in

Asal-usul Orang Sasak

Masyarakat Sasak di Desa Adat Bayan (Foto: Ahmad Yani)

“Hingsun weruh yayi puwaneki. Paksanira nyawiteng sang nata, meneng haja ken hujara. Pan luluhur ring dangu, nora bera Sasak lan Bali, Majapahit kawitan.”

Babad Lombok Bait 1088

Terjemahan bebasnya ialah:

Sudahlah dik, kiranya tak perlu bercerita kepada kanda. Kanda sudah tahu mengapa adik mengabdi pada raja (Pejanggik). Toh leluhur orang Sasak dan Bali di masa lalu memang sama-sama Majapahit.”

Babad Lombok merupakan karya sastra kuno yang berkisah tentang asal muasal masyarakat Lombok (Sasak) mulai dari zaman Nabi hingga kerajaan yang ditulis pada daun lontar sekitar abad ke 18.

Berbicara soal asal usul masa lalu, dipercayai semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Namun soal asal usul nenek moyang orang Indonesia, banyak ilmuan bersepakat kalau mereka datang dari Indocina (Vietnam) lalu eksodus ke wilayah Nusantara bagian barat dan terus ke timur yang dilakukan berkali-kali.

“Orang Sasak tidak beda dengan orang Jawa, Melayu dan lain-lain yang nenek moyangnya datang dari Indocina. Kombinasi antara mereka yang pertama kali menginjak bumi Lombok dengan yang datang kemudian setelah lebih dahulu menetap di bagian barat Nusantara kita sebut sebagai penduduk asli Lombok. Penduduk pribumi ini kemudian dinamakan etnis Sasak,” kata Drs H Lalu Muhamad Azhar dalam bukunya Pengaruh Budaya Asing Terhadap Etnis Sasak di daerah NTB, Depdikbud, Jakarta, 1995.

Diakuinya, memang eksodus orang-orang Jawa-lah yang paling banyak ke Lombok. Mulai dari masa kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah, ketika terjadi prahara Bukit Manoreh antara penganut Hindu dan Budha zaman Rakai Pikatan dan Pramuda Wardhani di abad VII ketika dibangunnya candi Borobudur dan Prambanan.

Orang Budha Mahayana ketika itu banyak yang datang ke Lombok sehingga orang Sasak bahkan hingga kini masih ada yang beragama Budha di Lombok Utara. Itu juga sebabnya, di wilayah Batu Pandan daerah Wanasaba Lombok Timur ditemukan peninggalan patung Alokiteswara (Manifestasi Buddha).

Masih menurut Lalu Azhar dalam bukunya Bedah Takepan Babad dan Buku Sasak (2010), eksodus besar-besaran berikutnya dari Jawa ke Lombok yakni pada masa Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Saat itu Selaparang menjadi bagian Nusantara di bawah panji Majapahit (1357). Banyak prajurit Majapahit yang tinggal di Lombok. Bahkan keturunan raja Majapahit pun ada yang menetap di Bayan dan Selaparang.

Kemudian eksodus besar-besaran ke tiga dari Jawa yakni di abad XVI-XVII ketika proses Islamisasi oleh para Wali Songo. Putra Sunan Giri yakni Sunan Mas Praktikel (Sunan Prapen) mengislamkan Banjar, Makasar, Sumbawa dan Lombok secara besar-besaran. Menurut sumber yang berasal dari Giri, Sunan Prapen ialah julukannya setelah meninggal. Nama aslinya adalah Ratu Praktikel yang disebut pula Sunan Mas. Kala itu banyak pemuka Islam yang tinggal di Lombok untuk meneruskan penyebaran agama Islam.

Menurut de Graff yang ditulis oleh Roro de la Faille peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sunan dalem sekitar tahun 1505-1545 M di Giri (Gersik). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa agama Islam telah masuk ke Lombok pada awal abad XVI itu secara besar-besaran karena telah diterima sebagai agama negara Selaparang masa pemerintahan Prabu Rangkasari.

Jika merujuk dari sumber lainnya, lebih awal dari itu, Islam sudah masuk ke Lombok jika dilihat dari hubungan Selaparang dengan dunia luar melalui pelabuhan tua di Labuan Lombok. lebih-lebih ketika menilik sebelum kerajaan ini berada di Selaparang (batu Cadas) yang semula berpusat di Tirta Mumbul yang disebut juga Labuan Lombok.

Dengan melihat peran Labuan Lombok sebagai pelabuhan utama di masa itu yang juga menjadi pelabuhan transit para pedagang yang datang dari belahan barat dan timur Nusantara, para pedagang yang beragama Islam sangat besar peranannya dalam proses Islamisasi di Lombok sebelum kehadiran Sunan Prapen. Babad Demak bahkan mengatakan kalau Sunan Kalijaga pernah datang ke Lombok sebelum Sunan Prapen.

Pembauran antara penduduk asli bumi Lombok dan mereka yang eksodus ini melahirkan orang Sasak. Dari analisis berbagai sumber luar terutama Belanda menyatakan bahwa Sasak berasal dari kata shasaka yang berarti meninggalkan tanah asal, kata R. Goris yang merupakan Arkeolog sekaligus Antopolog dalam literaturnya. Ia juga memperkirakan nama Sasak dari kata saksak (sak-sak) yang berarti rakit (bambu) yang dianyam satu per satu sebagai kendaraan untuk meninggalkan tanah asal.

Sedang peneliti lain Roo de la Faille mengemukakan nama Sasak diambil dari nama sebuah kerajaan tua yang pernah ada di lombok yakni di Kedaro (Sekotong) yang disebut juga kerajaan Sasak. Peninggalan kerajaan itu seperti baju besi maupun kramik China dari dinasti Tsung abad XIII masih tersimpan sebagai koleksi di Lombok. Bahkan setelah kerajaan Kedaro Punah, Kerajaan Selaparang juga kerap disebut kerajaan ‘Sasak’. Maka itu Steven Van Der Hagen (1603) yang merupakan laksamana pertama Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) menyebut Lombok sebagai ‘Gumi Sasak atau Gumi Selaparang’ yang kaya raya akan beras. Karena itu juga salah satu gunung di Lombok bernama Gunung Sasak. (red.)

Editor: Dani

Laporkan Konten