in

Atta – Aurel ke Bima, Budayawan sorot; tidak mestinya salah kostum begini

Foto Atta dan Aurel yang dikomentari netizen soal salah kostum motif NTT yang dipakai ke NTB

kicknews.today – Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah mendapat kehormatan menjadi duta wisata, mendampingi Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno berkunjung ke Bima, NTB, Minggu (13/6). Tentu saja kebanggaan bagi warga Bima, NTB secara keseluruhan karena yang datang adalah Youtuber terkaya di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Tapi, namanya juga netizen Indonesia. “Maha” jeli melihat sesuatu dari sisi lain yang lain. Momen ketika Aurel Hermansyah selfie dengan Atta di dalam pesawat di-posting ke Instagram Story. “Apa yang kamu tahu soal Bima?,” tulis Aurel.

Postingan itu kemudian “disambar” Netizen yang memperhatikan baju corak adat dikenakan dua pasangan artis ini.

“Sumpeh abang ama empok mau ke Bima??? Tapi kostum kayak mau ke tetangga bang”, tulis Fita Hasren di akun Facebook miliknya, dilengkapi capture IG story Aurel.

Membahas soal pakaian adat, motif NTB dan NTB serupa tapi perbedaan terletak pada tema. NTT dominan pada warna hitam, merah marun atau frame gelap. Motif kaya dan beragam dengan ornamen dekoratif margasatwa yang tampak realistis.

Sedangkan motif dan ragam hias yang dimiliki Bima tidak terlalu beragam, mengingat simbol dan gambar yang dijadikan motif tenun, berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami.

Terlepas dari interpretasi netizen itu, Budayawan Bima Husein La Odet menganggap ini masalah serius.

Ia melihat, sang influencerer sebelumnya tidak melakukan diskusi terlebih dahulu dengan protokoler pemerintah pusat atau daerah.

“Mereka tamu negara. Mestinya secara protokoler mengintruksikan kepada rombongannya untuk menyesuaikan busananya dengan karakter daerah yang akan dikunjungi. Ini sebagai bentuk apresiasi,” kata La Odet.

Dari sisi panitia penerima di daerah mestinya tanggap. Minimal, lanjut La Odet, telah melakukan koordinasi lebih awal kepada rombongan Menteri, terkait segala sesuatu yang berkenaan dengan acara resmi.

“Kalau saya otokritik, pemerintah Provinsi atau Bima umumnya, terlihat gagal mempromosikan hasil karya budaya daerah,” sarannya.

Corak corak khas budaya kita mesti tersampaikan atau ter-publish lewat acara acara apresiasi budaya, acara kesenian, media elektronik bahkan harus punya budget khusus yg memadai dalam rangka promo budaya. Tidak mestinya tamu salah kostum begini,” kritik Husein La Odet.

“Kita harus menyadari, bahwa pemerintah daerah kita belum serius berbuat untuk membumikan kebudayaan daerah,” tutupnya. (red)

Editor: Dani

Laporkan Konten