in

Heroisme Rakyat Sesela dan Rembiga

Ilustrasi Perang Rembiga - Sesela

Propaganda Jepang yang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda sampai juga ke Lombok. Sejak pertengahan 1942, rakyat di pulau ini tak sabar menanti kedatangan para saudara tua, demikian klaim serdadu negeri matahari terbit itu, yang juga berjanji memakmurkan rakyat pribumi.

Namun janji hanya tinggal janji. Hanya beberapa bulan setelah mereka menduduki Pulau Lombok, rakyat mulai memahami semua gembar-gembor itu hanya akal busuk. Rakyat mulai sadar telah dibohongi. Ternyata penderitaan sebagai pribumi yang tertindas, belum berakhir jua. Ibarat pepatah, lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Bahkan penjajahan Jepang jauh lebih biadab dibanding Belanda.

Tetapi tidak semua pribumi tunduk pada tentara Jepang yang terkenal bengis. Rakyat Desa Selela, Lombok Barat, salah satunya. Desa ini telah menorehkan sejarah perlawanan yang gagah berani sejak masa penjajahan Belanda. Warga Sesela di tahun 1897 menolak membayar pajak. Buntutnya, Belanda mengerahkan pasukan besar untuk mengepung desa ini. Koran-koran Belanda memberitakan 25 warga tewas setelah mati-matian melakukan perlawanan.

Di masa Jepang, menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI, orang-orang Sesela kembali menunjukkan nyali. Jepang yang selama perang dunia ke dua populer memiliki prajurit-prajurit berani mati, kini mendapat lawan yang sulit, yang juga seolah kehilangan urat takut.

Hari itu, Haji Azhar, Haji Hasan, Papuq Singgung, Amaq Riata, Loq Iman, dan Amaq Usup mengendap-endap di Karang Ujung, Ampenan. Kelima lelaki warga Sesela ini berhenti di sebuah barak tentara Jepang. Keadaan yang lengang tanpa penjagaan menguntungkan operasi mereka. Tak tanggung-tanggung. Satu unit mobil berikut persenjataan berhasil dirampas.

Lucunya, tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa menyetir. Apa boleh buat, mobil akhirnya didorong berempat. Amaq Usup bertindak sebagai pengemudi mobil yang mesinnya mati karena tak ada yang bisa menghidupkannya.

“Mobil itu didorong sampai di kuburan sebelah utara masjid besar Sesela. Bayangkan jarak Sesela
Ampenan, lebih dari empat kilo meter,” tulis Sumarjo, seorang anggota TNI/AD berpangkat pembantu letnan dua (Pelda) yang dimuat majalah Dharmasena, edisi Februari 1976. Media ini majalah resmi Departemen Pertahanan Keamanan RI. Sumarjo menulisnya dalam kemasan cerita pendek, berjudul Darahnya Menyiram Desa Rembiga.

Meski sebuah cerpen, prajurit ini telah melakukan serangkaian riset. Artinya sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi di Lombok pra kemerdekaan. Mereka yang disebutkan dalam kisah seluruhnya nama-nama pelaku yang terlibat langsung dalam peristiwa. Ia mewawancarai banyak sumber, baik pelaku maupun saksi mata yang masih hidup saat itu.

Tentu saja perampasan itu membuat serdadu Jepang murka. Dalam hitungan jam diketahui identitas pelaku.

Jepang mengamuk keesokan harinya. Walaupun mereka tahu ulah orang-orang Sesela, tapi sasaran kemarahan juga menimpa Rembiga — saat itu masih berstatus desa. Rembiga terimbas lantaran menjadi lintasan menuju Sesela. Sebab satu-satunya akses ke desa itu hanya melalui Rembiga.

Tetapi, warga Rembiga telah mempersiapkan diri sejak semalam. Kabar perampasan itu beredar luas. Sebuah pertemuan berlangsung di Pos Badan Keamanan Rakyat (BKR) Rembiga Barat yang berdekatan dengan masjid, dipimpin Tuan Guru Haji (TGH) Abdul Hadi. Lelaki ini dikenal sebagai guru tarekat dan seorang qori.

“Kalau Jepang masuk ke desa kita, kita sambut dengan perlawanan, meskipun senjata kita macam ini,” tegas TGH Abdul Hadi sambil menunjukkan pedangnya yang berkilap terpapar cahaya temaram lampu minyak kelapa.

Di malam bergerimis itu beberapa warga diperintahkan berangkat ke markas BKR di Mataram untuk berkoordinasi.

Pagi-pagi suara tembakan gencar mengagetkan warga. Satu peleton serdadu Jepang masuk wilayah Rembiga. Mereka mengejar sejumlah warga dan menembak membabi-buta. Tetapi, serangan mendadak itu tak lama mendapat perlawanan.

TGH Abdul Hadi muncul mengenakan peci haji dan surban putih. Pedang di tangan kanannya semakin berkilap ditimpa sinar matahari yang baru terbit. Di tangan kirinya terhunus keris pusaka leluhur.

Ternyata ia disegani bukan hanya lantaran ia seorang ahli agama. Ia laksana seekor singa yang tak peduli banyak lawan mengepungnya. Ia bergerak lincah. Sosok tubuhnya nampak hanya bayang-bayang putih yang berkelebat. Setiap pedangnya berkiblat, selalu mendarat telak, merubuhkan tubuh-tubuh serdadu Jepang. Satu demi satu lawan meregang nyawa. Sebagian dengan leher nyaris putus, lalu menggeletak mandi darah.

Jepang yang tak menyangka mendapat perlawanan sengit itu akhirnya bertindak sangat tak satria. Singa perkasa dari Rembiga itu mendapat serangan secara licik. Sebuah tikaman bayonet menembus punggungnya. Tetapi ia seolah tak merasakannya. Ia masih melanjutkan pertarungan dalam keadaan terluka parah. Tubuh-tubuh prajurit negeri sakura bergelimpangan lagi. Namun, satu tusukan lagi datang dari arah depan. Sangkur seorang serdadu menghunjam telak dada sang tuan guru. Di saat yang sama, pedang tajam menggorok leher prajurit itu. Dua tubuh rubuh hampir bersamaan. Inilah akhir dari perlawanan sosok perwira dari Rembiga. Ia gugur setelah menghabisi hampir separuh kekuatan lawan.

Gugurnya TGH Abdul Hadi menuai kemarahan orang-orang Rembiga. Warga membalas kematian ulama junjungan mereka dengan beringas.

Pelda Sumarjo menggambarkan begitu hebatnya perlawanan rakyat Rembiga. Tidak jauh dari masjid, Amat Ocum, seorang pemuda, mengamuk seperti banteng terluka. Dengan sebilah parang ia melawan sejadi-jadinya. Batek lapah, kata orang-orang Sasak. Artinya parang yang lapar. Parang itu membuat sejumlah serdadu Jepang tak berkutik. Di tangan Amat Ocum, parang itu tak henti-hentinya menerabas, lalu terlihat tubuh-tubuh yang tumbang, tak berkutik lagi. Ia terus merangsek, meski diberondong peluru dari segala arah.

Di Sesela, Jepang juga mendapat perlawanan yang tak kurang sengitnya. Di desa itu dua pribumi gugur, yaitu Amaq Duriah dan Loq Yasin. Sedangkan yang terluka masing-masing Loq Kahar, Loq Hamzah, dan Amak Mun. Mereka tertembak dan terkena pecahan granat.

Perlawanan dari dua desa tersebut membuat pihak Jepang kocar-kacir. Mereka yang masih hidup kembali ke barak yang berada di Ampenan dan Mataram.

Tak ada cerita setelah itu. Yang pasti, Jepang tak pernah muncul lagi di kedua desa itu. Momok Jepang sebagai kaum terkuat di Asia Timur Raya, ternyata tak terbukti. Sepasukan bersenjata lengkap, militer Jepang yang konon sangat militan dan berani mati itu, pernah ditaklukkan, dipermalukan rakyat Rembiga dan Sesela.(*)

Penulis ialah pemerhati sejarah dan budaya Nusa Tenggara Barat

Editor: Awen

Laporkan Konten