in

Mengenang 4 tahun gempa Lombok dan air mata TGB

Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi tak mampu menahan tangis saat mengunjungi korban gempa di Lombok Utara tahun 2018.
Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi tak mampu menahan tangis saat mengunjungi korban gempa di Lombok Utara tahun 2018.

kicknews.today- Hari ini, tepat 5 Agustus empat tahun silam terjadi bencana besar di Pulau Lombok. Gempa bumi dengan kekuatan 7,0 SR meluluhlantakkan rumah warga dan fasilitas umum. Tercatat 555 korban akibat bencana itu.

Peristiwa itu terjadi pada hari Minggu sekitar pukul 19.15 Wita. Tepat saat warga menuaikan shalat Isya. Malam itu, alam menunjukan kekuatannya yang begitu dahsyat. Masyarakat syok hingga mengalami trauma yang luar biasa. Suara tangisan menggema setiap sudut tanah Sasak.

Listrik di beberapa wilayah padam, menambah ketakutan mereka. Orang tua lari menyelamatkan anak bayi mereka. Sementara anak-anak lain yang sedang asyik bermain lari ketakutan menuju jalan raya mencari pertolongan.

Gempa Lombok menjadi salah satu bencana terbesar di Indonesia. Lombok Utara dan Lombok Timur menjadi wilayah terparah akibat gempa kala itu.

Ribuan rumah hancur, jalan raya retak, jembatan roboh hingga terjadi longsor yang menewaskan ayah dan dua anaknya. Bahkan, sebagian besar wilayah Lombok Utara terisolir. Akses masuk transportasi sulit. Gang dan jalan tertutup reruntuhan puing bangunan.

Guncangan dahsyat itu berlalu, namun beberapa gempa susulan terus menggetarkan tanah Lombok hingga esoknya. Sebagian besar masyarakat pesisir mengungsi karena takut terjadinya tsunami.

Tidak sedikit juga berlindung di halaman rumah atau lapangan dengan menggelar tikar. Tenda-tenda darurat pun dibangun di sejumlah tempat yang aman.

Gubernur NTB, Dr. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Lc M.A saat itu turun langsung ke lokasi gempa di Lombok Utara. Di lokasi TGB sampai tak kuat menahan tangis. Dengan derai air mata, TGB jalan di sela-sela reruntuhan bangunan.

Kedatangan TGB saat itu didambut haru warga di Lombok Utara. TGB juga ikut memimpin doa untuk warga yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan di Kayangan saat itu.

Lombok Utara memang menjadi salah satu wilayah terparah akibat guncangan gempa. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berpusat di Lombok Timur dengan berkekuatan 7,0 SR dengan kedalaman  15 kilometer. Merupakan gempa tektonik dengan episenter pada 8,30 derajat Lintang Selatan dan 116,48 derajat Bujur Timur. Tepatnya di lereng utara timur laut Gunung Rinjani atau sekitar 18 kilometer arah barat Lombok Timur.

Gempa itu juga termasuk dangkal, yang terjadi akibat patahan naik Flores. Hampir sama dengan gempa yang terjadi pada sepekan sebelumnya.

BMKG Mataram juga menyebutkan terdapat beberapa fakta terkait gempa Lombok 2018. Pemicunya adalah sasar Flores back arc thrust yang berada di utara pulau Lombok.

Episenter gempa Lombok terjadi di daratan sehingga menimbulkan kerusakan yang masif di daratan.  Gempa Lombok menghasilkan tsunami kecil dengan ketinggian 13 centimeter di Pelabuhan Carik. Gempa Lombok menghasilkan susulan yang cukup besar dan menyebabkan kerugian materi yang cukup besar. Guncangannya dirasakan secara meluas hingga Pulau Jawa.

Hingga kini gempa Lombok masih membekas. Beberapa rumah warga dan fasilitas umum seperti sekolah belum sepenuhnya diperbaiki.

Salah satunya, di daerah pelosok Lombok Timur yakni Pohgading, Kecamatan Pringgabaya. Kondisi itu pun dikeluhkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur, Daeng Paelori.

“Ada beberapa SD pasca gempa 2018 sampai hari ini belum diperbaiki, seperti salah satu SD yang saya kunjungi di Desa Pohgading,” ucap Daeng Paelori dikonfirmasi, Selasa lalu (26/7).

Daeng mengaku prihatin dengan kondisi sekolah tersebut. Bahkan pihak sekolah tidak tidak menerima siswa baru, karena kondisi bangunan rusak dan tidak layak dipakai. Solusinya harus dirobohkan dan dibangun baru. Kalau tidak, itu akan berbahaya bagi siswa.

Kenyamanan belajar siswa menurut dia harus diprioritaskan. Tentu hal itu harus didukung kualitas bangunan yang memadai. Belum lagi kata Daeng, jarak orbitasi antara rumah siswa dan sekolah 1 kilometer lebih.

Mirisnya, pasca gempa sekolah tersebut sama sekali tidak tersentuh bantuan. Sementara sekolah-sekolah sebagian besar mendapat bantuan pusat dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Kami harap pihak Dinas Kebudayaan dan Pendidikan bisa mempertimbangkan hal itu,” harapnya.

Sekolah dasar di Pohgading menurut Daeng, mestinya diprioritaskan. Mengingat kondisi bangunannya sudah rusak parah.

Justrus yang dapat bantuan selama ini yakni AD yang bangunannya masih bagus. Harusnya didahulukan adalah sekolah yang rusak parah.

Daeng juga menyinggung soal pembahasan yang selalu beralaskan anggaran. Berbicara soal anggara itu tidak ada istilah tidak mampu, jika pemerintah memiliki keinginan. Karena, kalau terlalu mengharapkan dana dari pusat itu tidak bisa, harusnya gencarkan melalui dana daerah.

“Tidak ada yang tidak bisa. Bangun jalan saja sampai ratusan miliar kita mampu, walaupun dengan hutang. Apalagi bangun sekolah,” pungkasnya. (jr)

Editor: Juwair Saddam

Laporkan Konten