in

Musim kemarau hampir merata di NTB

Peta analisis curah hujan darsiran Mei BMKG Mataram (10/5/2021)

kicknews.today – Musim kemarau di Nusa Tenggara Barat (NTB) hampir merata. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan pada dasarian I Mei 2021 berada pada kategori rendah (0 – 50 mm per dasarian).

Curah hujan tertinggi terjadi di wilayah Kediri di Kabupaten Lombok Barat  jumlah curah hujan sebesar 138 mm/dasarian. Sifat hujan dasarian I Mei 2021 di NTB bervariasi pada katagori Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN).

Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) umumnya dalam kategori Pendek  (6 -10 hari). Namun ada beberapa daerah terpantau mengalami HTH dengan kriteria panjang (21 – 30)  hingga sangat panjang (31 – 60 hari). HTH terpanjang terpantau di Pos Hujan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur yaitu sepanjang 51 hari.

“Kendati begitu, beberapa wilayah termonitor masih belum memasuki musim kemarau seperti sebagian wilayah Kabupaten Lombok Utara, wilayah Kabupaten Lombok Barat, wilayah Kota Mataram,” prakirawan BMKG, Nindya Kirana. 

Indeks ENSO saat ini berada dalam kriteria netral dan diprediksi tetap terjadi setidaknya hingga bulan November. Sementara Indeks Dipole Mode berada pada kategori Netral dan diprediksi akan tetap netral sampai Oktober 2021.

Angin timuran secara umum mendominasi wilayah Indonesia, termasuk NTB. Pergerakan MJO  terpantau tidak aktif di Benua Maritim. 

Anomali OLR menunjukkan di NTB mengalami daerah subsiden hingga pertengahan Mei 2021, akan tetapi akhir Mei terdapat potensi konvektifitas akibat dari aktivitas MJO. Oleh karena itu, peluang terjadinya pembentukan awan hujan pada akhir bulan Mei 2021 cukup besar.

Sementara dasarian II Mei 2021, diprakirakan terdapat peluang curah hujan <20 mm/dasarian sebesar >50 – 90% yang merata hampir di seluruh wilayah NTB. Sedangkan peluang curah hujan >50 mm/dasarian sebesar <10% yang terjadi di seluruh wilayah NTB. 

Memasuki musim peralihan BMKG Lombok Barat mengeluarkan imbauan terhadap masyarakat. 

“Agar lebih bijak menggunakan air bersih. Namun masyarakat juga tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi terjadinya cuaca ekstrem yang bersifal lokal,” sarannya. (nur)

Editor: Annisa

Laporkan Konten