in

Adakah hubungan gerhana bulan merah darah dengan gempa bumi? begini kata ilmuan..

Tangkapan layar proses terjadinya gerhana bulan

kicknews.today – Pada tahun 2018 lalu gerhana bulan merah darah terjadi lalu kemudian tak berselang lama diikuti dengan gempa dahsyat yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tercatat hingga ribuan gempa terjadi dalam rentang waktu beberapa bulan yang dipicu gempa besar hingga Magnitudo 7 pada skalarichter.

Belum lagi gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 juga terjadi 2 pekan sebelum supermoon 10 Januari 2005, begitu pula gempa 9 SR di Jepang pada 11 Maret 2011.

Karena itu, saat kembali terjadi gerhana bulan merah darah di tahun 2021 ini tepat besok malam,Rabu (26/5), masyarakat merasa khawatir gempa kembali akan terjadi seperti kala itu.

Namun hal itu dibantah oleh ilmuan yang juga Guru Besar bidang geologi di Fakultas Tehnik Sipil Universitas Mataram, Profesor Didi Agustawijaya saat dihubungi di Mataram, Selasa (25/5).

“Tidak ada hubungan secara langsung. Gerhana peristiwa astrinomi sedang gempa peristiwa tektonik bumi,” jelasnya.

Meski demikian dia mengaku belum dalam mempelajari hubungan antara kedua kejadian alam tersebut.

“Secara teori ada disebut expanding universe, tapi dampaknya terhadap gempa mungkin co-insidence saja. Tapi secara pastinya saya belm tahu,” terangnya.

Senada itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Ardhianto Septiadhi mengatakan belum ada bukti ilmiah gerhana bulan sebagai tanda kemunculan gempa.

“Belum ada penelitian yang menunjukkan fenomena gerhana terkait dengan kejadian gempa bumi,” kata Ardhianto.

Dia menjelaskan, fenomena gerhana bulan dipengaruhi oleh letak matahari, bumi dan bulan yang sejajar sehingga cahaya matahari terhalang oleh bumi (pergerakan orbit tata surya). Sedangkan gempa bumi tektonik merupakan peristiwa lepasnya energi akibat patahnya lapisan dari dalam bumi (pergerakan lempeng bumi).

“Sehingga dua hal tersebut merupakan hal yang berbeda penyebabnya,” kata dia.

Namun ada juga peneliti lain yang mengaitkan fenomena tersebut sebagai tanda akan muncul gempa. Namun hubungan terjadi gempa dengan fenomena langit sangat kecil.

“Penelitian lain melaporkan korelasi positif kecil misalnya Kasahara, 2002,” ujarnya.

Sumber lain mengatakan, hasil peneliti Metivier dkk. (2009), menjelaskan ada kemungkinan bahwa pengangkatan akibat pasang surut bumi dapat mengurangi tekanan normal yang mempengaruhi patahan secara bersamaan.

“Beberapa penelitian terbaru oleh Metivier dkk. (2009) menyajikan bukti untuk ini,” katanya.

Namun demikian lanjutnya, jika ada hubungan statistik antara pasang surut bumi dan aktivitas gempa bumi, itu tidak benar-benar membantu dalam hal prediksi gempa karena kita tidak memiliki cara untuk mengukur besaran gaya pada zona patahan.

“Pada saat terjadinya supermoon tarikan gravitasi bulan pada bulan perige pun tidak cukup memiliki perbedaan gaya tarik yang besar dibandingkan dengan waktu lain secara signifikan sehingga tidak mampu mengubah ketinggian pasang surut yang memicu gempa bumi.” ujarnya.

Pendapat lain disampaikan Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja seperti dinukil dari detik yang tegas menyatakan tidak ada kaitan antara kedua fenomena alam tersebut.

“Tidak ada kaitannya. Itu suatu perkiraan orang dihubung-hubungkan orang,” ujar Danny. (red.)

Editor: Dani

Laporkan Konten