in

Melacak jejak Alfred Russel Wallace di Kota Tua tak berhantu

Alfred Russel Wallace

kicknews.today – Setua apa kota bekas pelabuhan Ampenan? Jika rujukannya dengan bukti fisik bangunan-bangunan masa kolonial Belanda yang masih terawat dengan baik, jawabannya lebih kurang satu abad. Setelah perang Lombok di tahun 1896, Belanda butuh waktu sekitar dua dasawarsa untuk membangun sejumlah fasilitas di Ampenan, termasuk penyempurnaan dermaganya.

Namun 40 tahun sebelum itu, pada 1856, seorang lelaki dari Inggris, telah mencatat hasil penemuannya yang terpenting sejak sekunar yang ditumpanginya dari Bali berlabuh di Pantai Ampenan. Dia, Alfred Russel Wallace, sang naturalis itu, sebenarnya tidak mengagendakan perjalanannya ke Pulau Bali dan Lombok. Tetapi, untuk menuju Makassar, wilayah tujuannya, tidak ada jalur langsung dari Singapura ketika itu. Untuk itu ia mesti berlayar menuju kedua pulau itu, dan beberapa lama menunggu tumpangan di Ampenan.

“Setelah meninggalkan Buleleng, kami menempuh pelayaran yang menyenangkan selama dua hari menuju Ampenan di Pulau Lombok. Di sana saya memutuskan untuk tinggal sampai mendapat jalur transportasi ke Makassar,” tulis Wallace dalam The Malay Archipelago, bukunya yang terbit 150 tahun silam.

The Malay Archipelago

Ia tak menyangka sama sekali, sejak menginjakkan kaki di pantai terjal itu, berbagai unggas yang ditemuinya hingga di pedalaman Lombok, tidak sama dengan yang pernah diamatinya di Malaysia, Kalimantan, dan Bali. Lombok dan Bali seolah berbeda benua, ketika Wallace mendengar kicauan friarbird berhelm, burung pemakan madu, kalkun, dan kakatua, unggas-unggas spesifik Australia. Burung-burung ini tidak ia temukan di beberapa wilayah kepulauan Nusantara yang sebelumnya ia kunjungi.

Jika tidak ke Lombok, Wallace mustahil menemukan kunci teori evolusi dari seluruh rangkaian perjalanannya di dunia timur, melalui garis imajiner yang ia buat. Garis hipotesis Wallace itu mengikuti garis patahan bawah tanah, mulai dari ujung selatan Bali dan Lombok hingga ke Selat Makassar yang membelah Sulawesi dan Kalimantan. Sebuah garis yang memisahkan wilayah geografi penyebaran hewan Asia dan Australia.

Di tengah kegairahan memburu spesimen burung dan serangga, Wallace sempat mengamati gelombang pasang yang sangat kuat di Pantai Ampenan. “Kadang-kadang, gelombang ombak naik secara tiba-tiba saat suasana benar-benar tenang. Kekuatan dan kedahsyatannya setara dengan badai puting-beliung, sehingga menghancurkan perahu-perahu yang ditambatkan terlalu rendah hingga berkeping-keping,” ungkapnya.

Tapi penduduk setempat membanggakan gelombang dan ombak ekstrem di Pantai Ampenan. Bahwa gelombang laut mereka selalu lapar dan selalu meminta korban.

Deskripsi Wallace tentang fenomena unik gelombang laut di Ampenan yang dalam oseanografi lazim disebut gelombang internal. Dalam sebuah literatur, deskripsinya itu disebut-sebut pengamatan pertama di dunia tentang gelombang internal di Selat Lombok yang notabene salah satu jalur atau jalan tol air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Beberapa waktu kemudian, Wallace mencatat adanya gelombang seismik yang terjadi di suatu malam di Bulan Juli 1956. “Pada suatu malam saya mendengar bunyi gemuruh aneh. Pada saat yang sama, rumah sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira itu adalah petir,” ujar Wallace.

Air laut tak lama naik hingga jauh melewati garis pantai, dengan ketinggian sekitar dua meter. Wallace menyebutnya gelombang arus. Saat itu belum ada istilah tsunami. Keterangan Wallace itu menjadi suatu rujukan penting para ahli, bahwa Lombok pernah dilanda tsunami yang sebelumnya diawali gempa.

Wallace juga menulis tentang situasi perdagangan di Lombok di paruh abad 19. Beberapa komoditas, diantaranya bebek, kuda kerdil, beras dan kopi, diekspor ke Singapura dan Cina dan pulau-pulau lainnya di Nusantara melalui pelabuhan Ampenan. Kejayaan Ampenan di bidang perdagangan berada di puncaknya di tahun 1840, setelah sejumlah komoditas dari Lombok terkenal sangat unggul dan berkualitas di Asia Tenggara bahkan Asia Timur.

Dalam The Malay Archipelago tak hanya terangkum pengalaman riset ilmuwan karib Charles Robert Darwin itu. Wallace juga menyinggung dunia dimensi lain. Ia menyebut di Lombok tidak ada hantu, dedemit, dan sebangsanya.

Ia mendengar percakapan Ali, pembantunya, dengan Manuel, sahabatnya, seorang Portugis asal Malaka. Ali terheran-heran dan merasa aneh, selama berada di Lombok, ia tidak pernah melihat hantu.

“Kami orang timur, percaya kalau orang mati, apalagi terbunuh, pasti akan ada hantunya. Tetapi di Lombok orang tenang-tenang saja, padahal tidak jarang ditemukan mayat di lapangan atau di jalan-jalan. Ini Aneh!” kata Ali, lelaki dari Melayu-Borneo yang kelak menjadi orang kepercayaan Wallace selama mengembara di belantara di wilayah timur Nusantara.

Map of the ‘Malay Archipelago or East India Islands’ (1854)

Pelesiran Ilmiah

Jika Wallace lebih dominan menulis pengalaman ekspedisi ilmiahnya, di awal 1930an, Johan van Ravenzwaay, seorang penulis Belanda mengungkapkan kekagumannya pada Lombok, sejak ia menjejakkan kaki di pesisir Ampenan.

Dia mengaku mencintai Lombok dan memutuskan tinggal beberapa lama, untuk lebih mengenali banyak hal tentang kehidupan masyarakat setempat, termasuk adat-istiadatnya. “Saya menemukan negeri dengan keindahan dan kesuburan yang tidak biasa, sehingga bisa menyaingi Bali yang terkenal sekali pun. Hamparan sawah kuning keemasan membentang di sepanjang broad military road yang berkilauan dan berwarna indah dengan latar belakang pegunungan biru yang tinggi,” tulis Johan dalam pengantarnya di buku Goden Menshen Heksen Geesten, yang diterbitkan pada 1937.

Johan menggambarkan keindahan Lombok, jauh sebelum terminologi destinasi dan pariwisata dikenal.

Desa-desa di Lombok, demikian Johan, dihuni oleh ras orang-orang cantik yang berbicara dalam bahasa merdu. Udaranya dipenuhi dengan dering lonceng kuda-kuda pengiring dan peluit merdu gerombolan merpati yang telah dilepaskan dan dengan warna biru transparansi, berputar di langit.

“Jauh di atas pulau subur dan indah ini melayang-layang di puncak Rinjani, gunung suci Lombok, yang menjulang hampir empat ribu meter, tempat duduk para dewa yang sejati, tenteram dan tak tersentuh,” ucapnya.

Jika merujuk pada hasil riset Wallace yang mencengangkan dunia itu, secara global, segala potensi Lombok sudah terpublis lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu.

Delapan tahun Wallace menghabiskan waktu menelusuri Nusantara, menghasilkan teori yang mengubah sejarah dunia. Kisah perjalanannya mengilhami banyak kalangan di dunia, mulai dari peneliti hingga seniman. Mereka menelusuri jejaknya, termasuk di Lombok.

Nina Finley, seorang wanita peneliti dari London, salah satu sosok pengagum Wallace. “Saya telah menghabiskan enam tahun terakhir menelusuri jejaknya,” tulisnya dalam blog yang ia beri judul Seleksi Alami.

Ia pernah datang ke Lombok di tahun 2017, dan rela menghabiskan dana dari kantong pribadi 145 USD perhari, hanya untuk dapat memotret beberapa jenis unggas di sejumlah cagar alam.

“Para fotografer seluruh dunia datang ke Lombok untuk mengabadikan gambar burung pitta yang anggun,” katanya.

Dengan demikian, Nina Finley bukan mewakili kalangan turis biasa. Bukan hanya puas dengan suguhan keindahan alam dan kelezatan aneka kuliner Lombok yang spesifik.

Dan di Ampenan, kota tua itu, letak jawaban para pelancong dalam kategori pelesiran ilmiah. Jejak Wallace juga terekam di terjal pantainya, di debur ombaknya yang menggetarkan hati. (BSM)

What do you think?

Written by Buyung Muhlis

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Kolektor keris Se-Nusantara kumpul di Gili Trawangan

Racun lalu potong Kerbau, 2 Pemuda ditangkap Warga di Bima