in

Produksi Miras Tradisional di Lombok

Ilustrasi minum miras tradisional Lombok

kicknews.today Tuak terbaik itu ada di Lombok, demikian banyak orang berpendapat setelah merasakan jenis minuman tradisional yang dibuat dari pohon enau yang disadap airnya lalu dicampurkan dengan ramuan alami lainnya sehingga menjadi minuman dengan kadar alkohol tinggi itu.

Di Lombok, tuak dijual dengan harga murah karena produksi yang terbilang tinggi. Pohon enau dapat tumbuh dengan subur hampir di semua tempat di Lombok. Masyarakat lokal biasa mengolah hasil sadapan pohon enau ini menjadi gula merah (gula aren). Namun tak jarang juga kita menjumpai air enau dijual langsung begitu turun dari pohon tanpa campuran yang disebut tuak manis dengan beragam khasiat kesehatan.

Namun jika dicampurkan dengan bahan tertentu seperti kulit kayu bajur, Tuak manis itu dapat langsung berubah menjadi zat yang mengandung alkohol dan memabukan. Rasanya lebih masam dan aromanyapun berubah menjadi seperti air fermentasi.

Hingga saat ini tuak Lombok sangat mudah dijumpai terutama di perkampungan-perkampungan Bali di Lombok. Biasanya orang-orang duduk melingkar dengan botol-botol tuak di tengah ditemani camilan-camilan berasa pedas untuk menghilangkan rasa pahit Tuak. Orang lokal menyebutnya ‘sedak’, seperti pelecing kangkung, kacang, komak beragi dan lain sebagainya.

Menurut sejarahnya, acara minum tuak pada era kekuasaan Bali Karang Asem di Lombok ialah ajang forum informal yang lumrah. Dikutip dari situs Lombok Heritage dikatakan, acara metuakan selalu menggunakan moderator (seperti istilah diskusi) yang disebut sebagai blandang (bandar). Bandar bertugas menuangkan tuak ke dalam gelas dan membagikan secara bergiliran kepada anggota sekehe. Kadangkala kalau terjadi diskusi atau perdebatan, bandar juga bertugas menjadi moderator. Anggota sekehe minum secara bergiliran dengan menggunakan satu gelas. Penggunaan gelas secara sendiri-sendiri tidak diperkenankan, ini untuk menunjukkan rasa kebersamaan.

Selain tuak, brem Lombok juga dikenal basyarakat luas. Di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Utara misalnya. Di sini Brem bahkan hidup berdampingan dengan adat dan budaya. Di desa itu, tamu pun disuguhkan minuman alkohol khas Lombok tersebut. Brem biasa dikonsumsi untuk sehari-hari. Misalnya, ketika mau ke ladang untuk bercocok tanam.

Dinukil dari jpnn, menurut Raden Anggrita, warga Sukadana terbiasa memproduksi bremnya sendiri. Cara membuat brem hampir mirip dengan membuat tape ketan. Namun, brem tidak memakai gula. Karena itu, rasanya cenderung asam. Makin lama disimpan, warnanya semakin jernih dan ada rasa pahit yang tertinggal. Tentu kandungan alkoholnya makin tinggi. Inilah yang menjadi favorit warga.

“Sebelum berangkat (ke sawah-red) minum satu seloki dulu. Nanti kuat badannya,’’ ujarnya. Bahkan kata dia jika brem sudah disuguhkan, tamu tidak boleh menolak. Hal itu bisa jadi dianggap tidak sopan.

Menurut Anggrita, hal itu terjadi karena kepercayaan bahwa minum brem tersebut bermanfaat bagi kesehatan. Orang yang minum bisa lebih bersemangat. Hal ini bisa jadi karena daerah tersebut terbilang merupakan kawasan beriklim relatif dingin. (red.)

Editor: Dani

Laporkan Konten