in

Jangan Biarkan Alam Rusak

Alam sudah rusak. Itulah pernyataan singkat yang menggambarkan kondisi obyektif dunia ekologi saat ini. Kebenaran pernyataan ini dibuktikan dengan sejumlah bencana alam yang terus meningkat secara kualitatif dan kuantatif yang dipicu oleh suhu udara yang semakin panas di permukaan bumi melebihi batas normal atau dikenal dengan istilah pemanasan global (global warming).

Terjadinya global warming merupakan akumulasi efek negatif penggunaan atau  pemanfaatan sesuatu yang mengeluarkan karbon dioksida (CO2) secara berlebihan (isrâf) atau biasa disebut dengan istilah efek rumah kaca (green house effect). Akumulasi ini disertai dengan semakin kecilnya luas dan jumlah ‘jalur hijau’ seperti sawah, kebun, hutan dan sejenisnya sebagai pengghisap zat kimiawi beracun tersebut.

Banyak hal yang membuat alam ini kebanjiran carbon dioksida. Sebut saja di antaranya: asap pabrik, asap knalpot kendaraan bermotor, kulkas, AC, limbah plastik, pembakaran batu bara dan beberapa hal lainnya. Sementara terjadinya krisis ‘jalur hijau’ disebabkan oleh sikap manusia terhadap lingkungan dengan pola hubungan egosentris, dimana alam diperlakukan secara semena-mena sesuai dengan kepentingan manusia tanpa menghiraukan dampak negatif terhadap keteraturan ekosistem

Bentuk pola hubungan egosentris manusia dengan alam dapat berupa tindakan alih fungsi lahan persawahan, perkebunan, dan hutan menjadi area perumahan, perhotelan, dan perindustrian tanpa disertai dengan AMDAL yang memadai.  Akibat pola hubungan egosentris ini alam mengalami kerusakan yang sangat parah. Contoh paling aktual adalah deforestasi hutan Indonesia sampai pada titik kritis. Menurut Forest Watch Indonesia (FWI) angka laju deforestasi hutan selama 2013 hingga 2017 mencapai 1,47 juta hektar pertahun (FWI:  po-co.cdn.ampproject.org)

Dengan tindakan deferostasi tersebut, fungsi hutan sebagai paru-paru dunia terus melemah dalam menyerap karbon dioksida untuk diubah menjadi oksigen atau O2. Pada tahapan ini, dampak buruk pada beberapa aspek kehidupan terus bermunculan. Suhu udara semakin panas yang kemudian menimbulkan efek lanjutan di antaranya: 1) bertambah lamanya masa musim kemarau atau bahkan datangnya musim tidak bisa diprediksi; 2) krisis air bersih; 3) erosi dan banjir yang menenggelamkan pemukiman masyarakat sebagaimana sering terjadi akhir-akhir ini; 4) cairnya es di kutub dan di puncak gunung; 5) meningkatnya volume air laut; dan 6) banyak pulau-pulau yang terancam tenggelam sebagai dampak lanjutan meningkatnya volume air laut dalam jumlah besar.

Secara teologis, fenomema kerusakan alam – yang dalam bahasa kenikian dipicu oleh pemanasan global berikut ekses-ekses negatifnya yang berantai sebagai akibat ulah manusia sebagaimana diuangkap atas– bukanlah informasi yang sama sekali baru. Al-Qur’an dengan bahasa yang sangat mudah dipahami menegaskan bahwa telah terjadi kerusakan ekosistem yang bersifat sistemik dan masif sebagai akibat perilaku manusia, termasuk dalam eksploitasi alam yang tidak terukur dan atau tidak bertanggung jawab (Q.S. Al-Rûm:41).

Menariknya, Al-Qur’an sejak dini sudah mencurigai (atau tepatnya memprediksi) bahwa manusia berpotensi memiliki sifat negatif yang mengancam keteraturan kosmos (Q.S. Al-Baqarah: 30). Karenanya, dalam rangka menjaga kelestarian alam, banyak ayat Al-Qur’an – kurang lebih ada 42 ayat — dengan redaksi yang beragam melarang manusia   melakukan hal-hal yang berakibat rusaknya ekosistem. Salah satu contohnya adalah ayat berikut ini: ”… dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman“. (Q.S. Al-A’râf: 85). Keseriusan doktrin Islam dalam menjaga kestabilan alam juga dibuktikan dengan adanya larangan mematahkan tangkai pohon bagi seseorang yang sedang ihram – sebagai salah satu rangkaian ritual haji.

Namun sayang, doktrin-doktrin teologis di atas selama ini berada dalam ’etalase’ normatif yang berakibat fungsinya menjadi tertahan. Maka wajar jika keberadaannya nyaris tidak berpengaruh banyak dalam usaha menahan laju kerusakan alam. Untuk mengembalikan fungsi sejati (maqâsith al-syarîah)nya, doktrin-doktrin teologis tersebut harus direaktualisasikan dalam tiga aspek utama;  Pemahaman yang benar tentang hutan (knowing forest), tindakan (action)  dan sains (science).

Pertama, tidak sedikit jumlah masyarakat yang ‘buta’ pengetahuan tentang hutan sehingga mereka akhirnya bertindak bodoh saat berinteraksi dengan paru-paru dunia ini. Sebagaimana diungkapkan dalam UU Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan ditegaskan bahwa hutan Indonesia adalah karunia dan amanat Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilestarikan untuk kemakmuran rakyat Indonesia, generasi sekarang dan generasi akan datang. Dalam pasal 1 undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa hutan harus dipahami secara komprehensif menyangkut wujud, fungsi, dan perannya. Intinya, harus dihayati seolah-olah ia bagian dari anggota tubuh manusia sehingga hutan diperlakukan sebagaimana mereka memperlakukan diri sendiri. Lebih dalam lagi, secara teologis hutan bukan hanya karunia dan amanat Tuhan, ia adalah penampakan (tajalli) Tuhan sehingga hanya  energi positif yang mengalir pada seseorang saat berinteraksi dengannya (hutan).

Kedua, dalam aspek tindakan (action), doktrin teologis di atas menjadi referensi bagi seseorang dalam menentukan pola hubungan dengan alam. Sesuai pesan moral yang dikandungnya, pola hubungan yang ideal adalah ekosentris. Pola hubungan ini  menempatkan kosmos dalam kesatuan yang serba teratur dan saling bergantung. Pada titik ini, seseorang akan memahami bahwa dirinya juga merupakan entitas dari ekosistem yang saling bergantung dan saling mempengaruhi. Beranjak dari pemahaman tersebut, akan tumbuh suatu kesadaran bagi seseorang untuk melakukan yang terbaik demi ketahanan alam. Dan dalam nalar hukum sebab akibat, tindakan tersebut berdampak positif bagi keberlangsungan hidupnya. Selanjutnya, alam tak lagi menjadi ancaman bagi dirinya. Pendek kata, meminjam pernyataan Nabi Muhammad, dalam pola hubungan ekosentris ini, manusia dan alam bagaikan bangunan gedung, satu dengan lainnya saling memperkuat.

Dalam konteks pola hubungan ekosentris, tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencegah laju kerusakan alam? banyak hal yang dapat dilakukan antara lain: (1) restorasi (restoration) atau pemulihan ekologi dengan cara melakukan gerakan reboisasi di lahan tandus, (2) restorasi atau pemulihan spesies hutan, (3) keberadaan agrikutural disesuaikan dengan lingkungan alam, (4) alih fungsi lahan didasarkan pada AMDAL.

Ketiga, dalam aspek sains (science), doktrin teologis di atas dipelajari dan dikaji dengan menggunakan pendekatan logika penemuan (the logic of discovery). Pendekatan ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa sunnatullah yang mengatur mekanisme kerja alam tidak dijabarkan secara detail dalam Al-Qur’an. Realitas obyektif ini menuntut manusia untuk mencari sendiri melalui penelitian. Hanya dengan penelitian-lah akan banyak didapatkan temuan-temuan baru yang mendiskripsikan hukum alam secara lebih terperinci untuk kemudian dijadikan referensi dalam membangun pola hubungan dengan alam.

Merujuk pada uraian singkat di atas, ternyata masih banyak kesempatan bagi kita untuk menahan laju kerusakan alam. Satu di antaranya mengganti pola hubungan dengan alam dari egosentris ke ekosentris. Dan pola ekosentris ini tidak hanya dibenarkan dalam nalar sains, tetapi juga menjadi suatu kewajiban dalam nalar teologi  Islam.

Penulis ialah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

Editor: Dani

Laporkan Konten