in

Berbagai kisah Dewi Anjani; Mengubah jin bangsawan jadi manusia Sasak pertama

Ilustrasi Dewi Anjani

kicknews.today – Gunung Rinjani adalah gunung yang sakral. Ini berhubungan dengan kisah-kisah yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Gunung Rinjani diyakini oleh penduduk sekitar dihuni oleh komunitas bangsa jin yang sebagian besar mereka beragama Islam. Bangsa jin itu dipimpin oleh ratu jin yang bernama Dewi Anjani. Dia bersemayam di puncak Gunung Rinjani. Dari puncak ke arah tenggara terdapat sebuah lautan debu (kaldera) yang dinamakan Segara Muncar. Konon, pada saat-saat tertentu dengan kasat mata dapat terlihat istana ratu jin. Pengikutnya merupakan golongan jin yang baik-baik.

Kisah mengenai Dewi Anjani paling banyak diminati terdapat dalam manuskrip yang berjudul “Doyan Neda”. Pada manuskrip itu dikisahkan Dewi Anjani yang memiliki julukan Ratu Mas Prawira mempunyai sepasang burung yang sakti, yang berparuh besi melela dan berkuku dari besi melela pula. Dalam cerita itu disebutkan bahwa sepasang burung inilah yang mengais-ngais gunung sehingga gunung tersebut menjadi datar dan menjadi sebuah pulau. Pulau baru itu dinamai pulau sasak karena rapat oleh pepohonan.

Suatu hari, Dewi Anjani diingatkan oleh Patih Songan akan pesan kakeknya Nabi Adam supaya mengisi pulau baru itu dengan cara mengubah sekelompok jin bangsawan menjadi manusia. Ini merupakan kisah mengenai asal usul terjadinya manusia di pulau Lombok. Bagi masyarakat Sasak terutama generasi lama menghayati cerita itu seperti cerita tentang leluhur mereka yang benar-benar terjadi dan mereka menghormati Dewi Jin yang bernama Dewi Anjani itu.

Pada bagian lain, yaitu di bidang ilmu mistik kuasa gaib sang Dewi Anjani sering diungkapkan dan menjadi teks sebuah mantra. Demikian pula para pemangku (pemangku tradisional) pada waktu mendaki Gunung Rinjani masih sering melakukan upacara mohon ijin kepada Dewi Anjani terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian (Herman dkk, 1990/1991: 47—48) yang disebut dengan upacara menyembe. Hal ini juga diungkapkan oleh Pak Sukrati sebagai Mangku Adat Gunung di Desa Senaru. Upacara lain yang berkaitan dengan keberadaan Dewi Anjani, yaitu upacara kesuburan yang berkaitan dengan kerja bercocok tanam dan panen pada masyarakat lama sering dikaitkan dengan berkah sang Dewi. Pada masa sekarang perubahan tata nilai pada kepercayaan dan bahkan teknik pertanian yang disertai upacara semacam itu sudah jauh ditinggalkan.Namun demikian, masih bisa dijumpai pada kelompok masyarakat tertentu saja atau pada teks mantera dan pujian (Herman dkk, 1990/1991: 48).

Kisah lain mengenai Dewi Anjani, yakni sang dewi merupakan seorang putri raja yang tidak diperbolehkan menikah dengan kekasih pilihannya, kemudian pada suatu tempat, dalam mata air bernama Mandala sang ratu menghilang. Ia berpindah tempat dari alam nyata ke alam gaib. Kisah ini terpampang pada pamflet yang berjudul “Cerita Rinjani”.

Selanjutnya, cerita mengenai Dewi Anjani dikisahkan oleh Saroni[3] (guru SD) yang menyatakan bahwa kisah Dewi Anjani berhubungan dengan penyebaran agama Islam di pulau Lombok. Sekitar abad ke-16 penyebaran agama Islam dilakukan melalui pantai utara Bayan dan dari arah barat sekitar Tanjung. Pembawanya adalah seorang syeikh dari Arab Saudi bernama Nurul Rasyid dengan gelar sufinya Gaoz Abdul Razak. Dia menetap di Lombok bagian utara, di daerah Bayan. Gaoz Abdul Razak mengawini Denda Bulan, melahirkan seorang anak bernama Zulkarnaen yang merupakan cikal bakal raja-raja Selaparang. Selanjutnya, Gaoz Abdul Razak menikah dengan Denda Islamiyah dan melahirkan Denda Qomariah yang populer dengan sebutan Dewi Anjani (Saroni. 2013:16).

Hampir mirip dengan kisah sebelumnya, Saroni[4] menyatakan bahwa Dewi Anjani anak dari Gaoz Abdul Razak, juga menyampaikan bahwa Dewi Anjani adalah anak dari Denda Islamiyah yang merupakan istri pertama Gaoz Abdul Razak, sebelumnya Denda Islamiyah disebut Saroni sebagai istri kedua. Yang berbeda lagi adalah Dewi Anjani pada versi ini memiliki dua orang saudara laki-laki yakni Sayyid Umar dan Sayyid Amir. Pada versi sebelumnya disampaikan Saroni saudara Dewi Anjani hanya satu orang yakni Zulkarnaen.

Pada versi lain Saroni[5] juga menyampaikan, bahwa nama lain Dewi Anjani adalah Dewi Rinjani. Dia adalah anak Raja Datu Tuan dan Dewi Mas, raja di Lombok. Pada awalnya sang raja dan permaisuri hidup aman dan tenteram, tetapi mereka sering bersedih karena belum dikarunia anak. Sang raja kemudian memohon izin permaisuri untuk menikah lagi. Raja Datu Tuan kemudian menikah dengan Sunggar Tutul, putri dari Patih Aur. Dengan kekuasaan Tuhan, Dewi Mas yang mulai tersingkirkan, tiba-tiba hamil. Sunggar Tutul iri melihat kehamilan Dewi Mas. Dia memfitnah Dewi Mas sehingga sang permaisuri diusir dari istana.

Dewi Mas tinggal di Gili dan ditemukan oleh seorang nakhoda, kemudian nakhoda itu membawa Dewi Mas ke Bali. Setelah sampai pada waktunya Dewi Mas melahirkan anak kembar yang laki-laki bernama Raden Nuna Putra Janjak dan yang perempuan bernama Dewi Rinjani.

Saat mereka mulai tumbuh dewasa, mereka bertanya kepada ibunya siapakah ayah mereka. Dewi Mas menyampaikan bahwa ayah mereka adalah Datu Taun seorang raja di Lombok. Raden Nuna Putra Janjak pun berangkat ke Lombok untuk menemui ayahnya. Pada awalnya mereka berperang, tetapi dengan terdengarnya bisikan gaib dari angkasa, sang raja mengetahui bahwa yang diajaknya berperang adalah anaknya sendiri.

Mereka akhirnya berdamai dan raja Datu Taun menjemput Dewi Mas ke Bali. Raden Nuna Putra Janjak pun kemudian menggantikan ayahnya menjadi raja. Sementara itu, sang ayah dan putrinya Dewi Rinjani menyepi di puncak gunung, bersemedi. Di sinilah kemudian Dewi Rinjani diangkat oleh para mahluk halus menjadi ratu. Sejak saat itulah gunung itu disebut sebagai Gunung Rinjani.

Cerita Ramayana

Dalam cerita Ramayana, Dewi Anjani adalah kakak anak Resi Gautama dengan Dewi Indradi bidadari dari kahyangan dan mempunyai saudara yang bernama Subali.Kedua bersaudara itu melakukan tapa.Dewi Anjani bertapa “uda” (tanpa busana), sedangkan Subali bertapa “kalong” (kepala menungging ke bawah) di dalam dahan kayu. Dewi Anjani yang sedang bertapa itu dilihat oleh Batara Surya yang sedang melanglang buana. Batara Surya pun birahi sampai mengeluarkan air kehidupan yang membasahi daun asam (kamae) dan daun itu kemudian dilemparkannya kepada sang pertapa, Dewi Anjani. Sang dewi memakan daun itu, akibatnya ia mengandung dan kelak lahirlah Hanoman.

Memperhatikan nama Dewi Anjani dalam cerita itu, kemungkinan nama Gunung Rinjani (Rara Anjani) berasal dari nama tersebut dan diketahui di Lombok sudah sejak lama berkembang cerita Ramayana (Herman. dkk, 1990/1991: 8—9).

Versi lain kisah Dewi Anjani dalam cerita Ramayana adalah sebagai berikut. Dewi Anjani adalah anak Resi Gotama dengan Dewi Indradi dari kayangan, seorang bidadari. Dewi Indradi sebelum menikah dengan Resi Gotama sudah memiliki seorang kekasih bernama Dewa Surya. Di pihak lain,  karenaResi Gotama sudah berjasa memadamkan kekacauan di kayangan, dia dianugerahi seorang bidadari, yakni Dewi Indradi. Percintaan Dewi Indradi dengan Dewa Surya pun putus. Sebagai kenang-kenangan atas hubungan mereka, Dewa Surya memberikan cupu manik astagina kepada Dewi Indradi.

Suatu waktu, Dewi Indradi asyik membuka cupu manik itu, Dewi Anjani melihatnya dan ingin memilikinya. Dewi Indradi terpaksa memberikannya dengan pesan tidak boleh diketahui oleh orang lain. Namun, Anjani tidak mematuhi pesan ibunya.Saat Anjani membuka cupu manik itu, Subali dan Sugriwa melihatnya.Adik-adiknya juga menginginkan cupu manik tersebut dan mengadukannya kepada Resi Gotama.

Sang resi pun terkejut dan bertanya kepada Dewi Indradi tentang asal-usul cupu manik itu.Sang dewi tidak dapat menjawab hanya berdiam seperti patung.Resi Gotama dengan kesal mengucapkan, mengapa istrinya diam seperti patung.Sang dewi pun berubah menjadi patung.Resi Gotama membuang cupu manik dan barang itu jatuh ke sendang.Cupunya jatuh ke sendang Nirmolo, maniknya jatuh ke sendang Sumala.

Subali dan Sugriwa yang melihat benda-benda tersebut langsung melompat ke sendang.Saat mereka keluar dari sendang, mereka pun berubah menjadi kera.Anjani yang mengejar manik ke sendang Sumala berusaha meraih dengan tangannya dan wajahnya juga terkena air. Oleh sebab itu, Anjani pun wajahnya berubah menjadi kera (Praztscorpio, 2013). Berdasarkan wawancara dengan penduduk setempat (pendaki gunung Rinjani) ada yang pernah melihat seorang putri yang wajahnya mirip kera [6]. Hal itu merupakan pertanda bahwa kisah mengenai Dewi Anjani dalam versi cerita Ramayana hidup dan berkembang di Lombok. Di dalam cerita Ramayana Dewi Anjani kembali ke Kayangan setelah selesai masa hukumannya, yang menjadi pertanyaan mengapa kemudian nama Rinjani yang ditengarai berasal dari nama Dewi Anjani menjadi nama sebuah gunung yang ada di pulau Lombok.

Dari berbagai kisah tersebut ternyata nama Rinjani berasal dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, juga terdapat dalam manuskrip yang berbentuk babad, yakni Babad Lombok, Babad Sakra, manuskrip Doyan Neda, dan Cerita Ramayana. Berbagai kisah tersebut membuktikan, bahwa nama Rinjani memang berhubungan erat dengan berbagai kisah tentang ratu jin yang bernama Dewi Anjani atau nama lainnya yaitu Dewi Rinjani. Namun, tidak ada satu pun dari kisah-kisah tersebut yang menghubungkan antara nama Gunung Rinjani dengan nama sultan pertama kerajaan Selaparang, yakni Sultan Rinjani yang dalam beberapa kisah merupakan saudara lain ibu dengan Dewi Anjani.

Tradisi Menyembe dan Wetu Telu

Masyarakat di Lombok sampai saat ini masih mempercayai bahwa kesaktian sang dewi juga ditunjukkan dengan cara bagaimana sang dewi dapat mengubah bangsawan jin menjadi manusia. Dalam hal ini tampaknya kisah Dewi Anjani menjurus kepada kisah-kisah mengenai awal kehadiran manusia di Lombok.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat mempercayai adanya hubungan antara Dewi Anjani dengan mahluk-mahluk gaib yang ada di Gunung Rinjani. Di sisi yang lain, oleh masyarakat setempat juga dipercayai bahwa masyarakat jin yang mendiami Gunung Rinjani adalah jin yang baik-baik. Hal ini menunjukkan bahwa Dewi Anjani adalah jin baik-baik. Yang menarik juga, jin yang ada di Gunung Rinjani disebutkan sebagai jin Islam. Hal ini berhubungan dengan silsilah Dewi Anjani sebagai anak penyebar agama Islam di Lombok, yaitu Gaoz Abdul Razak.Hal itu berkaitan dengan beberapa kisah lisan yang disampaikan oleh masyarakat setempat, (para pendaki gunung) menjumpai mata air zam zam dan kabah di Gunung Rinjani.

Di samping itu, masyarakat setempat sampai saat ini masih melakukan ritual adat ‘menyembe’ yakni memberikan tanda di dahi bagi orang-orang yang akan mendaki Gunung Rinjani. Ritual adat itu dilakukan sebagai tanda supaya tidak tertukar dengan mahluk gaib yang ada di tempat tersebut.

Di sisi yang lain, di desa Bayan yang sampai saat ini masih diakui sebagai desa tradisional yang masih melaksanakan ritual-ritual adat. Salah satu hal yang masih tetap menjadi falsafah masyarakat khususnya yang tinggal di desa Bayan adalah falsafah “wetu telu”. Wetu telu merupakan filosofi masyarakat adat Bayan yang selalu berpegang teguh pada tiga unsur atau keyakinan yaitu hubungan Tuhan dengan manusia yang melibatkan para kiai, hubungan manusia dengan manusia yang melibatkan pranata-pranata dan sesepuh adat, dan yang terakhir adalah hubungan manusia dengan lingkungan yang diperankan oleh para Toaq Lokaq (para orang tua). Ketiga unsur itu harus diseimbangkan karena bagaimanapun juga kalau salah satunya tidak seimbang, tidak mungkin dapat berjalan dengan baik (Tim Penyusun Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat. 2011:18).

Falsafah “wetu telu” awalnya merupakan sinkretisme antara agama Islam yang masuk kemudian di Lombok dan agama Siwa-Budha yang sebelumnya sudah menjadi agama masyarakat Lombok pada masa itu.Hal itu terjadi karena penyebar agama Islam di Lombok pada masa itu bertindak hati-hati dalam menyebarkan agama Islam (Tim Penyusun Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat. 2011:102–103).

Di samping itu, masyarakat Hindu di Lombok dan suku Sasak, khususnya, pada malam bulan purnama melaksanakan upacara “pakelem”.Upacara ini dimaksudkan untuk meminta hujan.Tampaknya tradisi ini berhubungan dengan kisah Dewi Anjani yang diyakini lahir dari Raja Selaparang yang menikah dengan mahluk halus penghuni Gunung Rinjani. Pernikahan itu terjadi setelah mahluk halus penghuni Gunung Rinjani mengabulkan permintaan sang raja untuk menurunkan hujan di wilayah kerajaan Selaparang yang sedang dilanda kekeringan (Hendarto, 2013:42).

Sumber: Legenda Asal-Usul Terjadinya Gunung Rinjani dan Kearifan Lokal yang terdapat di Dalamnya Oleh: Erlis Nur Mujiningsih

Editor: Awen

Laporkan Konten