in

Dokter “Pereda Nyeri” Rawan Kasus Meja Operasi

Oleh : dr Sherliyanah Sp.An M.Si.Med. FCC
Mahasiswa Pasca Sarjana Hukum Kesehatan Fakultas Hukum

Ketika kita mendengar kata dokter spesialis maka yang terlintas dalam benak kita adalah dokter spesialis anak, spesialis bedah, speseialis penyakit dalam dan berbagai dokter spesialis yang langusng berhubungan dengan pasien. Adapun dokter spesialis anestesi sangat jarang di dengar, bahkan tidak familiar dikalangan pasien awam. Hal itu dikarenakan kebanyakan orang hanya mengalami pengobatan biasa (bukan tindakan operasi), sementara perjumpaan seorang pasien dengan dokter anestesi sangatlah jarang.

Kata anestesi diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Analgesia adalah pemberian obat untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. Anestesiologi adalah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi menghilangkan nyeri sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Definisi Anestesiologi berkembang terus sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran.

Anestesi umum adalah menghilangkan kesadaran dengan pemberian obat obat tertentu, tidak merasakan sakit walaupun diberikan rangsangan nyeri, dan bersifat reversibel. Kemampuan untuk mempertahankan fungsi ventilasi hilang, depresi fungsi neuromuskular, dan juga gangguan kardiovaskular. Pasien membutuhkan bantuan untuk mempertahankan jalan napas dan pemberian ventilasi tekanan buatan. Dalam maslah seperti inilah anestesi berkecimpung, oleh karena itu sering kita dengar istilah sedasi dan anestesi dalam ilmu medis kedokteran.

Dokter anestesi merupakan dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi atau pembiusan kepada pasien yang hendak menjalani prosedur bedah atau operasi dan prosedur medis lainnya yang memerlukan tindakan anestesia. Dokter anestesi merupakan bagian dari tim bedah yang bekerja sama dengan dokter bedah dan perawat atau penata anestesi. Tindakan anestesi yang dilakukan dokter spesialis ini berupa pemberian obat-obatan sedatif dan antinyeri agar pasien tertidur dan tidak merasakan nyeri selama prosedur operasi.

Setiap Tindakan Operasi Perlu Anestesi

Tanggung jawab dokter anestesi meliputi, praoperasi, masa operasi dan pasca operasi. Jadi keterlibatan dokter anestesi dalam menentukan dan memberikan out put keberhasilan sebuah operasi itu sangatlah besar. sebelum operasi dilaksanankan dokter anestesi bertugas membuat evaluasi sebelum pembiusan, yakni memastikan kondisi pasien layak untuk menjalani operasi. Selain itu, dokter anestesi juga akan membuat rencana anestesi yang sesuai dengan kondisi pasien. Hal ini termasuk jenis anestesi yang akan digunakan dan metode alat bantu napas yang akan diberikan. Berikut beberapa hal yang menjadi pertimbangan dokter anestesi sebelum memberikan pembiusan kepada pasien atau kelayakan pasien untuk menjalani tindakan operasi, antara lain :

Kondisi dan Riwayat Kesehatan

Sebelum pelaksanaan operas maka dokter anestesi akan mencari dan menanyakan kondisi kesehatan terkini dari pasien, menanyakan riwayat kesehatan (pernah menjalani tindakan operasi sebelumnya atau tidak), riwayat kesehatan keluarga yang berhubungan dengan tindakan operasi yang akan diambil (misalnya riwayat penyakit dalam keluarga atau ada jenis obat-obatan yang menimbulkan alergi ketika dikonsumsi, atau ada riwayat keluarga yang alergi terhadap obit bius). Semua ini untuk membantu dokter anestesi dalam keputusannya untuk memberikan obat dan mengambil tindakan saat dimeja operasi dan pasca operasi.

Jenis Operasi

Dokter anestesi akan mempertimbangkan jenis operasi yang akan dilakukan sebelum memberikan pembiusan. Misalnya dalam operasi pasien membutuhkan anestesi umum untuk memberikan kenyamanan dan keamanan selama menjalani operasi besar, atau pasien hanya butuh anestesi lokal saja.

Hasil Pemeriksaan Medis dan Konsultasi dengan dokter Spesialis Lain

Hasil pemeriksaan medis yang digunakan oleh dokter anestesi meliputi pemeriksaan medis fisik dan penunjang. Dimana sebelum operasi hasil pemeriksaan itu akan dikonsultasikan kembali kepada dokter lain yang berkompeten dengan hubungannya kelayakan operasi. Misalnya, pada pemeriksaan ditemukan ada masalah dengan denyut jantung, maka dokter anestesi akan melakukan konsultasi dengan dokter spesialis jantung mengenai masala tersebut dan kelayakan untuk melakukan tindakan operasi.

Mengapa Dokter Anestesi Rawan Masalah Hukum ?

Jumlah Dokter Anestesi Terbatas

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka dokter spesialis anestesi yang didayagunakan di rumah sakit di Indonesia berjumlah 4.134 sumber daya manusia. Angka ini jauh lebih rendah, jika dibandingkan dengan dokter spesialis bedah atau obgyn yang berjumlah total 11.216 dokter. Keterbatasan jumlah dokter anestesi ini membuat beberapa rumah sakit di daerah belum memiliki dokter anestesi. Apalagi jika dicermati lulusan resident dokter spesialis lebih banyak yang memilih untuk mencari peluang kerja di daerah perkotaan dari pada harus bekerja di daerah. Jika dibandingkan dengan angka tindakan medis operasi yang kian hari kian bertambah di daerah justru daerah lebih membutuhkan tenaga spesialis. Seperti halnya kasus pandemi covid kemarin, peran dokter anestesi sangat urgen dalam mengelola ICU Covid dan penanganan pasien covid.

Peran Penata Anestesi Terbatas

Perawat tak bisa sembarangan membius pasien. UU No. 29 Tahun 2004 memuat sanksi pidana dan denda kepada siapapun yang menjalankan praktek kedokteran tetapi sebenarnya tidak berwenang. Hal ini sangat dilematis, karena jumlah dokter anestesi yang terbatas, sementara dalam prakteknya penata atau perawat anestesi yang menjalankan tugas anestesi akan berhadapan dengan hukum meskipun dalam keadaan tidak adanya dokter anestesi (keadaan darurat tanpa dokter). Sebagai solusi penata atau perawat anestesi dapat melakukan tindakan pembiusan jika didampingi oleh dokter (dalam hal ini tidak mesti dokter anestesi) atau mendapat pelimpahan dari dokter. Intinya penata atau perawat anestesi tidak boleh melakukan tindakan pembiusan seorang diri, merujuk pada pasal 77 UU Praktek Kedokteran. Dari peraturan ini dapat dimengerti bahwa kesalahan yang terjadi oleh “tangan” penata atau perawat anestesi adalah juga merupakan tanggung jaw dokter anestesi.

Kesalahan di Meja Operasi Adalah Kesalahan Kolektif

Malpraktek adalah suatu kesalahan dan kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam melaksanakan profesinya yang tidak sesuai dengan standar profesinya dan standar prosedur operasional, akibat kesalahan atau kelalaian tersebut pasien menderita luka berat, cacat, bahkan meninggal dunia. Malpraktek secara medis adalah kelalaian seorang dokter menggunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan berdasarkan ukuran yang lazim orang lain dalam mengobati pasien dengan ukuran standar di lingkungan yang sama. Kelalaian diartikan pula dengan melakukan tindakan kedokteran dibawah standar pelayanan medik.

Jadi tidak ada orang yang menginginkan sebuah kesalahan terjadi dalam tindakannya, apalagi sampai mencelakai orang lain. Namun dokter juga manusia biasa, juga tidak luput dari salah. Oleh karena itu ketika dokter melakukan sebuah kesalahan maka masyarakat mengenalnya dengan nama “malpraktek”. Ketika terjadi kesalahan di meja operasi yang melibatkan beberapa dokter (termasuk dokter anestesi), maka yang dituntut adalah team work (semua yang terlibat dalam operasi itu). Walaupun tindakan anestesinya sudah benar dan sesuai prosedur namun jika ada kesalahan dalam pelaksanaan operasi (misalnya dilakukan oleh operator) maka dokter anestesi juga mendapat tuntutan dari pasien jika menempuh jalur hukum. Maka dapat dikatakan perlindungan hukum pertama dokter anestesi itu ada pada operator operasi, karena dokter anestesi menangani tidak hanya satu opreator operasi tapi beberapa operator dalam sehari, sesuai dengan jumlah operasi.

(contoh kasus terjadi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, pada Juli 2006 dimana searing spesialis THT mengoprasi telinga kanan pasien dan di tuntut karena seharusnya yang dioperasi telinga kiri, dalam hal ini dokter anestesi yang terlibat dalam operasi juga terkena tuntutan hukum itu.)

Kesalahan Penyedia Akomodasi Rumah Sakit Juga ditanggung Anestesi

Kesalahan dalam profesi adalah hal yang tak dapat dihindarkan, karena setiap orang tidak dapat memprediksi kondisi yang akan terjadi. Kesalahan ini ada yang Kecil tak berdampak apa-apa, namun adapula yang besar hingga menghilangkan nyawa. Kalau kesalahan itu memang karena kelalaian kerja dokter atau salah penanganan maka bertanggung jawab untuk hal itu adalah terhormat. Namun yang terjadi pada 22 maret 2001 di salah satu Rumah Sakit di Bengkulu, dimana dua orang dokter spesialis di tahan karena dianggap menghilangkan 2 nyawa pasien dalam tindakan operasi. Setelah penyelidikan didapatkan bahwa gas yang dipergunakan dalam operasi itu bukanlah N20. Ternyata pada konektor yang bertuliskan N20, yang keluar adalah CO2. Tentunya kedua dokter tersebut telah melakukan tugas mereka sesuai SOP dan etika kedokteran dan mereka sama sekali tidak mengetahui konentor yang bertuliskan N20 itu berisi CO2.

Dari data diatas yang saya ingin katakan adalah, celah untuk berkasus secara hukum bagi dokter anestesi itu besar. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan-tindakan yang harus ditempuh baik secara medis maupun hukum. Seorang dokter anestesi sebelum melakukan operasi harus melakukan infom consent baik kepada pasien itu sendiri maupun kepada keluarga pasien. Jika ada tindakan yang dinilai akan membawa dampak fatal dan bisa berujung kematian maka dijelaskan kepada keluarga dan dimintai persetujuan secara tertulis. Dengan seperti ini komunikasi antara dokter, pasien dan keluarga pasien terbangun. Jika terjadi hal yang diluar prediksi maka semua bisa memahami akan konsekuensi sebuah tindakan yang telah dipilih dengan berbagai resiko yang telah dipaparkan. Langkah seperti ini yang sering kami lakukan agar terjalin kesamaan presepsi dengan pasien dan keluarganya, sehingga keluarga pasienpun merasa dihargai, terutama saat akan mengerjakan operasi besar yang memiliki tingkat resiko dan kesulitan yang tinggi. Jika semua usaha telah dilakukan namun tetap terjadi kasus hukum, maka mediasi adalah solusi terbaik yang dilakukan. Bangun kedekatan dengan keluarga pasien dan semuanya diselesaikan dengan kekeluargaan.

Dari paparan diatas dapat dilihat urgensi sekaligus masalah seputar dokter anestesi oleh karena itu diakhir bagian ini kami menyarankan kepada pemerintah daerah, selaku pemangku kebijakan agar memberi anggaran atau ruang untuk mengirim putra-putri daerah mengikuti pendidikan dokter spesialis anestesi. Karena diharapkan jika telah menyelesaikan pendidikannya mereka akan kembali mengabdi ke daerah masing-masing yang telah memberikan beasiswa pendidikan.

Untuk pemerintah pusat agar memberikan ruang kepada penata anestesi atau perawat anestesi berupa payung hukum yang melindungi mereka. Karena tidak dapat dipungkiri di daerah terkadang sangat sulit untuk menemui dokter anestesi namun kasus medis banyak yang harus mendapat penaganan cepat. Dengan demikian tindakan medis yang urgen dapat diambil tanpa takut akan terseret kasus hukum.

Editor: Awen

Laporkan Konten