in

Sejumlah warga Kota Bima rayakan Idul Fitri lebih awal

Ratusan warga Kota Bima melaksanakan shalat Idul Fitri 1443 H pada Minggu (1/5) atau lebih awal dari penetapan pemerintah di halaman Pondok Pesantren Darul Ulumi Wal Amali, Kelurahan Ntobo Kecamatan Raba.
Ratusan warga Kota Bima melaksanakan shalat Idul Fitri 1443 H pada Minggu (1/5) atau lebih awal dari penetapan pemerintah di halaman Pondok Pesantren Darul Ulumi Wal Amali, Kelurahan Ntobo Kecamatan Raba.

kicknews.today- Sejumlah warga Kota Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) melaksanakan shalat Idul Fitri 1443 H pada Minggu (1/5) atau lebih awal dari penetapan pemerintah. Shalat untuk merayakan kemenangan 1 syawal tersebut digelar di halaman Pondok Pesantren Darul Ulumi Wal Amali, Kelurahan Ntobo Kecamatan Raba Kota Bima.

Ratusan jamaah memenuhi halaman tersebut sejak pukul 06.30 Wita. Para jamaah bukan hanya berasal dari Kelurahan Ntobo. Tetapi ada pula dari kelurahan lain seperti Rite, Rontu, Panggi dan lai-lain.

Shalat Idul Fitri berlangsung hikmad. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Drs H Muhammad Afandi Bin H. M. Ibrahim Al-Maqbul.

“Kami mengawali 1 Ramadhan pada 1 April. Jadi kita sudah berpuasa selama 30 hari,” jelas Imam Shalat, H Afandi.

Metode hisabiyah menurut orang tuanya yang pernah belajar Syekh Abdul Hamid Bin Suhud di Mekkah pada 1902 itu, penentuan 1 Ramadhan ada dua metode. Yakni al hisabiyah bil goibiah, yakni dengan melihat tanah dan tidak melihat bulan.

Kemudian, al hisabiyah bi nadariah yakni dengan cara melihat tata letak bulan. Mulai dari tanggal  1 hingga pergantian bulan.

“Itu yang kita pakai sekarang. Misalnya ketika bulan ke 7 letaknya dimana, begitupun dengan bulan ke 14 dan hari berikutnya,” kata Afandi.

Penentuan 1 ramadhan atau syawal tidak sepantasnya diperdebatkan. Dalam AlQuran jelas disebutkan, ‘kalau kamu sudah sempurna menghitungnya, bertakbirlah’.

“Yang repot itu orang tidak puasa. Bahkan sejak zaman nabi Muhammad SAW perbedaan memulai puasa sudah biasa. Saya pernah baca salah satu kitab dimana Rasulullah berpuasa di Madinah berbeda dengan masyarakat di Mekkah,” katanya.

Penentuan Ramadhan sudah jadi turun temurun melaksanakan puasa bulan suci Ramadhan hingga Idul fitri lebih awal. Cara hitungnya pun tidak asal-asalan.

“Yang jelas saya tidak ikut mazhab idrisiyah, syadziliyah ataupun ahmadiyah. Saya hanya mengikuti ahlul sunnah waljamaah,” pungkasnya. (jr)

Editor: Juwair Saddam

Laporkan Konten