in

Menjaga Kesucian Segara Anak, Tower Raksasa Masyarakat Lombok di Rinjani

Ritual upacara agama Hindu Mulang Pakelem di Danau Segara Anak Gunung Rinjani

kicknews.today – Menjaga ekosistem alam di Gunung Rinjani adalah kewajiban semua pihak. Apalagi di Rinjani ada Danau Segara Anak yang merupakan tower air raksasa bagi masyarakat di pulau Lombok di mana sebagian besar cadangan air tanah di pulau ini berhulu dari sana.

Berbeda ketika bicara soal tanah, pengelolaan kesehatan ekologi air, baik sungai maupun danau pengelolaannya lebih kompleks karena air merupakan sumber kehidupan yang langsung dikonsumsi manusia.

Dosen Botani dan Ekologi Hutan Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Mataram Nichi Valentino, M.Hut, M.Si menerangkan kalau bicara di Pulau Lombok, sebenarnya masyarakat lokal sangat mengamini kalau Gunung Rinjani adalah gunung yang sakral.

“Seharusnya semua pihak menjaga kesehatan ekosistem air di Rinjani, karena secara budaya kita ketahui masyarakat di Lombok menyakralkan gunung ini. Salah satu penyebabnya karena Rinjani merupakan sumber air sepulau Lombok,” katanya menerangkan kepada kicknews.today di Mataram, Senin (24/2).

Namun yang menjadi persoalan saat ini, apakah masyarakat dan para pendaki sadar akan menjaga ekosistem di Gunung Rinjani, sedang kenyataannya menurut survei yang dilakukan Komunitas Sapu Gunung bersama Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) pada tahun 2016, gunung Rinjani menempati urutan pertama gunung dengan sampah terbanyak. Belum lagi persoalan sanitasi yang sama sekali tidak terurus.

“Saya pikir ini ada budaya yang terkikis. Parameternya, orang berangkat ke sana (Rinjani) seharusnya menjaga juga budaya lokal dan ikut menjaga ekosistem Rinjani. Salah satunya dengan menjaga kebersihan dan kesehatan ekosistem air di sana,” jelasnya.

Kalau mengacu pada data sebelumnya pada tahun 2017 di mana tercatat jumlah pendaki Rinjani mencapai 82.779 orang dan mendaki tanpa sanitasi yang baik, maka kemungkinan besar air di danau Segara Anak tercemar.

“Air bisa jadi tercemar. Itu juga berarti termasuk air yang kita nikmati hari ini oleh masyarakat Lombok. Walaupun pencemarannya kita belum bisa lihat secara masif. Karena pencemaran juga bisa masuk melalui air tanah,” papar Nichi.

Maka untuk mengatasi persoalan ini seharusnya ada sistem drainase yang dibangun untuk menjamin air di Segara Anak Rinjani tetap bersih dan bebas dari pencemaran terutama dari tinja atau kotoran manusia.

“Sekarang mungkin kita belum sadar saja kalau air di Pulau Lombok ini bisa jadi sudah tercemar karena tidak dilakukan pengelolaan sanitasi yang benar di Gunung Rinjani,” katanya.

Sudah menjadi kewajiban menurut dia, kalau kita seharusnya menjaga sumber air di Pulau Lombok yang berada di Danau Segara Anak Rinjani tetap bersih dan sehat. Apalagi secara budayapun air Segara Anak dianggap suci.

“Kita harus menjaga sumber ini. Walaupun alam punya daya toleransi atau punya mekanisme untuk menyaring, tetapi dengan kondisi banyaknya kunjungan ke Rinjani dengan tanpa ada perbaikan sanitasi, kalau dihitung 10 tahun terakhir saja, sudah berapa besar pencemarannya?” cetus dia bertanya.

Lambat laun menurut Nichi, tanpa disadari nanti pencemaran air di Danau Segara Anak Rinjani ini semakin besar dan dampaknya tentu saja mempengaruhi seluruh masyarakat di Pulau Lombok.

“Kita tentu lebih baik mencegah daripada nantinya sudah terjadi,” lanjut dia.

Belum lagi ketika bicara kesucian, dimana air Rinjani dianggap suci baik bagi masyarakat Lombok yang beragama Islam maupun Hindu dan agama lainnya, tentu saja masalah kesehatan ekosistem air di Danai Segara Anak wajib dijaga bersama.

“Misalnya sumber air awet muda di Narmada yang airnya dianggap sakral dan berasal langsung dari mata air di gunung Rinjani,” pungkasnya.

Untuk sistem drainase sanitasi di danau Segara Anak nantinya bisa saja menggunakan pendekatan teknologi seperti penggunaan integrated floating wetland dimana teknologi ini digunakan untuk pengelolaan air tanah, danau, dan sungai yang bisa dimanfaatkan sebagai solusi pengelolaan sungai dan danau yang saling berhubungan. Ataupun misalnya teknologi nanobubble untuk pengolahan air limbah agar tidak mencemari sungai dan danau.

Maka pengelolaan air di Danau Segara Anak Rinjani ini merupakan tanggung jawab bersama, baik individu, masyarakat, maupun pemerintah pusat dan daerah, mengingat pentingnya fungsi dan peruntukannya. (red.)

What do you think?

100 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Banjir Bandang Terjang Lombok Timur, Ratusan Orang Mengungsi

Pembangunan Rumah Khusus Nelayan Pantai Selong Belanak Terkendala Pematangan Lahan