in

Wisata Heli dan Glamping Rinjani, TNGR Diingatkan WWF Hati – hati

Ilustrasi Wisata Helikopter

kicknews.today – Konsep wisata glamor camping (Glamping) di sekitar Danau Segara Anak Gunung Rinjani, Lombok disambut reaktif sejumlah pihak. Penolakan pemerhati lingkungan hingga pelaku wisata mengisyaratkan agar Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) hati hati menyikapi minat investor PT. Rinjani Glamping Indonesia tersebut.

Apa saja alasannya?, berikut uraian Direktur World Wildlife Fund (WWF) NTB, Ridha Hakim.

Pertama, Taman Nasional Gunung Rinjani adalah taman nasional yang sangat cocok untuk dijadikan wahana wisata alam bagi yang menyukai tantangan, memiliki daya tarik tertinggi dari objek kaldera dan Danau Segara Anak dengan anak gunungnya yang sangat menakjubkan.

“Meskipun demikian, konservasi sangat penting dilakukan di wilayah TNGR karena wilayah ini berpotensi memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi mengingat wilayah ini berada di sebelah barat garis Wallace,” kata Ridha Hakim dalam siaran pers yang diterima, Selasa (25/2)

Berdasarkan data tahun 2019 menunjukan bahwa, 12.639 wisatawan manca negara dan 4.532 wisatawan lokal telah mendaki di TNGR. Tingginya minat wisatawan mancangera dan lokal mendaki TNGR juga ditunjukan hasil penelitian WWF tahun 2017. Hasilnya menunjukan, bahwa pendakian Gunung Rinjani merupakan tujuan dan pilihan kedua selama berkunjung ke Pulau Lombok.

“Rinjani sudah sangat terkenal, jadi kalau dinyatakan oleh Investor bahwa dengan caranya akan mengenalkan Rinjani ke dunia luar, saya kira keliru. Siapa yang tidak kenal Rinjani ??,” tanyanya.

Kedua, adanya kegiatan kepariwisataan alam yang sangat mengandalkan kualitas sumber daya alam, menyebabkan perlu ditetapkan suatu kriteria atau kesesuaian dalam pengelolaan pengembangan fasilitas ekowisata yang memadai. Sehingga nantinya dapat diketahui keberadaan dan berbagai paradigma yang berkembang di daerah tersebut. Ini menjadi bahan dasar dalam menentukan arah pembangunan berkelanjutan.

“Menjadi sangat penting untuk memperhatikan Daya Dukung dan Daya Tampungnya. Saat ini berapa daya tampung dan daya dukung lingkungan di sekitar Kawasan tersebut ??,” tanyanya lagi.

Ketiga, sesuai dengan PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.76/Menlhk-Setjen/2015 – TENTANG KRITERIA ZONA PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DAN BLOK PENGELOLAAN CAGAR ALAM, SUAKA MARGASATWA, TAMAN HUTAN RAYA DAN TAMAN WISATA ALAM, diatur bahwa, Zona Pemanfaatan adalah bagian dari TN yang ditetapkan karena letak, kondisi dan potensi alamnya yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi lingkungan lainnya. Kemudian, prioritas pengelolaan kawasan didasarkan pada hasil inventarisasi potensi kawasan yang memuatannya antara lain masalah dan potensi serta kondisi dan status terkini nilai penting kawasan.

Apa saja kriteria zona pemanfaatan? Menurut Ridha, penting dijelaskan lebih detail, yakni meliputi :

– Merupakan wilayah yang memiliki keindahan alam/daya tarik alam atau nilai sejarah dan/atau wilayah dengan aksesibilitas yang mampu mendukung aktivitas pemanfaatan;

– Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangunnya sarana prasarana antara lain untuk menunjang pemanfaatan dan pengelolaan;

– Bukan merupakan konsentrasi komunitas tumbuhan/biota utama;

–  Bukan merupakan areal dengan keragaman jenis yang tinggi; dan/atau

– Terdapat potensi jasa lingkungan yang dapat dimanfaatkan.

Apa saja kegiatan yang dilakukan di zona pemanfaatan TN?, meliputi :

a. perlindungan dan pengamanan;
b. inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati dengan ekosistemnya;
c. pembinaan habitat dan populasi dalam rangka mempertahankan keberadaan populasi satwa liar;
d. penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
e. pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam;
f. penyimpanan dan atau penyerapan karbon;
g. pemanfaatan sumber daya genetik dan plasma nutfah untuk penunjang budidaya;
h. pengembangan potensi dan daya tarik wisata alam;
i. pengusahaan pariwisata alam dan pengusahaan kondisi lingkungan berupa penyimpanan dan/atau penyerapan karbon, masa air, energi air, energi panas dan energi angin;
j. pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan terbatas untuk menunjang kegiatan pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h dan huruf i;
k. pemulihan ekosistem.

Keempat, lanjutnya, jika membaca ketentuan di atas, maka pembangunan sarana prasarana secara tebatas telah ditegaskan pada Zona Pemanfaatan. Hal ini harus menjadi perhatian serius pihak pengelola.

“Kata ‘terbatas’ tersebut, apalagi pada zona yang berdekatan dengan zona inti TNGR (sekitar danau Segara anak), mengisyaratkan banyak hal. Saya kira ini jadi titik krusialnya. Kalaupun akan dilakukan kajian, saya berharap itu melibatkan berbagai unsur, walaupun kecenderungannya akan sulit bisa memenuhi persyaratan tersebut,” jelasnya.

Kelima, perlu dilihat dalam Renstra ataupun RPJP TNGR, bagaimana pengelolaan pariwisata di zona pemanfaatan tersebut. Apakah sesuai dengan rencana yang sedang berkembang saat ini atau tidak. Sebab menurut dia, hingga saat ini peta zonasi terbaru belum dipublikasikan. Karena untuk memastikan, ia sudah mengecek melalui webb TNGR, justeru yang ada adalah Zonasi TNGR yang lama).

Sehingga masyarakat dapat mengetahui dengan persis seperti apa zonasi TNGR tersebut. Utamanya luasan dan kondisi Zona Pemanfaatan di sekitar Danau Segara Anak. Sebab kegiatan wisata alam kawasan Zona Pemanfaatan TNGR harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan pengelolaan kawasan TNGR. Kalaupun akan dikembangkan harus memperhatikan kondisi kawasan dan luas kawasan yang dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata alam maksimum 10% (sepuluh perseratus) dari luas zona pemanfaatan taman nasional dan tidak mengubah bentang alam yang ada.

Ditambahkannya, pengembangan pariwisata alam di taman nasional sesuai pedoman yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam nomor : P.3/IV-SET/2011 ditetapkan di zona pemanfaatan. Desain tapak diperlukan dalam tahapan perencanaan pariwisata alam untuk menentukan zona pemanfaatan taman nasional akan diperuntukkan untuk ruang publik atau ruang usaha.

Keenam, ditekankannya, agar hati-hati didalam memberikan ijin pemanfaatan dengan menggunakan fasilitas helicopter dan lainnya di zona pemanfaatan yang notabene berada di bibir danau Segara Anak.

Sebab pendaratan helicopter perlu memperhatikan struktur tanah di sekitar danau dan aturan yang berlaku. Yaitu, Peraturan DirekturJenderal Perhubungan Udara Nomer KP40, Tahun 2015, tentang Standart Teknis dan Operasi Peraturan Kesemalamatan Penerbangan Sipil – Bagian 139 Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter.

“Sewaktu proses evakuasi karena gempa bumi tahun 2018, pendaratan dilakukan dengan pertimbangan emergency. Sehingga harus dibedakan dengan situasi normal,” ungkapnya mencontohkan.

Ketujuh, masyarakat lokal yang bermukim di lokasi wisata menjadi salah satu pemain kunci dalam pariwisata, karena masyarakat lokal yang akan menyediakan sebagian besar atraksi sekaligus menentukan kualitas produk wisata. Sumber daya wisata berupa air, tanah, hutan dan lanskap yang dinikmati oleh wisatawan dan pelaku wisata lainnya berada di tangan masyarakat lokal.
Kesenian dan keunikan budaya lainnya yang menjadi salah satu daya tarik wisata juga sepenuhnya berada pada masyarakat lokal. “Oleh sebab itu, berbagai berubahan yang terjadi di lokasi wisata akan bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat lokal. Penerimaan dan persepsi positif dari masyarakat lokal terhadap kegiatan wisata menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan wisata alam Zona Pemanfaatan TNGR,” paparnya.

Setidaknya ada tiga rekomendasi disampaikan WWF sebagai rujukan rencana dua jenis investasi ini.

1. Kegiatan wisata alam kawasan Zona pemanfaatan TNGR akan dapat berkelanjutan apabila para wisatawan dan penyedia jasa wisata memperhatikan kegiatan – kegiatan yang mendukung pada seluruh dimensi pariwisata berkelanjutan, yaitu ekonomi, ekologi, sosial, dan budaya sebagaimana disajikan dalam Tabel berikut ini:

2. Perlu lebih memperkuat argumentasi dan alasan sebelum memberikan rekomendasi lebih jauh, dengan tingginya minat kunjungan pada tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.

“Saran kami adalah perlu adanya Penelitian di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Rinjani dengan tujuan untuk mengetahui jenis dampak terhadap lingkungan khususnya terhadap flora dan fauna, serta bagaimana persepsi wisatawan tentang kesesuaian fasilitas dan nilai penting fasilitas ekowisata tersebut,” sarannya.

Selain itu, TNGR dan Pemerintah harus memiliki kajian/kebijakan yang strategis dalam rangka mengkaji kelayakan kebijakan, rencana atau program pembangunan di sebuah wilayah dalam kerangka prinsip pembangunan berkelanjutan.

3. Rencana ujicoba yang disampaikan dalam pemberitaan di beberapa media juga perlu diperjelas seperti apa pelaksanaan ujicoba tersebut, mekanisme pengawasannya dan pengambilan keputusannya. (red)

What do you think?

100 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Nelayan Lombok Utara Dapat Bantuan Kapal

Dua Bakal Calon Independen di Pilkada Lombok Tengah Dicoret