in

‘Pedagang pukul sembilan’ di Desa Tempos Lombok Barat minta tempat layak

Pedagang pukul sembilan menjajakan dagangannya

kicknews.today – Di Desa Tempos Kecamatan Gerung Lombok Barat, ada sekelompok pedagang yang dijuluki para pengunjungnya sebagai ‘pedagang pukul sembilan‘. Para PKL tersebut, kini butuh lahan yang layak untuk berjualan.

Sedikitnya, ada lima pedagang di Desa Tempos ini yang mendapat julukan “pedagang pukul sembilan”. Alasannya, karena hanya berdagang dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 09.00 wita. Itu pun, hanya diakhir pekan. Yakni Sabtu dan Minggu, ketika para pesepeda banyak melewati jalan tersebut.

Ketua Pokdarwis Desa Tempos Mujiburahman mengatakan, para pedagang tersebut kesulitan mendapatkan lahan untuk berjualan. Saat ini, mereka hanya menggunakan sedikit sisa area di pinggir jalan desa.

“Semua PKL terpaksa berjualan di pinggiran jalan menuju Desa Tempos. Karena belum ada lahan,” kata Mujib kepada kicknews.today, Kamis (12/8).

Semua pedagang aku Mujib, merupakan anggota Karang Taruna yang berada di bawah naungan Pemerintah Desa Tempos.

Untuk itu, Mujib meminta kepada pemerintah bisa memberikan perhatian kepada para pedagang. Terutama, soal lahan untuk berjualan.

“Kami minta agar ada lahan untuk berjualan. Karena kan kita masih memakai pinggiran jalan. Jadi bisa memicu rawan kecelakaan dan macet,” katanya.

Sebelumnya pun lanjut Mujib, Pemerintah Desa Tempos sempat berencana agar semua pedagang di Jalan Desa Tempos diintegrasikan pada satu lokasi. Tapi rencana tersebut tak kunjung terealisasi.

Tempat nongkrong pengunjung saat membeli dagangan pedagang pukul sembilan

Pantauan wartawan, pedagang pukul sembilan ini menjual jajanan khas dari Desa Tempos. Harga jual yang cukup murah, cukup memantik pembeli berbelanja sambil berwisata di Jalan Desa Tempos.

“Satu porsi jajanan kita hanya jual 8.000 rupiah saja. Nanti dapat jajan khas seperti Serabi, Kelepon, dan Keludan,” bebernya.

Selain menjual jajanan khas anak desa kata Mujib, pedagang menawarkan produk lain seperti kopi, susu dan madu khas Desa Tempos.

“Satu gelas Kopi kita jual murah dengan harga 3.000 rupiah per gelasnya. Semua pedagang di sana, kita minta anak muda yang wanita,” pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Barat, Lalu Riehandani mengapresiasi antusiasme masyarakat dan Pokdarwis terhadap potensi yang ada di Desa Tempos.

“Saya pribadi dari dulu sudah sering lewatin jalur itu, yang dulunya sepi dari pesepeda. Sekarang Alhamdulillah makin ramai. Apalagi teman teman Pokdarwis sekarang menangkap peluang itu,” kata Riehan.

Ia pun meminta kepada semua pedagang, agar tetap patuhi protokol kesehatan dan jaga kebersihan selama berjualan di pinggiran jalan menuju Desa Tempos.

“Jangan sampai menyisakan sampah saja,” pungkas Riehan.(vik)

Editor: Dani

Laporkan Konten