Perempuan dan Narasi Adaptasi di Tengah Pandemi

6 min


321 shares

Pandemi Covid-19 telah memaksa semua orang untuk kembali ke rumah. Rumah yang tidak hanya sebagai tempat pulang setelah seharian beraktivitas diluar. Tapi rumah yang sebenar-benarnya, “rumah jiwa”. Dalam arti umum, rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Secara khusus, rumah mengacu pada konsep-konsep sosial kemasyarakatan yang terjalin didalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, hidup, makan, tidur, beraktivitas, dan lain-lain. 

Kebijakan #DirumahSaja dimasa pandami Covid-19 diniatkan untuk memutus mata rantai penyebarannya.  Walaupun hal ini dinilai baik, tapi disisi warga memiliki sikap yang berbeda, terutama kelas menengah kebawah. Hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan keluarga serta pengeluaran rutin yang tidak mengenal kompromi, seperti cicilan bank resmi maupun “bank subuh”. Istilah bank subuh dilekatkan kepada rentenir yang memberikan pinjaman sejumlah uang dan ditagih saat pagi buta sebelum peminjam beraktivitas diluar. Sistim pembayaran biasanya cicilan harian/ mingguan. 

Narasi Adaptasi Perempuan 

Adaptasi dimaknai secara umum merupakan kemampun mahluk hidup untuk mengatasi tekanan dan faktor pembatas dari lingkungan untuk bertahan hidup. Cara bertahan yang digunakan antara mahluk berbeda antara satu dengan yang lain. Ditengah pandemic Covid-19, seluruh aktivitas luar rumah ada yang dibatasi, pun yang lumpuh total. Pada situasi seperti ini, adaptasi untuk bertahan menjadi jalan keluar untuk memastikan seluruh anggota keluarga aman, selamat dari kekurangan pangan. 

Dalam masyarakat Lombok, pembagian peran antara perempuan dan laki-laki masih terjadi. Domestik vs Publik. Laki-laki sebagai kepala keluarga berperan sebagai pencari nafkah utama. Sedangkan perempuan mengurus rumah tangga. Pun jika bekerja, dianggap sebagai pencari nafkah tambahan dan belum dipandang sebagai modalitas yang menyelamatkan ekonomi keluarga dari serba keterbatasan. Peran gender yang masih melekat dimasyarakat, tidak hanya meminggirkan perempuan, juga laki-laki. Pada situasi menghadapi pandemi, kesenjangan gender terlihat nyata. Pun kian melipatgandakan kerentanan terhadap perempuan. 

Ada fakta menarik dari kampung tempat tinggal kami. Perum Lantana Garden. Lokasi kampung ini berada diDusun Labuapi Utara, Desa Labuapi Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Sebuah kampung yang dibangun menjadi blok perumahan subsidi. Jumlah hunian sekitar 300 KK. Sebagai perumahan baru, penghuninya lebih banyak diisi oleh pasangan muda, pensiunan TNI/Polri, serta pasangan yang sudah lelah menjadi “kontraktor/ tukang kontrak”. Istilah kontraktor/ tukang kontrak biasanya dilekatkan kepada pasangan yang berpinda-pindah tempat tinggal dan belum memiliki pemukiman tetap. Ditemukan juga rumah yang dibiarkan kosong begitu saja tanpa ditinggali. Biasanya nasabah mengambil rumah subsidi sebagai investasi. Praktek ini “illegal”!. Padahal syarat utama dari kepemilikan rumah subsidi aturannya sudah jelas, DITEMPATI! 

Kembali ke fakta kampung ini, pembagian peran yang melekat antara perempuan dan laki-laki telah membawa mereka untuk membagi ruang. Untuk penghidupan keluarga, laki-laki bekerja disektor informal/ swasta, honorer pengajar, serta sebagian kecil PNS. Sedangkan perempuan sebagian besar menjadi ibu rumah tangga. Menjaga rumah, mengawasi anak-anak belajar, dan tugas-tugas lainnya. 

Setelah kebijakan pemerintah “memaksa” untuk #DirumahSaja, dampak terhadap penghidupan keluarga sangat terasa. Tidak ada pemasukan, tensi persoalan keluarga meningkat, pengeluaran semakin besar. Fakta ini memunculkan “panik sosial”. Apa yang harus dilakukan untuk terus bertahan?

Perempuan selalu punya cara dalam menciptakan keajaiban guna memastikan dapur keluarga tetap “ngepul”. Dimulai dari saling menanyakan apa yang bisa dilakukan dalam group WhatsApp. Implementasinya gerakan menanam dari rumah dengan menggunakan wadah barang bekas dari plastik, juga sisa bahan bangunan. Bibit, tanah dan bahan pendukung  lainnya didapatkan dengan saling berbagi. Tanaman tumbuh dengan subur. Keterlibatan laki-laki dari gerakan menanam dari rumah mulai terlihat. Mereka memodifikasi dan memanfaatkan sisa-sisa bangunan untuk media tanam kolektif, membersihkan kali kecil yang dimanfaatkan untuk sebar benih ikan, serta membangun kolam ikan mini sebagai upaya “ketahanan pangan mandiri” keluarga. Sebagai perumahan dengan penghuni kelas terdidik, upaya berbagi pengetahuan tentang keadilan dan kesetaraan tidak terlalu banyak menuai tantangan. Bahwa saling dukung antara perempuan dan laki-laki menjadi kunci untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Perempuan dan Ketahanan Ekonomi Keluarga 

Bagaimana perputaran fiskal ditengah pandemi Covid dikampung ini? Usaha rumah tangga menjadi jawabannya. Diera tekhnologi, semua ruang bisa dijangkau dengan mudah dan cepat. Salah satu platform yang digunakan WA. Sejak group WA diinisiasi oleh warga tanggal 23 Agustus 2019, perputaran informasi kebutuhan pokok, sandang, pangan bersileweran. Prinsip pembelian dan penjualan yang dilakukan “dari, oleh dan untuk” warga. Penghuni dalam kampung sendiri adalah “prioritas”. Kampung ini memiliki data setiap rumah tangga yang memiliki usaha dan jenisnya. Dibawah ini ditampilkan aneka rupa jualannya. 

No

Jenis Yang diJual

Makanan , Aneka Kue dan Sembako

Harga (Rp)

Keterangan

1.

Roti Tawar

17.000

Isi 40 per bungkus 

2.

Mie Ayam/ Bakso 

10.000

Setiap jum,at mendapatkan bonus teh manis/tawar. 

3.

Nasi bungkus/ kuning 

5.000

Belum dicantumkan harga digroup, biasanya ditanyakan via japri

4.

Dodol hitam 

10.000

Per mika 

5.

Beras

10.500

Per kg, harga fluktuatif 

6.

Telur ukuran kecil 

42.000

1 trey 

7.

Telur ukuran besar 

45.000

1 trey 

8.

Nuget ayam 

50.000

500 gr

9.

Kentang dan Singkong Frozen 

Belum dicantumkan harga digroup, biasanya ditanyakan via japri

10.

Kue Bolu 

35.000

1 mika panjang 

Lauk dan Krupuk

Harga (Rp)

Keterangan

1.

Bendetan Ikan (dendeng ikan sarden tanpa tulang

5.000

Harga 5.000 mendapatkan 4 ekor, sudah diberikan bumbu

2.

Bebek 

65.000

Bebek sudah bersih dan dipotong

3.

Abon daging 

65.000

1 toples sosis

4.

Abon Ikan 

15.000

1  mika kecil

5.

Krupuk bawang 

10.000

3 bungkus 

Buah-buahan dan Sayur

Harga (Rp)

Keterangan

1.

Nangka 

10.000

3 mika kecil 

2.

Pepaya California 

8.000 – 10.000

3.

Asam manis 

20.000

¼ kg 

4.

Salad buah 

20.000

500 ml

5.

Salad buah 

40.000

1.000 ml 

6.

Jambu boll 

Belum dicantumkan harga digroup, biasanya ditanyakan via japri

7.

Jeruk 

20.000

Per kg 

8.

Kelapa 

Belum dicantumkan harga digroup, biasanya ditanyakan via japri

9.

Kentang Sembalun 

15.000

Per kg 

Bumbu Dapur

Harga (Rp)

Keterangan

1.

Tomat 

5.000

Harga fluktuatif, terkadang 7.500/kg.

2.

Bumbu ragi besar

1.000

Per bungkus ukuran 5×5 cm.

3.

Bawang merah lokal kecil 

20.000

Per kg 

4.

Bawang merah lokal besar 

25.000

Per kg 

5.

Bawang putih 

16.000

Per kg 

6.

Extrafood herbal 

60.000

7.

Terasi bakar

15.000

Per 2 bungkus, isi 4 keping

8.

Terasi Oven 

15.000

Per 2 bungkus, isi 4 keping

9.

Terasi Oven 

10.000

Per 2 bungkus 

Multivitamin

Harga (Rp)

Keterangan

1.

Madu Asli 

170.000

2.

Madu Putih 

200.000

Pakaian dan Perlengkapan lainnya

Harga (Rp)

Keterangan

1.

Baju anak-anak

35.000

Baju pantai 

2.

Pory satu set

40.000

Pisau kecil dan pengupas buah

3.

Gamis Dewasa, anak2

170.000

Dewasa

4.

Ikat rambut/ ciput anak ½ tahun 

13.000

Satu pasang 

5.

Baju tidur dewasa 

75.000

Satu pasang

6.

Daster BaliDewasa

50.000

7.

Miniset 

15.000

8.

Tas anak-anak SM

90.000

9.

Seprei

165.000

Ukuran 160 cm 

10.

Bantal 

Belum dicantumkan harga digroup, biasanya ditanyakan via japri

11.

Kasur Palembang 

235.000

Ukuran 130×180

12.

Fice Shield 

40.000

Untuk usia 2 – 10 tahun 

13.

Sabun pembersih 

15.000

Per batang 

14.

Pembersih dapur

38.000

1 botol 

15.

Tisu dapur 

65.000

Kemasan dalam toples 

16.

Tempat utk mengeluarkan air dari gallon 

Belum dicantumkan harga digroup, biasanya ditanyakan via japri 

17.

Tempat sepatu 

Keterangan : rumah tangga bisa memesan barang yang tidak tersedia dalam list, dengan menerapkan upah jasa kurir.

Jenis jualan diatas ada yang diproduksi sendiri, ada pula didapatkan sebagai re-seller. Semua pembelian langsung diantar ke rumah pemesan. Berapapun jumlahnya. Tempat jualan dengan memanfaatkan sedikit ruang dari halaman depan rumah subsidi itu. Bijak berbagi ruang hal penting diperhatikan. Dengan tetap pada prinsip “ketersediaan ruang terpisah antara anak dan orangtua”. Rumah tinggal bisa sempit, tapi rumah jiwa seluas samudera”. 

Kehadiran perempuan dengan inisiatif ketahanan ekonomi keluarga ditengah pandemi menjadi denyut kehidupan. Upaya ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahwa mereka menjadi bagian “garda terdepan” untuk tetap memastikan keluarga tetap bisa dirumah dengan imunitas yang baik. Inisiatif #SalingJaga juga diterapkan. Berbagi masker, obat-obatan, bahkan kebutuhan pokok. Karena data rumah tangga rentanpun tersedia. Semoga keberkahan menaungi langkah perempuan untuk terus menyelamatkan kemanusiaan. 

Tulisan ini ialah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

321 shares
Nur Janah

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Bangga Bangga
1
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
0
Sedih
Takut Takut
0
Takut

Komentar

Komentar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend