Pertumbuhan ekonomi NTB 2025 capai 3,22 persen

Ilustrasi.

kicknews.today – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2025 mencapai 3,22 persen. Capaian tersebut ditopang kembali beroperasinya ekspor konsentrat tembaga, akselerasi industri pengolahan, serta kinerja positif sektor pertanian dan perdagangan.

Kepala Perwakilan BI NTB, Hario Kartiko Pamungkas menjelaskan perlambatan ekonomi global sempat menahan laju pertumbuhan daerah. Kondisi itu diperparah dengan terhentinya ekspor konsentrat tembaga pada sebagian besar 2025. Namun, ekonomi NTB mulai menunjukkan pemulihan signifikan pada triwulan IV setelah ekspor kembali direalisasikan.

“Memang ada perlambatan global, tapi khusus NTB kita tahu tahun 2025 sempat ada larangan ekspor konsentrat tembaga. Baru direalisasikan lagi di triwulan empat dan itu langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Hario, Selasa (10/02/2026).

BI mencatat, struktur ekonomi NTB masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Meski demikian, kinerja ekonomi non-tambang justru menunjukkan tren menggembirakan. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi non-tambang mencapai 8,54 persen, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ini kabar baik. Artinya NTB mulai memperkuat sumber pertumbuhan dari sektor non-tambang,” katanya.

Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi NTB didorong akselerasi industri pengolahan seiring beroperasinya smelter tembaga, serta peningkatan kinerja sektor pertanian dan perdagangan. Pada 2025, pangsa lapangan usaha terbesar masih ditempati sektor pertanian sebesar 21,89 persen, diikuti industri pengolahan 16,51 persen, dan perdagangan 14,53 persen. Utilisasi industri pengolahan tercatat mencapai 69 persen dan diproyeksikan terus meningkat.

Dari sisi kesejahteraan, sejumlah indikator sosial menunjukkan perbaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan di NTB turun menjadi 11,38 persen. Proporsi pekerja formal meningkat menjadi 33,45 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik menjadi 73,97. Tingkat pengangguran terbuka juga membaik, dari 3,6 persen pada Agustus 2025 menjadi 3,5 persen pada November 2025.

Sementara itu, sektor keuangan daerah menunjukkan kinerja solid. Kredit perbankan di NTB tumbuh 22,14 persen secara tahunan (year on year) per Desember 2025, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) menurun menjadi 1,75 persen. Pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor pertambangan.

Namun demikian, BI menyoroti perlambatan penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terkontraksi sekitar 9 persen. Rasio NPL UMKM tercatat mencapai 6,18 persen, melampaui ambang batas ideal 5 persen.

“Ini menjadi perhatian kami bersama perbankan, terutama pada sektor pertanian dan konstruksi yang NPL-nya relatif tinggi,” ungkap Hario.

Dari sisi harga, inflasi NTB sepanjang 2025 tercatat sebesar 3,1 persen, masih berada dalam target nasional. Namun, pada Januari 2026 inflasi tahunan meningkat menjadi 3,86 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Lombok Utara sebesar 4,82 persen, sedangkan terendah di Kota Mataram sebesar 3,69 persen.

BI mencatat kenaikan harga emas global serta cuaca buruk yang memengaruhi produksi perikanan dan hortikultura menjadi pemicu utama tekanan inflasi.

Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, BI mengingatkan adanya potensi peningkatan tekanan harga. Meski demikian, Hario optimistis inflasi NTB tetap dapat dikendalikan melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama pemerintah daerah.

“Kami optimistis dengan koordinasi yang kuat, inflasi NTB pada 2026 bisa dijaga di kisaran target nasional, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI