in

Nasib perempuan buruh tani di Lombok Tengah

Ilustrasi buruh tani perempuan

kicknews.today – Jumine, perempuan buruh tani berusia 32 tahun yang kesehariannya dipenuhi kegundahan ketika musim bertani telah usai. Ia harus siap-siap mengikat pinggangnya kencang-kencang jika hari itu tiba. Masa-masa tanpa penghasilan akan kembali ia lalui.

Jika diwaktu musim bertani, pemasukan 30 ribu perharinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama suami dan uang saku anaknya yang saat ini sedang bersekolah di Tsanawiyah dekat tempat tinggal mereka. Saat musim bertani selesai, perempuan dengan sapaan akrab Mine ini akan kembali menjadi pengangguran.

Keadaan serupa terus dialaminya dari tahun ketahun sejak dirinya menikah belasan tahun silam. Tak ada perubahan. Lapangan pekerjaan alternatif untuk dirinya yang lulusan SD tak kunjung tersedia.

Peluang-peluang lain tak ada yang datang menghampiri. Padahal sebagian besar tetangganya mengatakan ia sangat pekerja keras, etos kerjanya tinggi. Dia selalu menjadi yang pertama menyelesaikan pekerjaan yang menjadi bagiannya. Ia tidak pernah mengecewakan tuan yang membayarnya.

Perempuan yang tinggal di Lombok Tengah bagian selatan ini benar-benar bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber utama mata pencahariannya. bukan tanpa upaya ketika sumber pemasukan andalannya tercekat. Ia mencoba mencari bermacam-macam peruntungan lain tapi belum jua berjalan sesuai yang diharapkan.

Mine, pernah mencoba berjualan keliling. Bukannya untung malah buntung, barang dagangannya habis dihutangin “nggak ngasih pelanggan berhutang, nggak laris. Tapi ya gitu setelah laris jangankan untung modalpun melayang” ucapnya sambil tersenyum getir ketika diwawancarai kicknews.today, Kamis (29/10).

Ibu satu anak ini  juga pernah mencoba menjadi pelayan warung di ibukota NTB, Kota Mataram. Namun, dia berhenti karena sekolah anaknya jadi terbengkalai. Anaknya ngotot harus ikut ke lokasi kerja setiap dia pergi bekerja. Suaminya saat itu sedang menjadi Pekerja Migran Indonesia di negeri jiran. Belum sempat dapat kiriman bulanan rutin, suaminya pulang karena sakit.

Mine harus menerima kenyataan pahit yang terus dijalaninya, dengan tetap menjaga asa mungkin akan ada sosok yang memahami dan melihat situasi yang dialaminya sebagai hal yang urgent dan prioritas diperjuangkan. (red)

What do you think?

Chief Everything Officer

Written by Redaksi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Debat pertama, Empat Paslon Walikota dan Wakil Walikota Mataram sampaikan Visi-Misi

Investasi macet, pemilik Dapur Emak Caca ditahan Polres Mataram