in

Diduga hina wafatnya Ust Zulkarnain, oknum Notaris di Mataram diancam dipidana

Ilustrasi bermain media sosial (Pos Kupang)

kicknews.today – Notaris perempuan inisial NPRS di Kota Mataram NTB diduga lecehkan ulama. Dugaannya mengarah kepada Almarhum Ustad Tengku Zulkarnain yang baru baru ini meninggal akibat Covid -19.

Postingan  diunggahnya pada akun “Ni Putu Rediyanti Shinta”, Senin (10/5) kemarin. NPRS mengunggah tulisan yang diduga melecehkan Almarhum Ustad Tengku Zulkarnain usai dinyatakan meninggal pada, Senin (10/5) petang.

“Syukurlah… Satu persatu perusuh bangsa tersingkirkan. Entah wafat atau dipenjara. Yg wafat akhirnya ketemu deh sm ribuan bidadari syurga nya,” tulis Ni Putu Rediyanti Shinta, Senin, 10 Mei 2021 kemarin.

Postingan tersebut mendapat komentar pedas hingga kecaman dari  warganet. Usai mendapat reaksi komentar beragam, akun Facebook milik NPRS kemudian memposting permintaan maaf melalui video berdurasi 1 menit 6 detik pada Selasa (11/5

Tanggapan keras itu muncul dari salah satu Pembina Lentera Hati Islamic Boarding School Jati Sela Gunung Sari Lombok Barat,  MA Muazar Habibi. Dalam video berdurasi 4.54 menit yang diunggah melalui Facebook pada Selasa (11/5), Muazar Habibi menyebut postingan itu sudah mencederai perasaan ummat. Pelaku, katanya, membuat status seolah olah bergembira dan melecehkan almarhum Tengku Zulkarnain. 

“Saya baca walaupun akunnya sudah dimatikan oleh NPRS. Pelecehan terhadap ulama dan syariah memang luar biasa. Dengan kata-kata yang vulgar. Dengan kata kata yang tidak senonoh dan itu menandakan intoleransi menandakan mereka tidak memiliki rasa kebhinekaan sama sekali,” sesal Muazar.

Ia mencontohkan, NTB merupakan daerah yang terkenal dengan rasa kesejukan beragama. Akan tetapi kalau ini dibiarkan saja. Maka akan menjadi preseden yang kurang baik bagi ummat beragama di NTB. 

“Walaupun NPRS itu sudah melakukan klarifikasi dan meminta maaf, tetapi permintaan maafnya tidak spesifik. Padahal kalimat yang ditulis di status itu orang awam pun akan tahu arah tujuannya ke mana,” terangnya.

“Saya menebak saya bukan ahli bahasa. Tetapi tebakannya diarahkan kepada ustadz Tengku Zulkarnain,” lanjut Muazar dalam videonya.

Oleh sebab itu, atas mana  pribadi, walaupun yang bersangkutan NPRS sudah meminta maaf. Sebagai sebagai pengasuh pondok pesantren dan tokoh agama telah  memaafkan permohonan yang bersangkutan secara harfiah. 

“Tetapi secara hukum saya akan tetap Koordinasi dengan Ormas dan pesantren Lentera hati pun akan tetap memiliki konsultan hukum. Maka nanti akan tetap kami proses secara hukum agar preseden pelecehan terhadap simbol-simbol agama ulama dan syariah Islam tidak terjadi lagi di kemudian hari,” jelas Muazar.

Terkait reaksi atas postingan itu, NRPS pun menyampaikan klarifikasi dan minta  maaf. 

“Assalamualaikum, yang saya muliakan. Para kiyai para ulama. Tokoh Agama, tokoh masyarakat dan ormas beserta segenap ummat islam. Dari lubuk hati yang terdalam saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin terkait dengan adanya kekhilafan dan kesalahan saya sebagai manusia biasa. Berkenaan dengan postingan di media sosial Facebook. Demi Tuhan saya tidak mempunyai niat untuk mendiskreditkan pihak siapa pun. Terutama kepada para kiyai. Ulama tokoh masyarakat. Sehingga telah menciderai perasaan ummat islam,” ujarnya. 

“Demikian permohonan maaf ini saya sampaikan kiranya dapat diterima baik oleh semua pihak. Dan sekaligus dalam kesempatan ini saya menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin,” ujar NPRS.

Diketahui, Ustad Tengku Zul sapaan karibnya menghembuskan napas terakhir di RS a, Jalan Sudirman, Pekanbaru ba’da Magrib usai melawan Covid-19 yang menggerogoti tubuhnya sejak pekan lalu. (vik)

Editor: Nurul

Laporkan Konten