in

Lombok Tengah bersatu “perangi” Stunting

Pemerintah Lombok Tengah (Loteng) bersama para kepala desa (Kades) melaksanakan rembuk stunting, Selasa (30/3).

kicknews.today – Pemerintah Lombok Tengah (Loteng) bersama para kepala desa (Kades) menggelar acara “Rembug Stunting “, Selasa (30/3). Hal ini dilakukan untuk merumuskan berbagai cara dalam menangani kasus stunting yang masih tinggi. Salah satunya bagaimana rencana kontigensi yang diperlukan dalam menangani penyakit kerdil itu.

Wakil Bupati Loteng, H M Nursiah mengatakan, kinerja penanganan stunting saat ini memang sudah lumayan bagus. Dimana dari tahun 2013 sebanyak 47,8 persen kasus stunting dan atas kinerja semua element, angka stunting saat ini bisa menurun drastis pada tahun 2020 lalu yang mencapai 27,79 persen.

“Jadi harus kita sukuri dan ini karena keterlibatan kita semua. Ini sinergitas antara eksekutif dan legislatif dan kalau kita mengukur Sumber Daya Manusia (SDM) memang ada peningkatan dan dalam menjaga ini, tinggal kita aktif dipelayanan tingkat bawah,” ujarnya saat memberikan arahan dikegiatan rembuk stunting di ruang rapat utama kantor Bupati setempat.

Oleh sebab itu, penting ada rencana kontigensi stunting yang harus dibuat. Sehingga kedepan dalam menangani stunting ini, siapa melakukan apa dengan cara apa bagaimana dan lain sebagainya bisa tertata dengan bagus dan penekanan angka stunting juga bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Dengan menejemen penanganan maka kedepan bisa terukur yang kemudian bukan hanya rembuk tapi ada rekomendasi. Kita harus punya kapasitas manajemen dan Puskesmas akan menjadi tolak ukur kedepannya yang bersinergi dengan Desa,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota komisi IV DPRD Loteng, Legewarman menegaskan bahwa dalam menangani kasus stunting maka di Lombok Tengah, paling tidak punya visi dan komitmen yang sama untuk memberantas stunting. Pihaknya juga sangat mengapresiasi capaian yang diraih saat ini dalam hal menekan kasus stunting ini.

“Kalau kita lihat sudah termasuk luar biasa dari 2013 yang tinggi dan bisa ditekan hingga tahun 2020. Kita beharap angka 27,79 persen kasus saat ini, bisa diselesaikan dimasa kepeminpinan saat ini,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dikes Lombok Tengah, Maskuriadi mengatakan, saat ini Pemda berkomitmen dalam penanganan dan penanggulangan stunting. Ini terbukti dengan ditetapkannya 17 lokus tahun 2020 dan 23 lokus tahun 2021.

“Saat ini juga kita bahas untuk penambahan lokus baru ditahun 2022 yang angka stuntingnya tertinggi, sebagai prioritas penanganan dan penanggulangan stunting,” ujarnya.

Disampaikan juga jika dari tahun ketahun angka stunting di Lombok Tengah menunjukan trand penurunan. Ini dilihat dari riset kesehatan dasar ( Riskedes) Lombok Tengah tahun 2013 menunjukan prevalensi stunting mencapai 47,8 persen dan data hasil pemantauan status gizi di Lombok Tengah tahun 2017 menunjukan angka stunting 39,1 persen.

“Sedangkan tahun 2018 angka stunting turun menjadi 31,05 persen dan tahun 2020 juga menunjukan trand penurunan yaitu 27,79 persen. Bukan hal yang mustahil angka yang 14 persen yang ditargetkan pemerintah dapat kita capai asalkan masalah ini dilakukan secara konvergensi atau keroyokan,” pungkasnya.(ade)

Editor: Redaksi

Laporkan Konten