in

Pendekar Bahasa Nasional dari Sumbawa

Prof Dr Mahsun MS, dalam acara diskusi yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mataram, Rabu (22/6/2022)

kicknews.today – Tatkala Malaysia mengklaim bahasa Indonesia produk bahasa Melayu, orang yang paling keberatan adalah Prof Dr Mahsun MS. Penolakannya sampai ke telinga ahli-ahli bahasa di negeri jiran itu.

Argumen Mahsun diterima. Melayu adalah induk bahasa Indonesia yang secara resmi dicetuskan pada 28 Oktober 1928. Tetapi pada perkembangannya, bahasa nasional yang semula perbendaharaannya hanya tiga puluhan ribu kosa kata, melejit menjadi hampir 100 ribu kata.

Dalam logika Mahsun, induk atau ibu (bahasa Melayu) telah melahirkan anak bernama bahasa Indonesia. Tetapi bukan berarti sang ibu serta-merta menganggap kekayaan mandiri yang dihasilkan anaknya adalah miliknya. Pada perjalanannya, ibu dan anak menjadi dua individu yang berbeda. Jadi, pernyataan bahwa bahasa Indonesia nama lain dari bahasa Melayu sangat keliru. Apalagi, “Melayu, ibu yang melahirkan bahasa Indonesia, tapi Melayu sendiri tak pernah bunting,” seloroh Mahsun.

Faktanya, di Malaysia sendiri, bahasa Melayu semakin terpuruk. Boleh jadi, kemerosotan itu buah dari kebijakan Mahathir Mohamad yang mengharuskan seluruh pelajaran sains di Malaysia menggunakan bahasa Inggris.

Tahun 1998, Malaysia menerbitkan kamus besar Melayu Nusantara. Lucunya, isinya mengadopsi 62.000 kosa kata bahasa Indonesia. “Kata-kata Bahasa Indonesia dimasukkan semua, juga 300-an kosa kata di Brunei Darussalam,” ucap pakar linguistik ini.

Perkara klaim-mengklaim, Malaysia jagonya. Negeri ini telah berkali-kali ketahuan mengambil alih aset kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Salah satunya kesenian reog. Tapi, ketika mencoba membidik aset bahasa, negeri ini mesti berpikir dua kali. Yang pasti, sampai saat ini, Malaysia mati kutu saat berhadapan dengan Mahsun, sosok “presiden bahasa” kelahiran Jereweh, Sumbawa Barat, 25 September 1959 ini. Alhasil, sampai saat ini banyak peminat bahasa negeri jiran yang berguru pada guru besar FKIP Universitas Mataram (Unram) ini.

Maka sangat tepat ketika negara pernah menempatkan Mahsun sebagai Kepala Pusat Bahasa di masa Pemerintahan SBY — di jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dipimpin Anies Baswedan. Saat masih bertugas itu, lelaki ini mempersembahkan peta bahasa-bahasa di Indonesia kepada Pemerintah RI. Peta yang merangkum sebaran dari 659 bahasa di tanah air yang pernah ditelitinya.

Saat negeri cemas akibat isu Papua dan Maluku yang mengarah pada ancaman disintegrasi, Mahsun pun kembali turun tangan. Media-media asing gencar memberitakan tentang orang-orang dari kedua wilayah yang konon bukan termasuk kelompok Austronesia. Beda dengan warga pribumi pada umumnya.

Saat itu, Mahsun mengusung penelitian bertajuk bahasa dan genom, dengan menggandeng Prof Dr Mulyanto, ahli hepatitis. Perpaduan dua bidang ilmu, yaitu genetika dan linguistik. Mulyanto meneliti melalui persebaran gen virus hepatitis B, sedangkan Mahsun melalui bukti-bukti bahasa.

“Kesimpulan kita, bahwa yang disebut Papua dan Maluku non Austronesia adalah pernyataan politis. Hanya untuk memberi pengakuan kepada kelompok-kelompok RMS dan OPM bahwa mereka berbeda dengan kelompok-kelompok Indonesia lainnya, sehingga mereka layak merdeka,” jelas Mahsun.

Pendekar bahasa itu kini kembali ke kampus. Tetapi ia masih punya misi yang belum tuntas. Sebagai putra NTB, ia ingin mendedikasikan pengetahuannya demi keutuhan tiga etnis asli di provinsi ini. Ketiganya, Sasak, Samawa, dan Mbojo, yang masing-masing memiliki banyak subdialek. Ia sadar, bahasa berpotensi mempersatukan, tapi di lain pihak bisa memecah-belah. Maka, demi persatuan itu, dibutuhkan standarisasi bahasa yang dikukuhkan melalui kongres secara berkala dan sebuah perda yang mengaturnya secara spesifik. (Buyung Sutan Muhlis)

Editor: Awen

Laporkan Konten