in

Pengemis di Mataram masih marak, Dinsos klaim sudah bekerja maksimal

kicknews.today – Maraknya pengemis dan pengamen di Kota Mataram menjadi perhatian publik. Belakangan ini, beberapa pengemis rela membawa kedua anaknya dan meminta-minta di seputaran Jalan Airlangga Wilayah Gomong Mataram.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Hj. Baiq Asnayati mengatakan, pihaknya telah bekerja maksimal dalam menyisir sejumlah wilayah untuk mengantisipasi adanya pengemis dan pengamen di Mataram.

Khusus pengemis usia anak. Pihaknya telah bekerjasama bersama Forum Kerja Sosial Anak Integrasi (FKSAI) kota Mataram untuk menekan maraknya pengemis dan pengamen di Mataram.

“Kita sudah bekerja kok. Bahkan kalau ada anak yang ngemis kita akan bina di FKSAI,” kata Asna, Selasa (1/12) pagi tadi.

Khusus pengemis usia sekolah, pihaknya telah melakukan penjangkauan. Identitas dan alamat pengemis akan dicek dan dikembalikan ke orang tuanya.

“Nah untuk pengemis yang bawa dua anaknya itu kita sudah tahu. Nanti kita akan lakukan penjangkauan,” kata Asna.

Selama ini jelas Asna, pengemis di Mataram masih suka berkeliaran di sekitar Islamic Center, Gomong dan Wilayah Cakranegara Mataram.

“Kita coba lihat dulu. Nanti kita akan ngetam di beberapa tempat untuk melakukan penjangkauan. Karena cuaca ini juga kadang mereka muncul di lain waktu,” kata Asna.

Ia pun mengklaim, selama ini Satgas Sosial di Dinas Sosial Kota Mataram telah bekerja maksimal dalam menyisir beberapa lokasi untuk mengamankan pengemis dan pengamen di Mataram.

Sejauh ini lanjut Asna, pihaknya telah memberikan imbauan kepada pengemis dan pengamen yang kedapatan ngetam di Matatam. “Kalau ditemukan kadang tidak dibawa ke kantor. Kita cek datanya dulu,” katanya.

Ditemui di sekitaran wilayah Gomong. Dua orang pengamen yang enggan menyebut identitasnya tersebut mengatakan bahwa mereka sengaja ngamen untuk membeli keperluan sehari-hari.

“Kalau gak ngamen ga makan. Biasanya dapat Rp80 ribu sehari,” katanya kepada kicknews.today.

Ia pun tidak mengetahui, jika wilayah Mataram bebas dari pengemis dan pengamen. “Gatau kalau dilarang. Kalau dilarang juga kami akan tetap ngamen,” pungkas dua remaja tersebut.(Vik)

What do you think?

Member

Written by ahmad

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Dewan Sebut Dispar Lombok Timur tak mampu pancing Dana Pusat dan Investor

Seorang Pria di Lombok Tengah Gendong Anaknya Umur 9 Bulan Sambil Berjualan