in

Jejak abu letusan Gunung kuno yang ditemukan di Kutub mengarah ke Lombok – Indonesia

Ilustrasi letusan gunung

kicknews.today – Ledakan besar pada Abad ke-13 merebak hampir ke seluruh muka bumi. Debu menyebar ke mana-mana, hingga wilayah kutub. Berbagai budaya seluruh dunia meyimpan kisah tentangnya.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, satu per satu potongan-potongan fakta itu tersusun dalam suatu bingkai kisah sesungguhnya.

Dikutip dari Qimisummit.com yang diterbitkan pada Jumat (16/9/2016) lalu, para peneliti Prancis mengaku telah menemukan sumber ledakan yang membahana tersebut.

Tim peneliti di bawah pimpinan Franck Lavigne dari Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne menduga bahwa itu adalah letusan gunung Samalas yang berada di pulau Lombok, Indonesia.

“Orang sudah lama mencari-cari.” Tapi, baru setelah temuan bukti oleh para ahli glasiologis sekitar 3 dekade lalu, para ilmuwan bisa menentukan sumber bencana global tersebut,” kata Lavigne.

Dugaan para peneliti, ledakan besar itu diduga delapan kali lebih kuat daripada ledakan Krakatau (1883) dan dua kali lebih kuat daripada erupsi Tambora (1815). Dari bukti-bukti yang ada, letusan gunung itu diduga terjadi antara Mei dan Oktober 1257.

Adanya letusan gunung berapi besar pada sekitar tahun 1257–1258 diketahui pertama kali melalui analisis terhadap sampel es hasil pengeboran dari wilayah kutub. Menggunakan metode pengukuran keasaman termutakhir pada tahun 1980, sekelompok peneliti Denmark menemukan lonjakan konsentrasi sulfat dari berbagai masa pada sampel es dari Crête, Greenland (hasil pengeboran tahun 1974) yang dihubungkan dengan timbunan abu riolitik. Lapisan es dari masa 1257–1258 menunjukkan jejak lonjakan sulfat terbesar ketiga yang ditemukan di Crête.

Awalnya, para peneliti tersebut menduga bahwa deposit sulfat ini bersumber dari gunung berapi di dekat Greenland, tetapi catatan sejarah Islandia tidak menyebutkan adanya letusan gunung berapi pada sekitar tahun 1250. Ditambah lagi, pada tahun 1988 ditemukan bahwa sampel es dari Antarktika (tepatnya dari Byrd Station dan Kutub Selatan) juga mengandung jejak peningkatan sulfat dari kurun waktu yang sama dengan jejak dari Greenland.

Lonjakan sulfat serupa juga ditemukan pada sampel es dari Pulau Ellesmere, Kanada.Luasnya cakupan jejak sulfat Samalas membuat para ahli geologi menjadikannya sebagai penanda stratigrafis bahkan sejak sebelum sumber letusannya diketahui.

Sampel-sampel es ini mengisyaratkan peningkatan deposit sulfat yang tinggi, diikuti dengan timbunan tefra, dalam kurun waktu antara tahun 1257 hingga 1259. Jejak lonjakan sulfat ini merupakan yang terbesar[ selama 7.000 tahun dan berukuran dua kali lebih besar daripada jejak yang dihubungkan dengan letusan Gunung Tambora pada tahun 1815.

Dalam sebuah kajian dari tahun 2003, volume ekuivalensi batuan padat bagi letusan ini ditaksir berkisar antara 200 kilometer kubik (48 cu mi) hingga 800 kilometer kubik (190 cu mi), walaupun volume sebenarnya bisa jadi lebih kecil, hanya saja kaya akan sulfur. Diameter kaldera hasil letusan diperkirakan berukuran sekitar 10–30 kilometer (6,2–18,6 mi), dan letaknya diperkirakan berada di dekat khatulistiwa. Letusan ini diperkirakan berasal dari wilayah Cincin Api, walaupun awalnya gunung yang menjadi sumber letusan ini belum dapat diketahui secara pasti.

Gunung Tofua di Tonga sempat diusulkan sebagai sumber, tetapi usulan ini ditolak karena letusan Tofua dianggap terlalu kecil untuk menghasilkan jejak-jejak sulfat dari tahun 1257. Sementara, letusan Gunung Harrat al-Rahat dekat Madinah pada tahun 1256 dianggap terlalu awal dan terlalu kecil untuk memicu timbunan sulfat sebesar ini. Kajian lain mengusulkan skenario letusan beberapa gunung berapi secara bersamaan.

Teori bahwa Gunung Samalas/Rinjani purba di Lombok – Indonesia merupakan sumber letusan ini pertama kali disuarakan pada tahun 2012, sebab calon-calon sumber letusan lainnya – Gunung El Chichón dan Quilotoa – tidak cocok dengan unsur kimiawi penyusun lapisan-lapisan sulfat yang telah ditemukan. Kurun waktu dan ukuran letusan ini juga tidak sesuai dengan data dari El Chichon dan Quilotoa, begitu juga dengan data dari calon lainnya, Gunung Okataina.

Rekonstruksi geografi kemungkinan posisi kota Pamatan pada abad ke-13

Kota Pamatan Yang Hilang

Pamatan adalah sebuah kota di Pulau Lombok yang kemungkinan hilang akibat letusan gunung api pada abad ke-13. Lokasi persis kota ini sampai saat ini belum ditemukan.

Dalam Babad Lombok – yang dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Lalu Gde Suparman pada 1994, Pamatan adalah negeri baru yang dibangun dari penduduk yang bermigrasi dari Desa Lae. Desa ini diduga berada di ujung timur-laut Lombok.

Pamatan digambarkan memiliki bangunan benteng kota, jalanan yang besar dan ramai, taman kota, balai pertemuan, serta banyak rumah-rumah penduduk.

Kota ini berada pada lahan yang subur, dengan banyak hasil pertanian dan perkebunan yang bermacam-macam seperti padi, jagung, timun, semangka, dan berbagai jenis sayuran.

Hasil perikanan seperti ikan, kepiting, tiram, dan rumput laut juga digambarkan melimpah.

Hasil bumi dan laut yang berlimpah menjadikan Pamatan sebuah kota perdagangan, bahkan orang dari Bajo dari Sulawesi pun berdatangan untuk ikut berdagang.

Babad Lombok menceritakan bahwa penduduk Pamatan mencapai sepuluh ribu orang dan hidup sejahtera di wilayah yang berada di kaki gunung.

Berdasarkan bait-bait yang menceritakan kondisi kota Pamatan saat itu, kita dapat menginterpretasi kondisi fisik lokasi Pamatan.

Yang pertama adalah tanah yang subur. Melihat kondisi geologi Lombok yang banyak terbentuk dari batuan gunung api, tanah subur yang dimaksud mungkin adalah tanah dari material produk gunung api.

Jenis tanah ini lebih subur dibandingkan degan tanah dari pelapukan batuan gampingan seperti yang ada di wilayah pegunungan Lombok selatan.

Tanah yang subur umumnya berada pada bagian lereng bawah sampai lereng kaki gunung api karena tanah sudah berkembang cukup tebal.

Jenis tanaman yang disebutkan juga merupakan jenis tanaman pada lahan berlereng rendah. Hal ini sesuai dengan catatan Babad bahwa kota Pamatan berada di kaki gunung.

Selain subur, wilayah tersebut adalah wilayah yang memiliki banyak sumber daya air, baik sungai, mata air, maupun air tanah.

Indikasi lain yang dapat merujuk pada lokasi Pamatan adalah adanya hasil perikanan laut dan hubungan perdagangan antarpulau.

Ini menggambarkan bahwa Pamatan adalah kota pesisir yang mungkin memiliki pelabuhan yang cukup besar untuk kapal-kapal bersandar hingga akhirnya Samalas meletus dan menimbun seisi kota. Demikian dinukil dari theconversation.com.

Lukisan yang menggambarkan saat zaman es kecil di Eropa

Dampak Letusan samalas ke Seluruh Dunia

Erupsi Samalas jelas terjadi dekat garis khatulistiwa, tapi dampaknya terasa di seluruh dunia.  “Iklim terganggu setidaknya selama 2 tahun setelah erupsi,” kata Lavigne, ilmuan Prancis yang meneliti Samalas.

“Bukti tentang ini ditemukan dalam penelitian cincin-cincin pohon yang menyingkap kecepatan pertumbuhan abnormal, model iklim, maupun catatan historis bahkan hingga ke Eropa.”

Sejumlah catatan Abad Pertengahan menceritakan adanya “tahun tanpa musim panas”, yaitu ketika musim panas 1258 justru bersuhu dingin sehingga panen gagal dan hujan tak henti yang memicu banjir perusak.

Sebaliknya, musim dingin Eropa sesudah letusan malah lebih hangat, karena erupsi tropis tersebut memiliki kandungan tinggi belerang (sulfur).

Tim peneliti mengutip catatan bersejarah dari Arras di utara Prancis yang menyebutkan bahwa musim dinginnya terlalu jinak sehingga “bekunya tidak sampai dua hari.”

Bahkan, pada Januari 1258, “bunga violet bermekaran, dan pohon stroberi serta apel bertunas.”

Di Indonesia, catatan yang ada menyebutkan bencana yang jauh lebih dahsyat. Babad Lombok menjelaskan adanya ledakan masif gunung berapi hingga membentuk kaldera di Gunung Samalas di pulau Lombok.

Diceritakan di situ tentang kematian ribuan orang karena aliran aspal dan lahar yang menghancurkan Pamatan, ibukota kerajaan, dan daerah sekitarnya.

Catatan yang ada memang tidak menyebutkan tanggal pasti, tapi sekedar menyebutkan terjadi sebelum akhir Abad ke-13, sehingga catatan sejarah ini bersesuaian dengan bukti ilmiah erupsi tersebut.

Andrews mengamati bahwa penjelasan sesungguhnya erupsi itu sangat jarang ada karena terjadi hanya sekali tiap 600 tahun.

“Kejadian ini ditulis ketika terjadi dekat dengan orang yang menuliskan catatan, tapi tidak sedemikian dekatnya hingga erupsi merenggut mereka.”

Dalam kasus Samalas, masih mungkin dilakukan temuan peninggalan-peninggalan fisik yang lebih kuat daripada tulisan-tulisan. Pamatan, ibukota kerajaan Lombok purba, mungkin terkubur karena ledakan besar itu.

Catatan para penulis penelitian menyebutkan, “Pamatan mungkin bisa dibilang ‘Pompeii di Timur Jauh'”, walaupun kondisinya tidak bisa ditebak.

Andrews menambahkan, “Hal itu jelas menarik. Kadang-kadang dampak alirah lahar bisa cukup lembut seperti Pompeii, ketika debunya membunuh semua warga tapi tidak membinasakan kotanya. Erupsi lain, semisal Gunung St. Helens pada 1980 meratakan pedesaan, jadi aliran lahar ini kadang-kadang membinasakan semuanya. Tidak bisa diketahui.”

Dalam laporan PNAS.org disebutkan bahwa kala itu sebagian besar wilayah Lombok, Bali, dan bagian barat Sumbawa menjadi steril dan tak dapat dihuni selama beberapa generasi.

Temuan ini mungkin bisa menjelaskan alasan mengapa Raja Kertanegara dari Jawa yang melakukan invasi ke Bali pada 1284 tidak menemukan perlawanan dari penduduk lokal.

Sedangkan tarikh-tarikh Eropa menyebutkan keadaan cuaca yang tidak lazim pada 1258. Laporan dari Prancis dan Inggris pada tahun 1258 mengenai fenomena serupa awan yang tak kunjung hilang mengindikasikan adanya kabut kering yang meliputi kawasan tersebut. Tarikh-tarikh Abad Pertengahan menyebut bahwa pada tahun 1258, musim panasnya dingin dan berhujan, sehingga menyebabkan banjir dan gagal panen, dengan suhu dingin antara Februari hingga Juni.

Suhu beku terjadi pada musim panas tahun 1259 menurut tarikh-tarikh Rusia. Di Eropa dan Timur Tengah, perubahan pada warna atmosfer, badai, suhu dingin, dan cuaca buruk dilaporkan terjadi pada tahun 1258–1259, ditambah dengan permasalahan pertanian yang juga terjadi di kawasn tersebut termasuk Afrika Utara.

Di Eropa, curah hujan berlebih, suhu dingin, dan awan yang tebal menyebabkan kerusakan pada hasil tani, sehingga menyebabkan kelaparan yang juga diikuti dengan wabah penyakit. (red.)

Editor: Dani

Laporkan Konten