NTB memangkas jarak kemiskinan menuju 2030, masyarakat didorong terlibat aktivitas ekonomi

Tauhid Rifai (kiri) dan Riduan Mas'ud (Kanan). Foto. Ist

kicknews.today – Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat perkembangan positif dalam dinamika kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satu indikator penting yang menunjukkan arah perbaikan tersebut adalah semakin menyempitnya selisih tingkat kemiskinan antara NTB dan rata-rata nasional.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2019 selisih tingkat kemiskinan NTB terhadap nasional masih berada pada kisaran 5,15 persen. Namun pada tahun 2025, selisih tersebut turun menjadi sekitar 3 persen. Capaian ini merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir.

 

Penurunan ini bukan sekadar perbaikan angka statistik, melainkan mencerminkan bahwa laju penurunan kemiskinan di NTB berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata nasional. Dengan demikian, meskipun tingkat kemiskinan NTB masih berada di atas nasional, arah konvergensi menuju rata-rata nasional semakin jelas.

 

Dalam perspektif pembangunan, indikator selisih ini memiliki makna strategis. Fokus tidak hanya pada tinggi atau rendahnya angka kemiskinan, tetapi pada apakah kesenjangan terhadap nasional semakin melebar atau justru menyempit. Dalam konteks NTB, tren yang terjadi menunjukkan proses pengejaran ketertinggalan yang cukup konsisten.

 

Apabila tren penurunan selisih ini dapat dipertahankan pada kisaran 0,3 hingga 0,4 persen per tahun, maka secara proyeksi NTB berpeluang keluar dari kelompok provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi pada sekitar tahun 2030. Hal ini membuka peluang bagi NTB untuk memasuki kelompok provinsi dengan tingkat kemiskinan menengah.

 

Namun demikian, capaian ini perlu disikapi secara hati-hati. Penurunan kemiskinan yang berkelanjutan tidak dapat bergantung pada bantuan sosial semata. Bantuan sosial memiliki peran penting dalam jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan secara struktural.

 

Penguatan Desa sebagai Basis Ekonomi

 

Salah satu pendekatan yang relevan adalah penguatan konsep Desa Berdaya. Dalam kerangka ini, desa diposisikan sebagai pusat kegiatan ekonomi produktif, bukan sekadar objek pembangunan.

 

Masyarakat desa didorong untuk terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi seperti pertanian produktif, peternakan rakyat, perikanan budidaya, usaha mikro kecil menengah, serta industri rumah tangga. Selain itu, penguatan Badan Usaha Milik Desa dan koperasi menjadi instrumen penting dalam mendorong aktivitas ekonomi lokal.

 

Keunggulan pendekatan ini terletak pada indikator keberhasilannya yang terukur, seperti peningkatan jumlah penduduk yang bekerja, pertumbuhan unit usaha desa, kenaikan pendapatan masyarakat, serta penurunan jumlah rumah tangga miskin. Dengan demikian, fokus kebijakan bergeser dari distribusi bantuan menuju peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.

 

Hilirisasi sebagai Kunci Nilai Tambah

 

Selain penguatan desa, tantangan utama lainnya adalah rendahnya nilai tambah ekonomi. Selama ini, sebagian besar masyarakat menjual produk dalam bentuk mentah, sehingga nilai ekonomi yang lebih besar dinikmati oleh daerah lain yang memiliki kapasitas pengolahan.

 

Dalam konteks ini, hilirisasi menjadi strategi kunci. Transformasi komoditas primer menjadi produk olahan akan meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas peluang kerja.

 

Komoditas seperti jagung, ikan, rumput laut, padi, dan ternak memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan harga jual, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha kecil dan industri lokal.

 

Menjaga Momentum Pembangunan

 

Penyempitan selisih kemiskinan antara NTB dan nasional merupakan indikator bahwa arah pembangunan sudah berada pada jalur yang tepat. Namun, hal ini juga menjadi pengingat bahwa NTB masih berada dalam kondisi rentan.

 

Konsistensi kebijakan menjadi faktor penentu ke depan. Fokus pembangunan perlu diarahkan pada penciptaan pendapatan masyarakat melalui penguatan ekonomi desa, hilirisasi sektor pertanian dan kemaritiman, pengembangan usaha mikro, serta peningkatan akses permodalan.

 

Jika strategi ini dijalankan secara berkelanjutan, maka target tahun 2030 bukan sekadar proyeksi optimistis, melainkan peluang yang realistis.

 

Pada akhirnya, pengentasan kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya melalui bantuan. Kemiskinan hanya dapat dikurangi secara berkelanjutan melalui peningkatan pekerjaan, aktivitas usaha, dan penciptaan nilai tambah ekonomi di tingkat masyarakat. (cit)

 

Penulis : Riduan Mas’ud

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI