in

Kota tua Ampenan, seperti orang sepuh ringkih yang bau balsem

Bekas rumah duka Hok Kian Kong Hwee di Kota Tua Ampenan

kicknews.today – Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, ternyata memiliki juga kota tua dengan nilai sejarah yang cukup panjang, yakni, Kota Tua Ampenan.

Tapi jangan salah, Kota Tua Ampenan di Mataram ini perbedaannya bagaikan bumi dan langit dengan Kota Tua Jakarta yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama. Kota Tua Ampenan dibiarkan teronggok tanpa ada upaya sentuhan perbaikan untuk menjadi objek wisata andalan di Pulau Lombok. Bahkan Kota Tua Ampenan terkesan seperti orang sepuh ringkih yang bau balsem.

Berbeda dengan Kota Tua Jakarta yang sarat akan wisata sejarah sehingga menjadi tujuan wajib bagi para pelancong, baik dalam negeri maupun luar negeri, demikian pula Jalan Asia Afrika, Bandung yang menjadi tujuan wajib wisatawan dimana di sana berdiri bangunan “baheula” khususnya Gedung Konferensi Asia Afrika (KAA).

Suasana sendu Kota Tua Ampenan itu telah terasa saat kendaraan menemui pertigaan yang tepat di pojoknya masih berdiri eks bangunan sekolah zaman Belanda yang saat ini menjadi SMPN 3, Mataram atau lebih dikenal dengan SMP Dollar yang penyebutan itu terkait dahulunya merupakan sekolah Belanda.

Tepatnya di sepanjang Jalan Niaga I, jajaran rumah toko dan bangunan yang berlanggam art deco sudah terasa suasana tempo dahulu. Namun warna cat tembok yang putihnya sudah memudar dan bercampur kehitaman persis lukisan alamiah yang tidak sedap dipandang mata.

Sampai di lampu merah Simpang Lima, dengan berbelok ke arah kiri jalan, terpampang gapura yang bertuliskan Kota Tua Ampenan. Suasana tidak bergairah kembali terasa. Jalan itu dikenal dengan nama Jalan Pabean.

Jajaran rumah toko yang dimiliki warga keturunan Tionghoa, masih ada di sepanjang ruas jalan yang langsung mengarah ke Pelabuhan Ampenan, seperti toko roti legendaris Djitsin. Seperti halnya rumah milik keturuan Tionghoa, di ruang tamunya terdapat altar, foto orang tuanya yang sudah meninggal dunia, lilin merah dan guci berisikan abu jenazah.

Sedangkan dari lampu merah simpang lima, jika berbelok ke arah kanan atau timur Gapura Kota Tua Ampenan, terdapat pula bangunan tua yang yang belum sepenuhnya direhab karena rubuh akibat gempa. Memang miris melihat kondisi bangunan bersejarah yang dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya untuk memperbaiki dari instansi terkait yang menangani kekayaan budaya itu.

Trotoar di muka sepanjang rumah toko itu, memang sangat tidak menarik hati untuk berjalan kaki. Terlebih lagi saat berakhirnya lorong rumah toko itu. Tiada trotoar di depan bangunan eks gudang.

Altar Kelenteng Pao Hwa Kong – Ampenan

Berbeda dengan Kelenteng Pao Hwa Kong, yang masih terawat dengan baik. Tepat di seberangnya ada bangunan gudang distributor bahan bakar dengan latar belakang atap gudang yang di tembok bagian atasnya tertulis tahun 1936. Mungkin tahun itu sebagai penanda berdirinya bangunan itu.

Secara sekilas memang tidak ada upaya dari Pemerintah Kota (Pemkot) bagaimana untuk merestorasi bangunan cagar budaya itu dan ditata dengan konsep yang baik sehingga menjadi destinasi unggulan Kota Mataram.

Atau bisa saja menggelar ajang yang menarik pengunjung berlibur ke Kota Tua Ampenan, seperti perlombaan yang berkaitan dengan edukasi kesejarahan atau street food di daerah kota tua itu. Yang tampak dan patut dipertanyakan dibuatnya panggung permanen di dekat Pelabuhan Ampenan. Kesan menjaga kelestarian benda cagar budaya benar-benar tidak dilakukan.

Menariknya dibuat juga bangunan “baywatch” di dekat pelabuhan dengan sejumlah anak tangga, memberikan kesan yang tidak setimpal dengan keeksotikan bangunan tua. Yakni di muka bangunan eks Bank Dagang Belanda (Netherlands Indische Handelsbank).

“Saya menyayangkan saja kondisi ini, pengelolaannya tidak becus. Saya sendiri merasa kurang nyaman berlibur ke sini,” kata Doni, wisatawan asal Jakarta.

Hal serupa dibenarkan oleh istri Doni, Sri, yang menyebutkan pemerintah setempat tidak memiliki kepekaan seni untuk menata Pantai Ampenan.

“Masa ada panggung permanen, dan buat apa juga ada baywatch, toh di pantai pengunjung tidak bisa berenang mengingat ombak di Pantai Ampenan besar,” katanya.

Tambatan perahu nelayan di Sungai Jangkuk Kota Tua Ampenan

Segera Restorasi

Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengaku segera melakukan restorasi sejumlah bangunan di Kota Tua Ampenan sebagai upaya mempertahankan ikon tujuan wisata.

“Sejumlah bangunan tua yang rusak akibat gempa bumi segera kami perbaiki, dan akan mengembalikannya sesuai dengan bentuk semula agar ciri khas kota tua tersebut tidak hilang,” kata H Mohan Roliskana di Mataram, Senin (1/10/2018) ketika saat itu menjabat sebagai Wakil Wali Kota Mataram.

Untuk melakukan restorasi terhadap bangunan-bangunan bersejarah tersebut, pemerintah kota segera melakukan koordinasi dengan pemilik bangunan.

Tujuannya, agar pemilik bangunan tidak melakukan perbaikan sendiri apalagi sampai memiliki rencana lain dengan mengubah ciri khas Kota Tua Ampenan.

Karenanya, untuk mempertahankan salah satu ikon Kota Mataram tersebut pemerintah kota akan mengalokasikan anggaran khusus agar bentuk bangunan paling tidak bagian depan bisa tetap dipertahankan.

Lebih jauh Mohan mengatakan, program restorasi bangunan di Kota Tua Ampenan telah menjadi komitmen pemerintah kota secara politik, karenanya terhadap kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini pemerintah kota telah melakukan intervensi namun belum maksimal.

Program yang telah dilaksanakan untuk mempertahankan kota itu antara lain, melakukan intervensi secara menyeluruh terhadap bangunan dengan melakukan peremajaan pengecatan bangunan serta pemasangan berbagai ornamen pendukung.

Lampu merah di simpang lima Kota Tua Ampenan

Tetapi, salah satu kendala yang dihadapi pemerintah kota dalam melakukan penataan Kota Tua Ampenan, karena bangunan-bangunan tua tersebut milik pribadi, bukan milik pemerintah, seperti daerah lain.

“Hal itulah yang selama ini menjadi kendala kami, apalagi pemiliknya sebagian besar tidak tinggal di sana dan rata-rata bangunan tua itu dimanfaatkan menjadi gudang,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk dapat melakukan restorasi bangunan di Kota Tua Ampenan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, sebab kegiatan restorasi butuh biaya besar.

Seperti diketahui Kota Tua Ampenan pada 2016 masuk data UNESCO (The United Nations Organization for Education, Science, and Culture) sebagai kota pusaka dengan Klaster B.

Setidaknya saat ini setelah 3 tahun bencana gempa Lombok tahun 2018 berlalu dan H Mohan Roliskana terpilih menjadi Wali Kota Mataram, masyarakat berharap agar restorasi Kota Tua Ampenan segera dilakukan, agar wisatawan bisa berimajinasi akan kejayaan kota tersebut, termasuk Pelabuhan Ampenan yang dibangun pada 1896 oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. (ant-red)

Editor: Dani

Laporkan Konten