in

Desainer Indonesia, Dian Oerip kagum dengan magis Kain Tenun Donggo, NTB

Desiane Indonesia Dian Oerip (tengah) bersama 2 wanita Donggo dengan balutan kain tenun khas Donggo atau Tembe Me'e Donggo
Desiane Indonesia Dian Oerip (tengah) bersama 2 wanita Donggo dengan balutan kain tenun khas Donggo atau Tembe Me'e Donggo

kicknews.today- Baik dan murah senyum itulah kesan pertama ketika bertemu dengan Dian Oerip, seorang desainer Indonesia. Wanita asal Kota Ngawi Jawa Timur ini pun tidak canggung menyapa setiap orang di hadapannya.

Dian Oerip memang belum familiar di dunia fashion Tanah Air. Sebenarnya, dia bukan desainer baru, karena sudah 13 tahun malang melintang di dunia fashion. Namanya, berkibar di kalangan pecinta wastra Nusantara, khususnya kain tenun.

Pendiri dan desainer jenama Oerip Indonesia ini bisa disebut sebagai pemburu kain tenun Nusantara. Hasil petualangannya, ia berhasil mengumpulkan ratusan hingga ribuan jenis kain tenun di seluruh daerah di Indonesia.

Semua berawal dari hobi traveling dan memotret. Perempuan bernama lengkap Dian Erra Kumalasari ini menemukan kecintaannya pada kain-kain Nusantara dalam perjalanannya menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat hingga Papua telah dijejakinya.

Kecintaannya pada kain-kain itu memunculkan ide untuk menciptakan busana. Padahal ia sama sekali tidak punya basic fashion atau keterampilan menjahit.

“Jujur, saya nggak bisa menjahit. Tapi saya nekat beli alat jahit sambil belajar otodidak. Karya pertama saya itu dari kain batik,” kata lulusan teknik kimia Universitas Diponegoro, Semarang ini.

Kecintaannya pada kain tenun ketika traveling ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Waktu itu dia serasa menemukan jati diri. Tanpa pikir panjang, kerja kantoran ia tinggalkan dan fokus pada dunia fashion.

“Dari kain itu, saya memadukan beberapa wastra menjadi sepotong gaun cantik. Hasilnya, keren banget dan banyak yang suka,” ujar Dian.

Usaha fashion Dian terus berkembang. Bahkan pernah dilirik penggemarnya di Amerika Serikat, yang mengajaknya fashion show. Di Negeri Paman Syam ia mendapat kesempatan wawancara oleh VOE, salah satu media besar dunia.

Tidak sampai di situ, Dian kembali diundang di beberapa negara di bagian Eropa. Baju-baju hasil karyanya banyak dilirik pejabat tinggi negara hingga artis internasional.

“Di Indonesia lumayan banyak artis maupun pejabat yang beli,” katanya.

Awalnya, Dian membangun usaha di Bekasi. Tahun 2018 ia memilih kembali ke kampung halaman. Dia ingin berkarya di tanah kelahirannya di Ngawi. Membuka lapangan kerja bagi kaum perempuan Ngawi dengan membangun rumah produksi. Di Ngawi juga Dian mendirikan museum wastra.

“Sekarang, ibu-ibu sudah banyak yang bekerja di rumah produksi,” katanya.

Kini Dian Oerip bisa menghasilkan puluhan busana dari kain tenun. Per lembar harga bervariasi. Mulai dari ratusan hingga puluhan juta rupiah. Tergantung dari jenis dan kualitas kain.

Museum Oerip Indonesia adalah rumah bagi sekitar 500 kain tenun langka dan lawas, yang didapat Dian dalam perjalanannya keliling Indonesia, di antaranya adalah kain-kain dari keluarga raja. Dalam perjalanan itu, ia merasa semesta selalu menuntunnya bertemu kain-kain tenun terbaik.

Hubungan Dian dengan penenun-penenun pun penuh kekeluargaan. Saat ini ia juga sudah mendirikan yayasan untuk membantu penenun, termasuk mendukung penenun-penenun muda.

Perjalanan panjang menemukan kain-kain tenun indah, kisah-kisah kain itu sendiri, dan bagaimana Dian menjalin ikatan batin serta kekeluargaan dengan banyak penenun menjadi ‘nyawa’ bagi karya-karyanya yang penuh cerita.

“Setiap kain tenun juga mengandung nilai filosofinya, itu juga mempengaruhi nilai jual,” tuturnya.

Sabtu (16/7), Dian Oerip berkesempatan berpetualang ke Bima. Ini pertama kali dia ke Bima. Hari itu, ia merasa disambut layaknya sang ratu. Kebetulan satu pesawat dengan Kapolres Bima Kota yang baru menjabat.

“Beruntung sekali saya, ikut disambut sama pak polisi,” ujar Mbak Dian sambil menahan tawa.

Selain traveling sekaligus mendaki Tambora, berburu kain tenun bagian dari tujuannya ke Bima. Pertama adalah kain tenun Donggo atau dikenal dengan sebutan Tembe Me’e Donggo.

“Kain Donggo ini saya temukan di Instagram. Wah, ini sangat keren sekali, gumam saya dalam hati,” tutur Mbak Dian.

Tanpa pikir panjang, Dian langsung berkunjung ke Donggo didampingi Penggagas Komunitas Lentera Donggo, Leni Lestari. Dian diajak ke Desa Mbawa sebagai pusat kain tenun Donggo. Di sana Dian disambut dengan baik oleh ibu-ibu penenun.

“Saat itu saya langsung kagum dengan keindahan kain tenun Donggo. Kainnya tebal dan kuat. Kebetulan saya suka sekali warna hitam. Ketika memakainya, saya merasa lebih cantik,” kata Mbak Dian.

Kain tenun Donggo jadi ‘nyawa’ baru bagi Dian. Ia menemukan ada kemistri dengan dengan kain Donggo. Ia pun berinisiatif mengumpulkan kain Donggo sebanyak-banyaknya.

“Bayangkan, 1 jam Rp36 juta ludes,” katanya.

Kain Donggo menurut dia, bukan sekadar kain-kain tenun Bima pada umumnya. Bukan terbuat dari benang yang sering dijumpai di pasar. Kain ini lahir dari kekayaan alam setempat melalui tangan-tangan penenun yang begitu mencintai warisan leluhurnya.

Proses penciptaan kain tenun yang memakai pewarna alam serta pemilihan motif-motifnya yang indah dan sarat makna begitu unik, merepresentasikan budaya masyarakat Donggo. Motif biru segi empat di ujung kain menunjukan 4 arah mata angin.

Kain Donggo tidak sembarang diperoleh. Jadi, pemakainya akan diajak untuk menyelami nilai-nilai spiritual.

Bagi masyarakat Donggo, tenun bukan sekadar kain, tapi suatu yang sangat penting. Bahkan kain memiliki peranan penting dalam kehidupan bersosial.

“Ini kekayaan budaya Indonesia yang membuat saya semakin bangga memilikinya. Kain-kain ini diisi dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh pembuatnya. Jadi, saya tidak keberatan akan hal itu,” kata Dian.

Terlepas dari nilai mistisnya, kain Donggo juga diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Bisa menjadi penyejuk di cuaca panas, serta menghangatkan di musim dingin.

“Saya tidak menyebutkan kain Donggo yang terbaik di nusantara. Karena alam Indonesia sangat kaya dan memiliki kelebihan di sisi masing-masing. Yang jelas, saya nyaman dan sangat suka dengan kain Donggo,” tuturnya.

Selain kain tenun Donggo, Dian juga mengunjungi pembuat kain tenun putih Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Dian mengaku disambut pembuatnya seperti keluarganya sendiri.

“Pembuat kain itu seorang ibu lanjut usia. Pertama kali ketemu, saya dipeluk erat oleh beliau. Saya merasa ada energy dan kemistri dengan ibu itu,” kata Mbak Dian.

Dia mengaku, petualangannya bukan sekadar tentang kain, tapi bagaimana bisa menyatukan jiwa dengan para pembuat tenun. Sebab, menurut dia, para pembuat kain tentu mereka yang paham akan nilai budaya leluhur.

“Kain tenun di nusantara hampir semuanya mengandung filosofi dan nilai sakral masing-masing. Ini yang membuat saya tertantang untuk terus menjelajahi nusantara,” pungkas Dian. (jr)

Editor: Juwair Saddam

Laporkan Konten