in

Dilema PS di Senggigi, antara Berburu Rupiah dan Pertahankan Harga Diri

Ilustrasi PS
Ilustrasi

kicknews.today – Kawasan Senggigi, pusat wisata dan hiburan malam di Lombok Barat tak putus mengabarkan beragam cerita. Tentang eksotisme pantai sampai sekelumit suasana malam yang “hidup” dengan dunia gemerlap (dugem).

Sisi lain yang masih terus mengabarkan cerita manis getirnya adalah hiburan karaoke yang tidak jauh dari belaian perempuan-perempuan seksi yang biasa disebut Patner Song (PS).

Oleh sebagian orang, Senggigi justru diasumsikan sebagai sumber hal-hal buruk, salah satunya anggapan sebagai sumber kemaksiatan.

Pasalnya banyak PS tidak sekedar menemani lelaki yang mem-booking, lebih dari itu bisa memberi service lebih.

Ini memang seolah jadi rahasia umum. Pengunjung kafe dan diskotik tertentu bisa bebas booking para PS dan membawanya ke hotel dengan kesepakatan tarif variatif.

Tapi stigma itu tak sepenuhnya benar. Ada juga yang masih bisa membatasi diri dengan hanya menjadi pemandu lagu.

Jum’at (15/7) malam, kicknews mencoba menelusuri cerita-cerita itu dengan mendatangi beberapa kafe di sekitar Batulayar dan Senggigi. Tiba di pintu salah satu kafe, sejumlah PS ramah menyambut. Beberapa diantaranya di jari lentiknya menjepit batang rokok. Di sudut sebuah ruangan, seorang perempuan dengan ekspresi sedikit berbeda, mengomandoi para PS untuk segera melayani para pengunjung yang datang. Dia dikenal dengan sebutan ‘Mami’. Ia lah yang bertanggungjawab untuk mengkoordinir semua PS di sana. Tidak hanya menjaga, ia juga memastikan supaya para pengunjung yang mayoritas adalah laki-laki mendapatkan pelayanan nomor terbaik dari para PS.

Mencoba menelusuri bagaimana lika-liku para pemandu lagu yang larut dalam kehidupan malam di Senggigi, kicknews.today mendapati banyak cerita.

Asumsi buruk dari banyak orang tentang kehidupan mereka. Jika ditelisik lebih jauh, mereka sebenarnya justru tak pernah ada mau untuk “menyerahkan diri” kepada pengunjung dan pelanggannya.

Cerita itu datang dari Wawan Gunawan. Dia bekerja untuk kafe tersebut sebagai seorang ‘Papi’. Papi adalah sebutan orang yang mencari PS keluar daerah untuk dibawa ke Lombok. Dia sering “berburu” ke Bandung, Jawa Barat untuk dipekerjakan di Senggigi.

PS pada dasarnya, menurut dia, pekerjaan yang sah-sah saja, karena mencari nafkah dengan menghibur memanfaatkan suara merdu mereka. Itulah tujuan utama pekerjaan ini.

Sejak tahun 2004, Wawan adalah orang yang sering keluar masuk kafe untuk membawa PS dari daerah lain ke kawasan Senggigi. Hal ini bahkan masih dijalankannya hingga saat ini. “Saya sudah dari dulu cari ladies untuk kerja di kafe. Kadang kalau kafenya nyari ya saya yang pergi, mereka sebenarnya sama seperti kita. Niatnya untuk kerja,” tuturnya.

Sebelum mencari dara-dara segar asal Jawa Barat, Wawan terlebih dulu melakukan kesepakatan dengan kafe tertentu. Dari setiap perempuan yang berhasil dia bawa, dia mendapatkan upah hingga Rp 500 ribu. Umumnya Wawan selalu menyakinkan para perempuan tersebut dan tidak ada yang ditutup-tutupi kepada pihak keluarga.

Dirinya menjelaskan proses kerja selama di Lombok. Keterbukaan ini justru membuat gadis-gadis Sunda kepincut untuk mengadu nasibnya menjadi Patner Song. “Saya selalu jelaskan apa adanya, kalau Anda ke sini pekerjaanya seperti ini. Begitu pula dengan orang tuanya, kami katakan ini bukan pekerjaan yang berbau prostitusi. Biasanya sekitar 10 orang lebih bisa saya bawa,” jelasnya. Setibanya di Lombok, calon PS langsung dibawa ke mess kafe sebelum menandatangani kontrak kerja berdurasi sesuai kesepakatan.

Jika ada PS yang ingin pulang kampung sebelum masa kerja tuntas, mereka akan dikenakan denda sebagaimana isi kontrak. Lalu hal apa yang menyebabkan perempuan itu diklaim sebagai objek prostitusi? Menurut pria dengan berewok tipis ini, faktor situasi dan keadaan lingkungan sekitar cukup menentukan. Manakala yang dominan warga Lombok kesengsem dengan keanggunan serta kemolekan tubuh PS, sehingga meminta untuk booking out (BO).

Dia menegaskan, tidak semua kafe di wilayah Batulayar maupun Senggigi menerapkan sistem itu. PS yang mau di BO adalah oknum yang bertransaksi di luar jam kerja, di luar sepengetahuan perusahaan.

“Ada yang memang begitu, ada yang niatnya benar-benar ingin kerja, tentu faktor desakan ekonomi jadi pengaruhnya. Selain itu tidak semua mau (BO, red), mereka juga pertimbangkan kedekatan emosional, jika PS-nya nyaman, Rp 500 ribu saja bisa di BO. Tapi kalau nggak nyaman, Rp 10 juta belum tentu mau,” kata dia.

Perlakuan tamu terhadap para penggiat hiburan malam ini tentu bermacam-macam. Ada yang baik, buruk, hingga kasar. Sebagai pelayan, para PS tidak bisa menolak permintaan dan keinginan si tamu. Nah, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sebuah Paguyuban (semacam organisasi) Sunda sudah dibentuk beberapa tahun lalu. Tujuannya yaitu untuk mengakomodir keluh-kesah serta memberikan perlindungan ketika ada PS yang mendapat perlakuan tak pantas.

“Paguyuban ini positif agar semua bisa kerja sesuai aturan, kan kita nggak tahu ya, kalau mereka dibawa ke sana-sini dan orang yang bawa tanggungjawab atau tidak. Misalnya dia dibawa terus dianiaya sampai meninggal, tentu paguyuban itu yang perjuangkan haknya,” bebernya.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, saat ini PS menjamur dan tarifnya makin murah dan bisa diperlakukan seenaknya. Paguyuban ini ingin supaya PS dapat mempertahankan harga dirinya.

Sebagai seorang perempuan yang dekat akan hiruk-pikuk dunia malam dan berbagai macam pria, ada rasa takut, senang, dan terhibur ketika menemui pengunjung yang baik. Pada dasarnya, karakteristik wanita tidak bisa diubah, yakni berperilaku feminim, ingin dimanja, dan mendapat perlindungan.

Setidaknya hal itu yang dirasakan oleh salah seorang eks PS di Senggigi, sebut saja Nila yang telah melanglang buana di beberapa kafe. “Sifat tamu ada dua, ada yang datang cari sekadar hiburan dan yang cari wanita. Biasanya yang kasar sampai mukul sih nggak, tapi kalau resek banyak (megang-megang dan menggoda),” ungkapnya.

Dijelaskannya, selama sekitar 8 tahun lebih berprofesi sebagai PS, tidak jarang para tamu justru ingin mendapat sesuatu yang lebih. Dirinya tak menampik ada PS yang memang “nakal” dalam arti menyambut niatan pria-pria hidung belang dan ada pula yang teguh pada prinsip dan jati diri.

Baginya, mencari nafkah dengan memandu lagu adalah alasan ia meninggalkan keluarganya, bukan malah hal-hal lain. “Pekerjaan ini nggak gampang, tapi mau gimana lagi. Biasnya yang resek kita ingetin secara halus. Kalau ada yang minta berhubungan badan ditolak dengan cara beralasan. Sebab tujuan ke sini itu cari uang sebagai Patner Song, bukan lain-lain,” akunya.

Don’t judge a book by its cover” istilah ini yang barangkali tersirat ketika berjumpa dengan sejumlah PS. Sebab mereka juga manusia yang berjuang untuk hidupnya, pekerjaan itu hanya sebatas sarana mencari nafkah. Namun bukan berarti masyarakat bisa cap perempuan malam itu dengan berbagai persepsi yang kebenarannya pun masih samar-samar. Kalau kemudian ada yang menerapkan praktik-praktik prostitusi di tempat hiburan tersebut, yakinlah ini bukan persoalan adat budaya apalagi mengenai kepercayaan. Melainkan sikap secara personal.

Jurnalis: Angger Rico Winanda

What do you think?

100 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Video: Kagumi Gili Trawangan, Ridwan Kamil ajak Pengusaha Bandung Berinvestasi

Pemuda Kreatif Gagas Kampung Edukatif di Pinggiran Pulau Lombok