in

Api di Bukit Sempana Taman Nasional Gunung Rinjani belum bisa dijinakkan

Petugas saat berupaya memedamkan api di bukit sempana kawasan Gunung Rinjani

kicknews.today – Anggota Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Timur masih berjibaku menjinakkan kebakaran di Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur.

Api yang mulai terlihat Selasa pagi kemari masih terus menyala hingga Rabu (11/08) sore. Bahkan meluas ke bukit-bukit disekitarnya seperti Anak Dara, Nanggi dan Sellong.

Kabid Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan Nusa Tenggara Barat (NTB) Mursal mengatakan, keterbatasan alat menjadi kesulitan anggota Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan dalam memadamkan api.

“Anggota Pengendalian Hutan dan Lahan di-backup dari unsur lain hanya menggunakan peralatan seadanya yaitu ranting pohon untuk memadamkan api. Selain itu, tidak dilengkapi dengan baju pelindung panas,” kata Mursal, Rabu (11/08).

Lebih lanjut, penggunaan alat-alat Pemadam Kebakaran Hutan seperti mobil Damkar tidak dapat digunakan karena lokasi kebakaran berada di puncak bukit yang terjal dengan ketinggian 1.500 m dpl. Pihak LHK NTB sendiri, telah mengajukan bantuan guna pengadaan alat-alat pemadam kebakaran serta baju pelindung panas mengingat kebakaran lahan sering terjadi.

Mursal menambahkan, luas areal yang terbakar mencapai 378 Ha. Menurutnya area tersebut lebih luas dibandinding peristiwa terbakarnya Bukit Anak Dara di tahun 2020 lalu.

Sementara penyebab kebakaran sendiri masih dalam penyelidikan. Mursal mengatakan, wilayah yang terbakar di Bukit Sempana merupakan hutan lindung walau pun masuk RTK 1 Gunung Rinjani serta memili peran penting sebagai daerah resapan air.

“Saat ini kami terus berusaha untuk memadamkan api agar tidak terus meluas. Kita juga mengimbau masyarakat untuk tidak lagi melakukan pembakaran lahan secara sengaja dan jika ada pengunjung harap berhati-hati karena bukit Anak Dara, Nanggi, Sellong dan Sempana mudah terbakar,” tutupnya. (Nur)

Editor: Deo

Laporkan Konten