in

Digusur proyek Smelter, petani di KSB meradang

Salah satu warga yang protes lahannya digusur

kicknews.today – Proyek pembangunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), menuai masalah. Petani meradang, karena merasa digusur sepihak oleh Pemda setempat. Bahkan ada yang digusur malam hari.

Informasi dari tim advokasi warga, ada 171 petani di KSB yang lahan pertaniannya terdampak pembangunan smelter.

“Salah satu pemilik lahan bernama H. Yandri datang kepada kami meminta bantuan, karena lahannya kena gusur,” ungkap tim advokasi warga, Yan Magandar Putra, SH.,MH. saat dikonfirmasi, Sabtu (25/09).

Ia mengatakan, ada dugaan pelanggaran yang terjadi dalam penggusuran tersebut. Bahkan ia menyebut, jika penggusuran terhadap lahan H.Yandri bagian dari persekusi yang mengatas namakan adat.

Yan mengaku, sudah ada tiga orang datang dengan kasus yang sama. Bahkan kliennya merasa diintimidasi.

Bagi dia, dialami H. Yandri terdapat unsur pelanggaran HAM sebab tanpa pemberitahuan lahannya digusur pada malam hari sekitar pukul 21.00 wita.

“H. Yandri ingin melihat lahannya sendiri saja. Sehingga tidak mengetahui siapa yang menggusur,” ungkapnya.

Yan juga mengatakan, sampai saat ini masyarakat tidak menerima dengan adannya penggusaran tersebut. Selain itu, ganti rugi yang ditawarkan pemerintah sangat rendah, sehingga banyak warga yang enggan melepas lahannya.

Dia menyebutkan, H.Yandri dan warga lainya meminta dipertemukan dengan perwakilan pihak perusahaan yang akan membangun smelter. Hanya saja, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat tak mau memediasi.

“Dalam waktu dekat kita akan melaporkan hal ini ke Ombudsman dan Komnas HAM sebagai langkah hukum yang ingin ditempuh,” tutur Yan.

Sementara H. Yandri membenarkan bila lahannya seluas 62.00 m2 atau 62 are digusur untuk dijadikan smelter. Padahal diatas lahan ditanami berbagai tanaman produktif.

“Bukan saya tidak ingin merelakan lahan tapi harga yang ditawarkan sangat rendah. Dan ada yang sudah mendapat bayaran, merasa terzolimi karena harga yang ditawarkan,” akunya. (nur)

Editor: Deo

Laporkan Konten