in

Dede Yusuf minta kenaikan tarif tiket ditunda, demi menjaga citra Pulau Komodo di mata Dunia

Dede Yusuf
Dede Yusuf

kicknews.today- Polemik kenaikan tarif tiket ke Pulau Komodo dan Pulau Padar mendapat penolakan keras dari masyarakat pelaku pariwisata Labuan Bajo, NTT.  Bahkan, tiga orang pelaku pariwisata yang melakukan aksi mogok massal menolak kenaikan harga tiket ditangkap polisi, Senin (1/8).

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf angkat bicara terkait polemik tersebut. Menurutnya, pemerintah harus mencarikan solusi terbaik agar tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

“Rangkul mereka (pelaku pariwisata), ajak duduk bersama. Carikan solusi terbaik agar sama-sama enak dan tidak ada yang dirugikan,” tegas Dede Yusuf dihubungi kicknews.today, Senin malam (1/8).

Aksi penolakan kenaikan tarif tiket pulau komodo hingga Rp3,75 juta wajar dilakukan. Sebab, dampaknya akan mempengaruhi minat kunjungan wisatawan karena dianggap mahal. Apalagi 80 persen pengunjung Pulau Komodo adalah wisatawan nusantara.

Kurangnya kunjungan wisatawan kata Dede, tentu akan mempengaruhi pendapatan pelaku pariwisata. Seperti UKM, penyedia transportasi, gaet, pemilik perahu hingga fotografer.

“Misalnya tukang foto yang mungkin biasa dapat Rp200 ribu per hari, turun jadi Rp100 per hari karena minimnya kunjungan wisatawan. Kalau kebijakan ini dipaksakan, saya yakin akan banyak pelaku pariwisata gulung tikar,” gambarnya.

Langkah terbaik menurut Dede Yusuf adalah menunda kenaikan tarif tiket. Jika dipaksa, dikhawatirkan terjadi polemik yang berkepanjangan. Apalagi pariwisata di Indonesia baru bangkit setelah sekian tahun diterpa pandemik.

“Contohnya saja Bali, setelah dua tahun tanpa kunjungan wisatawan kini mulai bangkit kembali. Sekarang Pulau Komodo harus kita jaga, jangan sampai menimbulkan citra buruk di mata wisatawan Internasional,” tegas politisi kelahiran Jakarta 1966 ini.

Menunda kenaikan tarif tiket juga sebagai cara aman untuk menjaga nama baik pariwisata Indonesia di mata Internasional. Paling tidak, pemerintah bisa menjaga agar persoalan ini tidak berlarut hingga mengganggu stabilitas daerah.

“Nanti kami akan panggil Kemenparekraf dan stakeholder terkait untuk membahas kembali masalah ini. Mudah-mudahan ada solusi terbaik,” kata Alumni Trisakti ini.

Harus diakui, Pulau Komodo kini sudah menjadi wisata Internasional. Icon Indonesia di mata dunia. Jadi, harus terjamin keamanannya dari gejolak di masyarakat yang mungkin terjadi.

“Jangan sampai polemik yang terjadi sekarang ini mengurung niat wisatawan berkunjung ke Pulau Komodo,” tandas Dede Yusuf.

Menaikan harga tiket lanjut Dede Yusuf, tidak menjadi persoalan. Semasih kebijakan itu demi kemajuan dan kelestarian pariwisata Pulau Komodo ia mendukung. Hanya saja, menaikkan tarif tiket harus dipertimbangkan secara seksama agar tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat yang mencari nafkah di sektor itu.

“Harus bertahap, misalnya dari Rp350 jadi Rp 500, kemudian Rp1 juta dan seterusnya, jangan dinaikkan sekaligus, sembari melihat bagaimana respon masyarakat,” pungkasnya. (jr)

Editor: Juwair Saddam

Laporkan Konten