in

Semua murid tetap harus naik kelas

Prof. Dr. Mahsun, M.S.

kicknews.today – Momentum kenaikan kelas kerap kali menjadi saat yang menyulitkan bagi para guru. Terutama saat ada anak didik yang masuk dalam kategori tidak lolos kriteria untuk naik kelas. Keluhan mengenai kondisi itu, juga mengemuka pada agenda Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Mataram, Rabu (22/6) di Mataram.

FGD yang dihadiri puluhan guru TK, SD dan SMP tersebut, mengundang Prof. Dr. Mahsun, M.S. sebagai pemateri utamanya. Dalam salah satu bagian pemaparan materinya, Prof. Mahsun yang dikenal publik nasional sebagai seorang ahli Bahasa. Menjelaskan cukup rinci tentang pola pendidikan berkarakter dari kacamata ilmu linguistik. Dalam pemparannya Ia juga mengeaskan bahwa tolak ukur keberhasilan pendidik sangat ditentukan oleh hasil yang ditunjukkan oleh anak didiknya masing-masing.

“Tidak boleh ada anak didik yang tidak lulus, karena itu berarti kita tidak berhasil menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik,” ungkap Guru Besar Ilmu Linguistik tersebut.

Prof. Mahsun menjelaskan bahwa setiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Lahir dalam kondisi yang berbeda-beda dan dibesarkan dalam situasi yang tidak sama pula. Maka mungkin saja ada situasi tertentu yang mempengaruhi anak didik, sehingga membuatnya kesulitan untuk berprilaku dan berkemampuan serupa dengan kawan sekelasnya yang lain.

“Seharusnya para guru bisa memberikan perhatian lebih dan berperan aktif bahu-membahu jika berhadapan dengan anak didik yang dinilai pencapaiannya tidak mencukupi kriteria ini. Karena menurut saya memberikan hukuman tidak naik kelas itu bukan solusi. Bisa malah menjadikan anak merasa takut dan terpaksa menjadi tidak jujur. Malah bisa menjadi lebih parah,” papar Prof. Mahsun.

Dua guru peserta FGD lantas menjelaskan lebih detail kondisi yang dihadapi terkait kesulitan saat harus menangani anak didik yang tidak masuk kriteria untuk naik kelas ini. Upaya maksimal disebut telah dilakukan, namun tampak belum bisa membuat beberapa orang anak didik, mampu merubah posisi mereka dalam pemenuhan kriteria kelulusan naik kelas itu.

“Sebagai pendidik tidak boleh cepat putus asa. Karena ada 3 tahap perubahan dalam proses mendidik. Yang pertama perubahan dari sisi pengetahuan anak didik, yang kedua perubahan kemauan untuk mengarah pada kebaikan sesuai pengetahuan yang diajarkan dan yang ketiga perubahan prilaku. Jika keberhasilan dalam mendidik selalu distandartkan pada perubahan perilaku, maka kita selaku pendidik akan cepat merasa gagal. Padahal perubahan pertama dan kedua mungkin saja telah tercapai namun tidak kita perhatikan.” Ungkap Prof. Mahsun menjelaskan cara menentukan tolak ukur keberhasilan pencapaian dalam mendidik murid.

Kabid Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan Kota Mataram Liswati, ST., MM. menyebutkan bahwa saat ini penerapan pola pendidikan berkarakter sudah harus menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Karena situasi dalam keseharian siswa, termasuk saat berada di lingkungan sekolah sudah mulai menunjukkan terkikisnya nilai budaya dan adab dalam keseharian siswa didik.

Diawal pembukaan acara, hal senada juga diungkapkan Husnul Farida Kasi Tenaga Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Mataram. “Saya pribadi sangat miris melihat pada salah satu agenda acara resmi, murid-murid sudah tidak banyak lagi yang mencium tangan guru dan orang yang lebih tua dari mereka saat bersalaman. Bukan karena alasan covid, namun sepertinya murid-murid kita sudah banyak yang tidak mengerti nilai adab budaya cara menghormati orang yang lebih tua dari mereka,” ungkapnya saat membuka agenda FGD tersebut. (hl)

Editor: Zia Helmi

Laporkan Konten