in

Sandi mau joki cilik jadi ajang wisata Nasional, LPA: berapa banyak lagi anak-anak meregang nyawa?

Menparekraf Sandiaga Uno saat menonton pacuan kuda dengan joki cilik di Bima, NTB, Minggu (136)

kicknews.today – Soal joki cilik dalam ajang pacuan kuda di Bima maupun Sumbawa, Nusa Tenggara Barat hingga saat ini masih mengundang polemik. Pasalnya, penggunaan joki cilik dainggap sangat berbahaya dan merupakan wujud dari eksploitasi anak.

Beberapa kasus terjadi seperti meninggalnya joki cilik dalam perlombaan yang dianggap menjadi budaya masyarakat itu. Tercatat pada Senin (14/10/2019) lalu, Sabila seorang joki cilik yang masih duduk di kelas IV bangku Sekolah Dasar (SD) di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat meninggal dunia saat pacuan.

Kecelakaan terjadi di Keluarahan Sambi Na’e, Kota Bima, NTB ketika kuda yang ditunggangi Sabila melaju kencang dan tubuh mungilnya berjuang mengendalikan kuda yang jauh lebih besar darinya. Saat itulah kuda yang ditungganginya terjatuh dan menindih tubuh mungilnya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno ingin mengupayakan tradisi pacuan kuda dengan joki cilik menjadi salah satu tujuan destinasi wisata nasional. Hal ini dikatakannya saat menonton langsung pacuan kuda dengan joki cilik di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, Minggu (13/6).

Hal ini sontak dikomentari pedas oleh pegiat perlindungan anak di NTB yang sepanjang waktu berupaya memperjuangkan untuk menghentikan tradisi eksploitasi anak tersebut.

“Apa lagi yang harus dikatakan apabila seorang menteri hanya melihat joki-joki cilik sebagai atraksi wisata?, berapa banyak lagi kita akan melihat anak-anak yang merenggang nyawa di pacuan kuda, berapa banyak lagi akan kita lihat anak anak yang cacat dan putus sekolah karena pacuan kuda, anak-anak dieksploitasi sedangkan para orang dewasa bersorak-sorak di tepi lapangan,” kata Joko Jumandi yang merupakan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram yang juga seorang dosen Fakultas Hukum di Universitas Mataram, Minggu (13/6).

Namun begitu saat mengetahui isu eksploitasi anak yang membayangi pacuan kuda dengan joki cilik itu, Sandiaga mengaku akan menurunkan tim bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPP3PA) untuk melihat sekaligus menguji kelayakan pada segi perlindungan anak.

“Oke, nanti akan kita rangkul KPAI juga kebetulan saya baru bertemu dengan ibu Bintang menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, kita akan turunkan tim untuk melakukan pendampingan di sini. Jadi kita pastikan kegiatan di sini sesuai dengan tentunya kelayakan dari segi perlindungan anak,” tegas Sandi.

Selain itu, Sandiaga juga berharap tradisi pacuan kuda Bima ini bisa meningkatkan sumber daya manusia.

“Juga kita lakukan dengan pendekatan inovatif, adaptif dengan keadaan terkini sekarang,” sambungnya. (red.)

Editor: Dani

Laporkan Konten