in

Minyak kebal Lombok yang cuma dibuat pada bulan Maulid

Ilustrasi minyak Lombok

kicknews.today – Minyak menjadi tradisi masyarakat Sasak sejak zaman nenek moyang. Bisa jadi karena Pulau Lombok merupakan daerah penghasil kelapa yang cukup besar. Tak terkecuali untuk minyak-minyak yang berhasiat khusus.

Setiap desa di Lombok biasanya memiliki julukan-julukan khusus untuk minyaknya. Sebut saja minyak Songak yang memang bersal dari Desa Songak di Lombok Timur. Uniknya, minyak-minyak berhasiat khusus ini harus dibuat (jeleng-bahasa sasak) pada bulan maulid atau bulan Rabiul Awal yang bertepatan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammmad SAW.

Khasiat minyak yang dibuat pada bulan Maulid inipun bermacam-macam. Dari kekebalan, pengobatan segala macam penyakit bahkan sampai mengobati luka-luka akibat sabetan senjata tajam dan kecelakaan.

Maka karena itu, pembuatannya pun tidak sembarangan. Berbagai syarat harus dipenuhi. Misalnya seperti para pembuat minyak haruslah laki-laki yang suci dari hadas besar dan hadas kecil. Buah kelapa yang digunakan ialah kelapa gading yang ketika dipetik tidak boleh dijatuhkan ke tanah.

Soal waktu membuat di malam hari usai pelaksanaan shalat Isya’ berjamaah. Tetua adat yang memang punya keturunan pembuat minyak memimpin pembuatan minyak tersebut. Kelapa pertama yang dikupas dilakukan olehnya dengan awalan merapal doa-doa bermakna dalam berbahasa sasak yang diakhiri dengan kalimat “berkat Lailahaillallah…”.

Kelapa-kelapa yang sudah dikupas lalu diparut bersama dan mulailah proses “bejeleng”. Santan kelapa dimasak hingga mendidih. Beberapa orang mengaduk-adauk santan panas. Malah biasanya proses mengaduk tidak menggunakan alat bantu, melainkan dengan tangan kosong meski panas santan yang akan dibuat minyak lebih dari 200 derajat celcius.

Lalu Yahya, seorang tetua di Desa Pejanggik, Praya Tengah , Lombok Tengah saat tengah membuat minyak belum lama ini menerangkan, pembuatan minyak di bulan maulid merupakan tradisi mereka sejak zaman dahulu.

“Memang dari zaman dulu. Peninggalan ilmu dari nenek moyang kita,” terangnya.

Setelah santan berubah menjadi minyak, maka ampas (tai lale – bahasa sasak) disaring untuk dipisahkan. Setelah jadi minyak tidak bisa langsung dibagikan, melainkan harus didokan lagi oleh para tetua. Barulah bisa dibagikan dengan syarat penyimpanan menggunakan botol beling.

Tidak jarang usai proses bejeleng dilakukan orang-orang akan mencoba minyak tersebut dengan sedikit meminumnya lalu senjata tajam seperti parang atau tombak dicoba menebas tubuhnya.

“Kalau dulu ilmu kebal merupakan kebutuhan karena sering kali ada perkelahian antar kampung. Sekarang minyak ini cuma digunakan untuk berjaga-jaga saja. Terutama untuk obat luka atau bermacam-macam penyakit,” jelas Lalu Yahya.

Sayangnya minyak-minyak berkhasiat ini tidak diperjualbelikan. Tetapi boleh dimiliki oleh siapa saja yang membutuhkan.

“Kalau mau dan punya hajat silahkan datang saja, warga akan memberikan dengan sukarela,” tandasnya. (red.)

Editor: Dani

Laporkan Konten