

1.   Adat-istiadat adalah tatacara hidup dan kehidupan bagi makhluk yang berbudaya dalam menegakkan perintah Tuhan.

2.    Agama dijunjung, dihiasi dan diwadahi   oleh adat-istiadat.

3.   Adat istiadat merupakan tatanan yang kuat dalam menegakkan tradisi dan agama melaui awig-awig yang dimiliki.

4.   Adat-istiadat adalah muara ahir dari pinajaran sasak.

5.  Adat-istiadat telah menjadi salah satu unsur atau anasir karakter orang sasak, mewarnai tatanan kehidupannya dalam berbudaya, bertradisi, beragama, dan bertketuhanan.

Karakter masyarakat Sasak modern telah banyak berubah bahkan banyak yang melanggar nilai-nilai moral. Nilai-nilai dalam Panca Awit Pinjaran diharapkan bisa kembali diamalkan oleh orang Sasak secara benar. “Di dalamnya terkandung kearifan lokal, sehingga karakter dan jatidirinya sebagai orang sasak bisa kembali, menjadi komunitas yang berbudaya, berkebudayaan dan berperadaban sejajar dengan komunitas atau bangsa-bangsa lain di dunia“, tulis Anggawa. (nsa)

Editor: Dani

Laporkan Konten