in

Hari keempat, 272 meninggal dan 39 belum ditemukan akibat Gempa Cianjur

Kondisi TK PGRI Cugenang yang rusak akibat gempa yang terjadi pada Senin lalu (21/11) di Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11). foto: antara
Doc. Kondisi TK PGRI Cugenang yang rusak akibat gempa yang terjadi pada Senin lalu (21/11) di Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11). foto: antara

kicknews.today – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sebanyak 272 korban meninggal dunia di hari keempat pasca bencana gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Angka tersebut naik satu korban setelah BNPB menyatakan pada hari sebelumnya, Rabu (23/11), ada sebanyak 271 korban meninggal dunia akibat gempa berkekuatan 5,6 magnitudo pada Senin (21/11).

“Karena hari ini ditemukan satu jenazah atas nama ibu Nining umur 64 tahun, sekarang jadi 272 (korban meninggal),” kata Kepala BNPB Suharyanto, Kamis (24/22).

Menurutnya dari 272 korban meninggal itu, 165 jenazah di antaranya sudah teridentifikasi identitasnya. Sehingga, kata dia, masih ada 107 jenazah yang identitasnya masih diverifikasi.

Untuk itu, ia meminta masyarakat yang merasa anggota keluarganya masih hilang agar segera melaporkan ke Posko Utama di Pendopo Cianjur. Adapun laporan itu menurutnya harus rinci, mulai dari nama, jenis kelamin, ciri-ciri, dan yang lainnya.

Di samping itu, menurutnya kini ada sebanyak 39 orang yang masih dalam pencarian setelah satu jenazah ditemukan. Sebelumnya pada Rabu (23/11), jumlah orang yang dicari yakni sebanyak 40 orang.

Dari 39 orang yang masih dalam pencarian tersebut, menurutnya 32 orang di antaranya merupakan warga yang berdomisili di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang. Sedangkan tujuh orang hilang lainnya merupakan masyarakat yang melintas di Desa Cijedil dan menjadi korban.

“Korban hilang ini semuanya sudah teridentifikasi namanya, sehingga memudahkan pencarian oleh tim SAR gabungan,” kata dia.

Dia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak menjadikan tempat bencana sebagai tontonan atau menjadi tempat wisata. Karena, kata dia, hal tersebut menurutnya bisa menghambat kinerja petugas di lapangan. “Ini bencana lokasi di 15 kecamatan, banyak jalan kecil tempatnya terpencil, sehingga kalau berbondong-bondong ke sana, membuat penanganan pengungsi terhambat,” kata dia. (ant)

Editor: Juwair Saddam

Laporkan Konten