in

Inaq Unggul, Jualan Keliling demi Pengobatan Suaminya yang Stroke

kicknews.today – Inaq Unggul, 25 tahun menghadapi kerasnya kehidupan. Berjualan kain songket dan gelang untuk menghidupi keluarganya. membiayai suami yang stroke dan pendidikan ketiga anaknya.

Wanita kelahiran tahun 1976 di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah tersebut tak pernah mengenal kata lelah. Pandemi virus Corona pun tak memutus asanya. Dirinya menjadi saksi tamu-tamu hotel di sekitar daerah wisata Kuta Mandalika mulai berangsur sepi sejak bulan April 2020 lalu.

Biasanya dalam sehari dirinya bisa meraup keuntungan di atas Rp300 ribu. Namun, sejak mewabahnya pandemi virus Corona dengan adanya pembatasan jumlah kunjungan. Pendapatan Inaq Unggul pun menurun drastis.

“Dari pagi tadi sampai malam ini saja belum ada yang laku satu pun. Bahkan pakai ngojek ke Rembitan dari Kuta saja belum ada,” kata wanita lima anak itu, Minggu (22/11) sambil menawarkan gelang kepada salah satu tamu lokal.

Suami menderita stroke

Sejak tahun 2016 lalu cerita dia, suami tercinta menderita stroke. Penyakit itu diderita suaminya semenjak tanah miliknya hendak dibeli oleh salah satu pengusaha di Pantai Kuta Mandalika.

“Jadi tanah itu luasnya sekitar 1,2 hektar. Pihak pengusaha sudah ada kesepakatan untuk membelinya. Tapi apa, ia hanya membayar Rp26 juta. Siapa yang tidak shock,” keluh Unggul.

Padahal kata dia, tanah seluas 1,2 hektar itu satu-satunya warisan yang ditinggalkan orang tua Sirah (60) suami tercinta. Selama itu juga, tanah milik Lirah digarap oleh orang Kuta sendiri. Namun, semenjak ada kabar, bahwa ada pihak pengusaha yang ingin membeli. Perasaan sang suami bergetar bahagia.

“Senang awalnya dulu ada yang mau beli. Tapi apa, sampai sekarang belum dibayar semuanya. Pernah juga pihak kepolisian mengurus kasus itu, tapi apadaya, saya dan suami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya lirih.

Setelah kasus tanahnya tak kunjung dibayar. Sang suami menderita stroke. Kondisi sang suami hingga saat ini tak bisa berjalan dan tak bisa bicara normal seperti sebelumnya.

Kata Unggul, ia pernah membawa Lirah ke salah satu Rumah Sakit di Mataram untuk menjalani perawatan intensif. Namun, nasib berkata lain. Lirah pun tak kunjung sembuh. Bahkan saat ini penyakit Lirah kian parah.

“Waktu itu saya bayar biaya berobatnya sampai Rp8 juta. Dua kali malah saya bawa. Yang keduakalinya saya bayar Rp2,5 juta. Itu pun ngutang sama tetangga,” kata Unggul.

Sampai saat ini, hutang berobat sang suami sebanyak Rp10,5 juta tak kunjung dibayar Unggul. Bagaimana tidak, untuk biaya anak sekolah dan kebutuhan sehari-hari pun Unggul masih kesusahan mencarinya. “Apalagi dengan penghasilan saat ini. Kadang untuk makan aja gak ada,” tuturnya.

Dari kelima anaknya tersebut. Dua di antaranya masih duduk di bangku SMP negeri. “Satunya masih SD kelas V,” jawabnya.

“Kadang mereka bantu saya jualan. Karena kakaknya yang anak pertama dan kedua kan sudah berkeluarga,” akunya.

Selain dibantu jualan oleh anak ketiga, dan keempat. Inak Unggul merasa sedikit terbantu oleh bantuan PKH Pemda Lombok Tengah. Selama menerina PKH kata dia, ia tak lagi kerepotan memikirkan biaya beli beras dan lauk pauk. “Dapat beras dan telur. Ya dicukupinlah. Saya kan makannya cuma sekali di rumah pagi saja,” katanya.

Kadang, jika bantuan PKH yang ia terima habis sebelum tanggalnya. Ia berhutang kepada tetangga untuk membeli makanan. Baik beras dan kebutuhan lainnya. “Kalau gak cukup saya pinjam lagi ke tetangga saya. Kalau gak gitu gak makan dong saya,” katanya.

Ia pun berharap agar suaminya bisa sembuh seperti semula. Selain itu, ia juga berharap agar Pemerintah setempat memberikan biaya pengobatan suami tercinta. Karena selama dua tahun menderita stroke. Sang suami tidak pernah dibantu biaya pengobatan sepeserpun dari pemerintah. “Semoga saja ada yang bantu,” kata wanita yang gemar berbahasa inggris itu.

Kalau pun tidak dibantu dalam upaya penyembuhan sang suami kata Unggul, ia meminta agar Pemerintah bisa membantu memberikan modal usaha baru yang dilakoninya. Karena, membuat gelang membutuhkan modal yang cukup banyak. “Harga benang kan lumayan. Karena buat sendiri gelangnya iya harus ada modal,” katanya.

Selain itu, ia meminta kepada ketiga anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD negeri tersebut tak berhenti sekolah. “Semampu saya akan terus support untuk tetap sekolah. Kalau bisa sampai tamat SMA,” tutur Unggul sambil tersenyum. (Vik)

Editor:

Laporkan Konten