in

Ad10s Maradona

Para penggemar berkerumun di samping mobil jenazah yang membawa mendiang legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona menuju pemakaman, di Buenos Aires, Kamis (26/11/2020). Maradona meninggal dunia dalam usia 60 tahun pada Rabu (25/11) karena serangan jantung. (Raul FERRARI/TELAM/AFP)


Oleh: Sawedi Muhammad
 
Diego Armando Maradona meninggal dunia akibat henti jantung tanggal 25 November 2020 di kediamannya di Tigre, Lanus district, Utara Buenos Aires. Saat wawancara terakhirnya di koran El Clarin yang berlangsung di hari ulang tahunnya yang ke-60 tanggal 30 Oktober, Maradona berujar, “Terkadang saya berpikir apakah orang-orang di luar sana masih mencintai saya. Selamanya saya akan mencintai mereka. Setiap hari mereka memberi kejutan. Apa yang saya alami yang berkaitan dengan sepak bola Argentina adalah sesuatu yang akan saya kenang selamanya.”

Kekhawatiran Maradona akan rasa cinta begitu banyak orang terhadap dirinya terjawab setelah menghembuskan nafas terakhirnya. Orang-orang begitu mencintai Maradona. Seluruh dunia berduka atas kepergiannya. Mulai dari Naples Italia, Bengali India, Dhaka Bangladesh, Santiago Chili, Caracas Venezuela sampai di Havana Kuba. Para penggemar dan pemujanya berduka setelah mengetahui Diego telah berpulang. Banyak pesohor dan kalangan elit sepak bola dunia mengakui kehebatannya memainkan si kulit bundar. Pele, salah satu legenda sepak bola asal Brazil berciut di twitter, menyatakan duka atas kehilangan seorang sahabat yang hebat. Pele mengakui bahwa dunia tidak hanya kehilangan legenda, tetapi juga kehilangan seorang jenius. “What sad news. I lost a great friend and the world lost a legend..today I say goodbye to a friend and the world says goodbye to an eternal genius.” Tentu saja, rakyat Argentina mersakan duka yang paling dalam. Presiden Argentina, Alberto Fernandez menulis di twitter, mengungkapkan rasa terima kasih atas jasa Diego yang telah membawa negaranya ke puncak sepak bola dunia, sekaligus menyatakan duka dan kehilangan sang legenda untuk selamanya. “You took us to the top of the world. It made us immensely happy. It was the biggest of all. Thank you for existing, Diego. We wil miss you for life.” Untuk menghormati Maradona, Presiden Argentina megumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari.

Beberapa tempat di Buenos Aries seperti bekas rumahnya yang sederhana di Villa Fioriti, stadium Bombonera, stadium Buenos Aires dan plaza de Mayo menjadi tempat perkabungan. Wartawan olahraga Alejandro Wall berujar, “Sudah pasti Maradona adalah pesebak bola terbaik yang pernah dimiliki negeri ini, tetapi itu belum menggambarkan semuanya. Terdapat sesuatu yang membuatnya mencapai prestasi gemilang itu. Maradona adalah narator terbaik Argentina.”
Sejarawan Jimny Burn dalam bukunya “Hand of God: The Life of Diego Maradona, Soccer’s Fallen Star (1996), menulis “Satu hal yang pasti bagi Maradona adalah, saat kematiannya, dengan cara apa pun, pusaranya di Buenos Aires akan sebesar pusara Evita Peron, bahkan semua orang tidak akan percaya bahwa Maradona telah tiada”. Mengapa Diego Maradona begitu dicintai banyak orang meski perjalanan karirnya diwarnai begitu banyak kontroversi? Diego bukanlah sosok sempurna yang memedomani sifat-sifat kenabian dalam hidupnya. Ia berpuluh tahun kecanduan alkohol dan kokain, memiliki anak di luar nikah di beberapa negara, terkoneksi dengan mafia serta menderita obesitas yang sangat parah. Tetapi di Argentina, Diego disembah seperti Tuhan. Di Napoli, ia diperlakukan seperti Dewa.

Sepak Bola Sebagai Pembebasan

Diego Maradona. (AFP PHOTO / STAFF)

Saxena dan Costa, kolumnis The Wire (26 Nov, 2020) menulis bahwa sepak bola di Amerika Latin menyatu dengan sejarah kolonisasi dan perbudakan yang berlumuran darah. Sepak bola dianggap lebih serius dari agama. Sejak sepak bola diperkenalkan di abad ke-19, olah raga ini menjadi salah satu tiket keluar dari kemiskinan. Tak terkecuali bagi Maradona. Dilahirkan di pemukiman kumuh dari keluarga buruh pabrik di Villa Fiorita, ia merepresentasi mereka yang berada di tangga terbawah kelas sosial masyarakat urban yang terpinggirkan. Berkat talenta dan kejeniusannya, Diego menjelma menjadi superstar yang dipuja sepanjang masa. Diego mewakili harapan generasinya untuk keluar dari kemiskinan melalui keahlian memainkan bola. Prestasinya mengalahan Inggris di perempat final piala dunia tahun 1986 di Mexico berkat gol “tangan Tuhan” dan “goal of the century” menjadikan Maradona tidak hanya sebagai pahlawan Argentina, tetapi juga sebagai seniman sepak bola. Maradona memiliki dua kualitas yang tidak dimiliki pesepak bola manapun.

Menurut Marcela Araujo (Guardian, 25 Nov, 2020), Maradona adalah seniman. Ia menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Kedua golnya saat menaklukkan Inggris adalah representasi kemampuan Maradona untuk menjadi figur kontroversial yang sempurna. Gol pertama mencerminkan kecerdikan dan oportunisme. Gol kedua menunjukkan bakat dan kejeniusan yang tak tertandingi.
Menurut Matt O’Connor, kedua gol Diego yang menjebol gawang Peter Shilton bukanlah gol sembarangan. Gol itu menjadi penyembuh sebuah bangsa (Argentina) dari kekalahan perang yang menyakitkan. Maradona berujar sesaat setelah pertandingan usai mengomentari kemenangannya, “Sedikit tentang balas dendam, sedikit dengan tangan Maradona, sedikit dengan tangan Tuhan”.

Kemenangan Argentina atas Inggris seperti laku balas dendam atas kekalahannya di perang Malvinas di tahun 1982. Los Piojos, penyanyi rock Argentina era 90-an mengibaratkan kemenangan itu seperti mengalahkan pasukan kerajaan Inggris bukan melalui senjata di tangan tetapi hanya dengan tulisan nomer 10 di punggung sebuah jersey. “toppling his Majesty’s troops with no more weapon to hand than a number 10 stitched on his shirt”. Selain kontroversial di lapangan bola, Maradona dengan keyakinan politiknya, setali tiga uang. Sesaat setelah berkunjung ke Vatikan dan diterima oleh Paus John Paul II, Diego berkomentar, “Saya di Vatican dan melihat semua plafon emas yang berkilau dan sesudahnya saya mendengar Paus berkata bahwa gereja sangat khawatir atas kesejahteraan anak-anak miskin. Kalau begitu, jual semua plafon emas itu, amigo, lakukanlah sesuatu” (Liz Clarke, The Washington Post, 26 Nov, 2020).

Pilihan politik Maradona diwarnai pemberontakan dari dalam. Ia selalu berdiri kokoh menentang imperialisme dan menyuarakan hak negara-negara Latin Amerika dan negara Selatan lainnya untuk menentukan nasibnya sendiri. Diego selalu menyuarakan perbaikan nasib anak-anak yang hidup di lingkaran kemiskinan di pemukiman kumuh, tanpa listrik, sanitasi dan air bersih. Maradona selalu memihak mereka yang tertindas, terutama rakyat Palestina. Dalam pernyataanya di tahun 2018, Maradona berujar, “Dalam hati saya, saya adalah orang Palestina”. Maradona mengecam kekejaman Israel atas Gaza, bahkan sempat dikabarkan Maradona akan melatih tim nasional palestina dalam pertandingan piala AFC Asian 2015.

Gaya liburan legenda hidup sepakbola, Diego Armando Maradona beserta Tatto dilengannya (Foto : ist)

Maradona bersahabat dekat dengan beberapa pemimpin revolusioner sayap kiri di Amerika Latin. Ia akrab dengan Fidel Castro, Hugo Chavez dan Evo Morales. Maradona bahkan memiliki tato bergambar Fidel di kaki kirinya dan tato Che Guevara di lengan kanannya. Kedekatannya dengan Fidel dimulai saat Maradona bermukim selama beberapa tahun di Havana melakukan pemulihan atas kecanduannya terhadap kokain . Ia menyebut Fidel dan Che sebagai pahlawan dan di beberapa kesempatan, ia bahkan menyebut Fidel sebagai ayah keduanya. Secara kebetulan, Fidel dan Maradona meninggal di tanggal yang sama yaitu 25 November. Selain mengagumi Fidel, Maradona juga menyanjung Hugo Chavez. Di tahun 2005, ia terbang ke Venezuela dan bertemu dengan Chavez di istana ke presidenan. Setelah pertemuan, Maradona berujar, “Saya berharap akan menemui seorang pemimpin besar, ternyata saya menemui seorang raksasa”. Maradona mengagumi Chavez karena program redistribusi pendapatan dan program pendidikan bagi anak-anak miskin. Di siaran TV mingguan Chavez tahun 2007, Maradona menyatakan, “Apapun yang diperbuat Fidel, apapun yang diperbuat Chavez, bagi saya adalah hal terbaik yang harus dilakukan” (BBC News, 26 Nov, 2020).

Dukungan terakhir Maradona diberikan kepada sahabatnya Evo Morales yang dihadang gelombang protes besar-besaran tahun lalu. Morales terusir dari negaranya setelah dinyatakan kalah dalam pemilihan presiden. Maradona menyebut kekalahan Morales sebagai sebuah kudeta. Dalam sebuah postingan di instagramnya, maradona menyatakan penyesalan atas kudeta yang terjadi. Maradona menegaskan bahwa Evo Morales adalah pemimpin yang selalu mengutamakan rakyatnya, pemimpin yang selalu bekerja untuk rakyat Bolivia.
 
Membebaskan Napoli

Komentar Diego Maradona sebelum semifinal Piala Dunia 1990 membuat timnas Italia merasa janggal bermain di San Paolo. (AP/Massimo Sambucetti)

Bagi rakyat Argentina, Maradona adalah pahlawan, tetapi bagi warga Napoli, Maradona adalah Tuhan. Alcide Carmine, pemilik cafe di pusat kota Napoli, berujar, “Bagi kami, Maradona bukanlah manusia biasa. Ia adalah Tuhan. Kami tidak dapat melupakan apa yang telah dilakukan buat kami”. Di dalam cafenya, Carmine membuat sebuah altar mungil dan menempatkan sebuah kotak kecil transparan yang dapat berputar dan dinamainya kotak ajaib. Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Maradona yang didapatnya tahun 1990, saat Carmine satu pesawat dengan Maradona dari perjalanannya menuju Napoli setelah bertanding di luar Naples. Carmine menceriterakan, “Ketika beranjak meninggalkan kursi pesawat, saya menemukan beberapa helai rambut di sandaran kursi. Saya mengambil dan menyimpannya sampai mendapatkan ide untuk membuat kotak ajaib ini” (Andrew Dampf, ABC News, 20 February 2020).

Napoli tahun 1980-an adalah yang termiskin di Selatan. Napoli bahkan selalu dicibir oleh provinsi di utara sebagai kota yang “kotor dan penuh pencuri”. Ia bahkan tidak pernah memenangkan satu kejuaraan sekalipun. Napoli adalah pusat kejahatan terorganisir dan sentra perdagangan narkoba dan sex trafiking. Di tahun 80-an, Napoli hancur akibat gempa dan seluruh kota merasakan dampaknya seakan tak pernah bangkit kembali. Singkatnya, Napoli adalah kota yang dihantui kekerasan, perdagangan gelap tembakau dan heroin yang trotoarnya dipenuhi oleh bekas alat suntik. Kota dimana camorra (mafia) dengan gampangnya membunuh wartawan yang berani memuat intrik antara mafia, politisi dan pebisnis. Kota yang semarak dengan peperangan antara geng dan pembantaian di jalan-jalan. Kota yang menggambarkan keputusasaan, dimana ribuan warganya terpaksa menjadi migran setiap tahunnya ke provinsi utara atau ke Jerman dan Perancis hanya untuk menjadi buruh pabrik.

Maradona tiba di Napoli tanggal 5 Juli 1984. Ia di sambut oleh sekitar 75 ribu penonton di stadion San Paolo. Penulis olahraga David Goldblatt berkomentar, “Mereka (fans) meyakini bahwa sang juru selamat telah tiba”. Tanggal 6 September 1984, adalah saat dimana Maradona memahami bagaimana sebagian dari Italia memandang rendah Napoli. Pertandingan pertama yang menandai musim 1984-1985 itu berlangsung di bagian utara provinsi Verona, rumah dari Romeo dan Juliet sekaligus sebagai pusat keajaiban ekonomi pasca perang. Di debut pertama Seri-A tersebut, Maradona langsung menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, “Mereka menyambut kami dengan banner yang membuat saya menyadari bahwa pertempuran yang dihadapi Napoli bukanlah semata sepak bola; Selamat datang di Italia, demikianlah tertulis. Pertandingan antara Utara dan Selatan — yang rasis melawan yang miskin”. Di masa itu, stadion di provinsi utara telah terbiasa menyambut pemain dari selatan dengan spanduk memuja gunung Vesuvius — serentak berteriak menyebut Napoli sebagai kota “cholera” yang penduduknya harus dimandikan.

Akhirnya tiba momentum membebaskan Napoli. Tanggal 17 Mei 1989, kesebelasan Napoli tiba di Stuttgart untuk pertandingan final piala UEFA melawan VfB Stuttgart. Sekitar 30 ribu dari 67 ribu penonton di stadion Neckar adalah warga Italia. Mereka adalah buruh di pabrik Porsche, Daimler, Bosch atau IBM yang telah meninggalkan kemiskinan dan keputusasaan di wilayah selatan. Saat wasit meniup peluit terakhir dengan skor 3-3 dan Napoli menang angka secara agregat, seluruh stadion merayakannya. Ini bukan sekadar pertandingan, ia juga sebagai kebanggaan dan harga diri untuk berjalan dengan kepala tegak saat melintasi gerbang-gerbang pabrik. Kebanggaan ini hadir bersama riscatto, pembalasan dan juga pembebasan. Jika menanyai orang selatan mengenai arti nomer 10 bagi mereka, orang-orang Napoli akan berujar ci ha levato gli schiaffi da faccia — “Ia (Maradona) menghindarkan kami dari tamparan di muka, sesuatu yang rasanya tidak mungkin tetapi ibaratnya: Maradona membebaskan kami dari hinaan yang kami hadapi, mengembalikan harga diri sekaligus balas dendam terhadap mereka yang selalu merendahkan kami”.

Momentum selanjutnya adalah bagaimana mengalahkan Juventus. Kesebelasan ini adalah yang terkuat. Pemiliknya adalah keluarga ternama Agnelli, salah satu keluarga paling disegani di Italia bagian utara yang paling kaya dan terhormat. Agnelli adalah pemilik industri mobil ternama, Fiat (sekarang jadi Fiat Chrisler Automobiles). Pada tanggal 3 November 1985, Juve tiba di lapangan San Paolo. Saat Napoli mendapatkan tendangan bebas dekat kotak penalti, Juve membentuk benteng pertahanan hanya berjarak 5 meter. Pemain Napoli protes, tetapi wasit tak mampu membuat para pemain mundur ke belakang. Maradona mengatakan kepada timnya, “Saya akan tetap menendang bolanya dan akan membuat gol”. Maradona pun melakukannya dengan sangat brilian. Di saat maradona di Napoli, ia sering menaklukkan Juve. Maradona sendiri mengungkapkan kepada pembuat film Emir Kursturica arti kemenangan Napoli atas Juve: “Terdapat keyakinan bahwa Selatan tidak akan mampu menaklukkan Utara. Kami melawan Juve di Turin dan menang dengan 6 gol. Apakah kamu paham bagaimana rasanya melesatkan 6 gol di gawang Agnelli!”.

Bagi warga Napoli dan mayoritas warga Selatan, mengalahkan Juve sama dengan menundukkan Utara yang berarti menaklukkan mereka yang kaya. Sama ketika Napoli menang di seri A Italia tahun 1989-1990 melawan AC Milan, club yang dimiliki oleh pebisnis yang lagi naik daun, Silvio Berlusconi. Beberapa saat setelah pertandingan, sebuah spanduk dibentangkan di Napoli bertuliskan, “Berlusconi, orang kaya sekalipun, tak kuasa menahan air mata”. Demikianlah Maradona begitu berjasa memulihkan harga diri orang Selatan atas supremasi orang Utara. Hubungannya dengan Napoli tidak lagi sekadar hubungan antara pemain bola dan para penggemarnya. Ia menjelma menjadi kedekatan personal yang dilandasi oleh semangat pembebasan dalam artian yang sesungguhnya.

Terdapat kisah mengharukan saat Maradona berniat membantu seorang bocah miskin pesakitan yang orang tuanya tidak sanggup membiayai operasinya. Ia kemudian membiayai operasi bocah tersebut dari kantongnya sendiri sambil meyakinkan teman mainnya untuk membantu. Di saat kedatangannya di Napoli, Juli 1984 Maradona berujar, “Saya ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak miskin di Napoli, karena mereka sama dengan saya saat masih kecil di Buenos Aires”.

ADIÓS A DIEGO ARMANDO MARADONA | FOTO:CEDOC

Demikianlah catatan perjalanan seorang anak manusia, perjalanan hamba Tuhan di muka bumi yang tak henti memihak yang lemah dan membebaskan yang teraniaya. Maradona, anak miskin dari Villa Fiorita yang menjadi pemain bola terhebat sepanjang masa, telah menunaikan tugasnya. Meski sebagian menyembahnya seperti Tuhan, Maradona adalah manusia biasa — tersenyum, rapuh, labil, pecandu kokain, playboy dan seorang altruis.

Que En Paz Descanse Diego Armando Maradona!
 
Makassar, 26 November, 2020.

Editor: Dani

Laporkan Konten